ARAB PRA-ISLAM

http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/

Penyelidikan mengenai sejarah peradaban manusia dan dari mana

pula asal-usulnya, sebenarnya masih ada hubungannya dengan

zaman kita sekarang ini. Penyelidikan demikian sudah lama

menetapkan, bahwa sumber peradaban itu sejak lebih dari enam

ribu tahun yang lalu adalah Mesir. Zaman sebelum itu

dimasukkan orang kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu

sukar sekali akan sampai kepada suatu penemuan yang ilmiah.

Sarjana-sarjana ahli purbakala (arkelogi) kini kembali

mengadakan penggalian-penggalian di Irak dan Suria dengan

maksud mempelajari soal-soal peradaban Asiria dan Funisia

serta menentukan zaman permulaan daripada kedua macam

peradaban itu: adakah ia mendahului peradaban Mesir masa

Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa

itu dan terpengaruh karenanya?

 

Apapun juga yang telah diperoleh sarjana-sarjana arkelogi

dalam bidang sejarah itu, samasekali tidak akan mengubah

sesuatu dari kenyataan yang sebenarnya, yang dalam penggalian

benda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum memperlihatkan

hasil yang berlawanan. Kenyataan ini ialah bahwa sumber

peradaban pertama – baik di Mesir, Funisia atau Asiria – ada

hubungannya dengan Laut Tengah; dan bahwa Mesir adalah pusat

yang paling menonjol membawa peradaban pertama itu ke Yunani

atau Rumawi, dan bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidup

kita sekarang ini, masih erat sekali hubungannya dengan

peradaban pertama itu.

 

Apa yang pernah diperlihatkan oleh Timur Jauh dalam

penyelidikam tentang sejarah peradaban, tidak pernah memberi

pengaruh yang jelas terhadap pengembangan peradaban-peradaban

Fira'un, Asiria atau Yunani, juga tidak pernah mengubah tujuan

dan perkembangan peradaban-peradaban tersebut. Hal ini baru

terjadi sesudah ada akulturasi dan saling-hubungan dengan

peradaban Islam. Di sinilah proses saling

pengaruh-mempengaruhi itu terjadi, proses asimilasi yang sudah

sedemikian rupa, sehingga pengaruhnya terdapat pada peradaban

dunia yang menjadi pegangan umat manusia dewasa ini.

Peradaban-peradaban itu sudah begitu berkembang dan tersebar

ke pantai-pantai Laut Tengah atau di sekitarnya, di Mesir, di

Asiria dan Yunani sejak ribuan tahun yang lalu, yang sampai

saat ini perkembangannya tetap dikagumi dunia: perkembangan

dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam bidang pertanian,

perdagangan, peperangan dan dalam segala bidang kegiatan

manusia. Tetapi, semua peradaban itu, sumber dan

pertumbuhannya, selalu berasal dari agama. Memang benar bahwa

sumber itu berbeda-beda antara kepercayaan trinitas Mesir

Purba yang tergambar dalam Osiris, Isis dan Horus, yang

memperlihatkan kesatuan dan penjelmaan hidup kembali di

negerinya serta hubungan kekalnya hidup dari bapa kepada anak,

dan antara paganisma Yunani dalam melukiskan kebenaran,

kebaikan dan keindahan yang bersumber dan tumbuh dari

gejala-gejala alam berdasarkan pancaindera; demikian sesudah

itu timbul perbedaan-perbedaan yang dengan penggambaran

semacam itu dalam pelbagai zaman kemunduran itu telah

mengantarkannya ke dalam kehidupan duniawi. Akan tetapi sumber

semua peradaban itu tetap membentuk perjalanan sejarah dunia,

yang begitu kuat pengaruhnya sampai saat kita sekarang ini,

sekalipun peradaban demikian hendak mencoba melepaskan diri

dan melawan sumbernya sendiri itu dari zaman ke zaman. Siapa

tahu, hal yang serupa kelak akan hidup kembali.

 

Dalam lingkungan masyarakat ini, yang menyandarkan

peradabannya sejak ribuan tahun kepada sumber agama, dalam

lingkungan itulah dilahirkan para rasul yang membawa

agama-agama yang kita kenal sampai saat ini. Di Mesir

dilahirkan Musa, dan dalam pangkuan Firaun ia dibesarkan dan

diasuh, dan di tangan para pendeta dan pemuka-pemuka agama

kerajaan itu ia mengetahui keesaan Tuhan dan rahasia-rahasia

alam.

Setelah datang ijin Tuhan kepadanya supaya ia membimbing umat

di tengah-tengah Firaun yang berkata kepada rakyatnya: “Akulah

tuhanmu yang tertinggi” iapun berhadapan dengan Firaun sendiri

dan tukang-tukang sihirnya, sehingga akhirnya terpaksa ia

bersama-sama orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina.

Dan di Palestina ini pula dilahirkan Isa, Ruh dan Firman Allah

yang ditiupkan ke dalam diri Mariam. Setelah Tuhan menarik

kembali Isa putera Mariam, murid-muridnya kemudian menyebarkan

agama Nasrani yang dianjurkan Isa itu. Mereka dan

pengikut-pengikut mereka mengalami bermacam-macam

penganiayaan. Kemudian setelah dengan kehendak Tuhan agama ini

tersebar, datanglah Maharaja Rumawi yang menguasai dunia

ketika itu, membawa panji agama Nasrani. Seluruh Kerajaan

Rumawi kini telah menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini di

Mesir, di Syam (Suria-Libanon dan Palestina) dan Yunani, dan

dari Mesir menyebar pula ke Ethiopia. Sesudah itu selama

beberapa abad kekuasaan agama ini semakin kuat juga. Semua

yang berada di bawah panji Kerajaan Rumawi dan yang ingin

mengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan Kerajaan ini,

berada di bawah panji agama Masehi itu.

 

Berhadapan dengan agama Masehi yang tersebar di bawah panji

dan pengaruh Rumawi itu berdiri pula kekuasaan agama Majusi di

Persia yang mendapat dukungan moril di Timur Jauh dan di

India. Selama beberapa abad itu Asiria dan Mesir yang

membentang sepanjang Funisia, telah merintangi terjadinya

suatu pertarungan langsung antara kepercayaan dan peradaban

Barat dengan Timur. Tetapi dengan masuknya Mesir dan Funisia

ke dalam lingkungan Masehi telah pula menghilangkan rintangan

itu. Paham Masehi di Barat dan Majusi di Timur sekarang sudah

berhadap-hadapan muka. Selama beberapa abad berturut-turut,

baik Barat maupun Timur, dengan hendak menghormati agamanya

masing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan alam,

kini telah berhadapan dengan rintangan moril, masing-masing

merasa perlu dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan

kepercayaannya, dan satu sama lain tidak saling mempengaruhi

kepercayaan atau peradabannya, sekalipun peperangan antara

mereka itu berlangsung terus-menerus sampai sekian lama.

Akan tetapi, sekalipun Persia telah dapat mengalahkan Rumawi

dan dapat menguasai Syam dan Mesir dan sudah sampai pula di

ambang pintu Bizantium, namun tak terpikir oleh raja-raja

Persia akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempat

agama Nasrani. Bahkan pihak yang kini berkuasa itu malahan

menghormati kepercayaan orang yang dikuasainya. Rumah-rumah

ibadat mereka yang sudah hancur akibat perang dibantu pula

membangun kembali dan dibiarkan mereka bebas menjalankan

upacara-upacara keagamaannya. Satu-satunya yang diperbuat

pihak Persia dalam hal ini hanyalah mengambil Salib Besar dan

dibawanya ke negerinya. Bilamana kelak kemenangan itu berganti

berada di pihak Rumawi Salib itupun diambilnya kembali dari

tangan Persia. Dengan demikian peperangan rohani di Barat itu

tetap di Barat dan di Timur tetap di Timur. Dengan demikian

rintangan moril tadi sama pula dengan rintangan alam dan kedua

kekuatan itu dari segi rohani tidak saling berbenturan.

 

Keadaan serupa itu berlangsung terus sampai abad keenam. Dalam

pada itu pertentangan antara Rumawi dengan Bizantium makin

meruncing. Pihak Rumawi, yang benderanya berkibar di benua

Eropa sampai ke Gaul dan Kelt di Inggris selama beberapa

generasi dan selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan dunia

dan tetap dibanggakan, kemegahannya itu berangsur-angsur telah

mulai surut, sampai akhirnya Bizantium memisahkan diri dengan

kekuasaan sendiri pula, sebagai ahliwaris Kerajaan Rumawi yang

menguasai dunia itu. Puncak keruntuhan Kerajaan Rumawi ialah

tatkala pasukan Vandal yang buas itu datang menyerbunya dan

mengambil kekuasaan pemerintahan di tangannya. Peristiwa ini

telah menimbulkan bekas yang dalam pada agama Masehi yang

tumbuh dalam pangkuan Kerajaan Rumawi. Mereka yang sudah

beriman kepada Isa itu telah mengalami pengorbanan-pengorbanan

besar, berada dalam ketakutan di bawah kekuasaan Vandal itu.

Mazhab-mazhab agama Masehi ini mulai pecah-belah.Dari zaman ke

zaman mazhab-mazhab itu telah terbagi-bagi ke dalam

sekta-sekta dan golongan-golongan. Setiap golongan mempunyai

pandangan dan dasar-dasar agama sendiri yang bertentangan

dengan golongan lainnya. Pertentangan-pertentangan antara

golongan-golongan satu sama lain karena perbedaan pandangan

itu telah mengakibatkan adanya permusuhan pribadi yang terbawa

oleh karena moral dan jiwa yang sudah lemah, sehingga cepat

sekali ia berada dalam ketakutan, mudah terlibat dalam

fanatisma yang buta dan dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, di

antara golongan-golongan Masehi itu ada yang mengingkari bahwa

Isa mempunyai jasad disamping bayangan yang tampak pada

manusia; ada pula yang mempertautkan secara rohaniah antara

jasad dan ruhnya sedemikian rupa sehingga memerlukan khayal

dan pikiran yang begitu rumit untuk dapat menggambarkannya;

dan disamping itu ada pula yang mau menyembah Mariam,

sementara yang lain menolak pendapat bahwa ia tetap perawan

sesudah melahirkan Almasih.

 

Terjadinya pertentangan antara sesama pengikut-pengikut Isa

itu adalah peristiwa yang biasa terjadi pada setiap umat dan

zaman, apabila ia sedang mengalami kemunduran: soalnya hanya

terbatas pada teori kata-kata dan bilangan saja, dan pada tiap

kata dan tiap bilangan itu ditafsirkan pula dengan

bermacam-macam arti, ditambah dengan rahasia-rahasia, ditambah

dengan warna-warni khayal yang sukar diterima akal dan hanya

dapat dikunyah oleh perdebatan-perdebatan sophisma yang kaku

saja.

 

Salah seorang pendeta gereja berkata: “Seluruh penjuru kota

itu diliputi oleh perdebatan. Orang dapat melihatnya dalam

pasar-pasar, di tempat-tempat penjual pakaian, penukaran uang,

pedagang makanan. Jika ada orang bermaksud hendak menukar

sekeping emas, ia akan terlibat ke dalam suatu perdebatan

tentang apa yang diciptakan dan apa yang bukan diciptakan.

Kalau ada orang hendak menawar harga roti maka akan

dijawabnya: Bapa lebih besar dari putera dan putera tunduk

kepada Bapa. Bila ada orang yang bertanya tentang kolam mandi

adakah airnya hangat, maka pelayannya akan segera menjawab:

“Putera telah diciptakan dari yang tak ada.”

 

Tetapi kemunduran yang telah menimpa agama Masehi sehingga ia

terpecah-belah kedalam golongan-golongan dan sekta-sekta itu

dari segi politik tidak begitu besar pengaruhnya terhadap

Kerajaan Rumawi. Kerajaan itu tetap kuat dan kukuh.

Golongan-golongan itupun tetap hidup dibawah naungannya dengan

tetap adanya semacam pertentangan tapi tidak sampai orang

melibatkan diri kedalam polemik teologi atau sampai memasuki

pertemuan-pertemuan semacam itu yang pernah diadakan guna

memecahkan sesuatu masalah. Suatu keputusan yang pernah

diambil oleh suatu golongan tidak sampai mengikat golongan

yang lain. Dan Kerajaanpun telah pula melindungi semua

golongan itu dan memberi kebebasan kepada mereka mengadakan

polemik, yang sebenarnya telah menambah kuatnya kekuasaan

Kerajaan dalam bidang administrasi tanpa mengurangi

penghormatannya kepada agama. Setiap golongan jadinya

bergantung kepada belas kasihan penguasa, bahkan ada dugaan

bahwa golongan itu menggantungkan diri kepada adanya pengakuan

pihak yang berkuasa itu.

Sikap saling menyesuaikan diri di bawah naungan Imperium itu

itulah pula yang menyebabkan penyebaran agama Masehi tetap

berjalan dan dapat diteruskan dari Mesir dibawah Rumawi sampai

ke Ethiopia yang merdeka tapi masih dalam lingkungan

persahabatan dengan Rumawi. Dengan demikian ia mempunyai

kedudukan yang sama kuat di sepanjang Laut Merah seperti di

sekitar Laut Tengah itu. Dari wilayah Syam ia menyeberang ke

Palestina. Penduduk Palestina dan penduduk Arab Ghassan yang

pindah ke sana telah pula menganut agama itu, sampai ke pantai

Furat, penduduk Hira, Lakhmid dan Mundhir yang berpindah dari

pedalaman sahara yang tandus ke daerah-daerah subur juga

demikian, yang selanjutnya mereka tinggal di daerah itu

beberapa lama untuk kemudian hidup di bawah kekuasaan Persia

Majusi.

 

Dalam pada itu kehidupan Majusi di Persia telah pula mengalami

kemunduran seperti agama Masehi dalam Imperium Rumawi. Kalau

dalam agama Majusi menyembah api itu merupakan gejala yang

paling menonjol, maka yang berkenaan dengan dewa kebaikan dan

kejahatan pengikut-pengikutnya telah berpecah-belah juga

menjadi golongan-golongan dan sekta-sekta pula. Tapi disini

bukan tempatnya menguraikan semua itu. Sungguhpun begitu

kekuasaan politik Persia tetap kuat juga. Polemik keagamaan

tentang lukisan dewa serta adanya pemikiran bebas yang

tergambar dibalik lukisan itu, tidaklah mempengaruhinya.

Golongan-golongan agama yang berbeda-beda itu semua berlindung

di bawah raja Persia. Dan yang lebih memperkuat pertentangan

itu ialah karena memang sengaja digunakan sebagai suatu cara

supaya satu dengan yang lain saling berpukulan, atas dasar

kekuatiran, bila salah satunya menjadi kuat, maka Raja atau

salah satu golongan itu akan memikul akibatnya.

Orang-orang Yahudi di negeri-negeri Arab merupakan kaum

imigran yang besar, kebanyakan mereka tinggal di Yaman dan

Yathrib. Di samping itu kemudian agama Majusi (Mazdaisma)

Persia tegak menghadapi arus kekuatan Kristen supaya tidak

sampai menyeberangi Furat (Euphrates) ke Persia, dan kekuatan

moril demikian itu didukung oleh keadaan paganisma di mana

saja ia berada. Jatuhnya Rumawi dan hilangnya kekuasaan yang

di tangannya, ialah sesudah pindahnya pusat peradaban dunia

itu ke Bizantium.

Gejala-gejala kemunduran berikutnya ialah bertambah banyaknya

sekta-sekta Kristen yang sampai menimbulkan pertentangan dan

peperangan antara sesama mereka. Ini membawa akibat merosotnya

martabat iman yang tinggi ke dalam kancah perdebatan tentang

bentuk dan ucapan, tentang sampai di mana kesucian Mariam:

adakah ia yang lebih utama dari anaknya Isa Almasih atau anak

yang lebih utama dari ibu – suatu perdebatan yang terjadi di

mana-mana, suatu pertanda yang akan membawa akibat hancurnya

apa yang sudah biasa berlaku.

Ini tentu disebabkan oleh karena isi dibuang dan kulit yang

diambil, dan terus menimbun kulit itu di atas isi sehingga

akhirnya mustahil sekali orang akan dapat melihat isi atau

akan menembusi timbunan kulit itu.

Apa yang telah menjadi pokok perdebatan kaum Nasrani Syam,

lain lagi dengan yang menjadi perdebatan kaum Nasrani di Hira

dan Abisinia. Dan orang-orang Yahudipun, melihat hubungannya

dengan orang-orang Nasrani, tidak akan berusaha mengurangi

atau menenteramkan perdebatan semacam itu. Oleh karena itu

sudah wajar pula orang-orang Arab yang berhubungan dengan kaum

Nasrani Syam dan Yaman dalam perjalanan mereka pada musim

dingin atau musim panas atau dengan orang-orang Nasrani yang

datang dari Abisinia, tetap tidak akan sudi memihak salah satu

di antara golongan-golongan itu. Mereka sudah puas dengan

kehidupan agama berhala yang ada pada mereka sejak mereka

dilahirkan, mengikuti cara hidup nenek-moyang mereka.

Oleh karena itu, kehidupan menyembah berhala itu tetap subur

di kalangan mereka, sehingga pengaruh demikian inipun sampai

kepada tetangga-tetangga mereka yang beragama Kristen di

Najran dan agama Yahudi di Yathrib, yang pada mulanya

memberikan kelonggaran kepada mereka, kemudian turut

menerimanya. Hubungan mereka dengan orang-orang Arab yang

menyembah berhala untuk mendekatkan diri kepada Tuhan itu

baik-baik saja.

Yang menyebabkan orang-orang Arab itu tetap bertahan pada

paganismanya bukan saja karena ada pertentangan di antara

golongan-golongan Kristen. Kepercayaan paganisma itu masih

tetap hidup di kalangan bangsa-bangsa yang sudah menerima

ajaran Kristen. Paganisma Mesir dan Yunani masih tetap

berpengaruh ditengah-tengah pelbagai mazhab yang beraneka

macam dan di antara pelbagai sekta-sekta Kristen sendiri.

Aliran Alexandria dan filsafat Alexandria masih tetap

berpengaruh, meskipun sudah banyak berkurang dibandingkan

dengan masa Ptolemies dan masa permulaan agama Masehi.

Bagaimanapun juga pengaruh itu tetap merasuk ke dalam hati

mereka. Logikanya yang tampak cemerlang sekalipun pada

dasarnya masih bersifat sofistik – dapat juga menarik

kepercayaan paganisma yang polytheistik, yang dengan

kecintaannya itu dapat didekatkan kepada kekuasaan manusia.

Saya kira inilah yang lebih kuat mengikat jiwa yang masih

lemah itu pada paganisma, dalam setiap zaman, sampai saat kita

sekarang ini. Jiwa yang lemah itu tidak sanggup mencapai

tingkat yang lebih tinggi, jiwa yang akan menghubungkannya

pada semesta alam sehingga ia dapat memahami adanya kesatuan

yang menjelma dalam segala yang lebih tinggi, yang sublim dari

semua yang ada dalam wujud ini, menjelma dalam Wujud Tuhan

Yang Maha Esa. Kepercayaan demikian itu hanya sampai pada

suatu manifestasi alam saja seperti matahari, bulan atau api

misalnya. Lalu tak berdaya lagi mencapai segala yang lebih

tinggi, yang akan memperlihatkan adanya manifestasi alam dalam

kesatuannya itu.

Bagi jiwa yang lemah ini cukup hanya dengan berhala saja. Ia

akan membawa gambaran yang masih kabur dan rendah tentang

pengertian wujud dan kesatuannya. Dalam hubungannya dengan

berhala itu lalu dilengkapi lagi dengan segala gambaran kudus,

yang sampai sekarang masih dapat kita saksikan di seluruh

dunia, sekalipun dunia yang mendakwakan dirinya modern dalam

ilmu pengetahuan dan sudah maju pula dalam peradaban. Misalnya

mereka yang pernah berziarah ke gereja Santa Petrus di Roma,

mereka melihat kaki patung Santa Petrus yang didirikan di

tempat itu sudah bergurat-gurat karena diciumi oleh

penganut-penganutnya, sehingga setiap waktu terpaksa gereja

memperbaiki kembali mana-mana yang rusak.

Melihat semua itu kita dapat memaklumi. Mereka belum nmendapat

petunjuk Tuhan kepada iman yang sebenarnya Mereka melihat

pertentangan-pertentangan kaum Kristen yang menjadi tetangga

mereka serta cara-cara hidup paganisma yang masih ada pada

mereka, di tengah-tengah mereka sendiri yang masih menyembah

berhala itu sebagai warisan dari nenek-moyang mereka. Betapa

kita tak akan memaafkan mereka. Situasi demikian ini sudah

begitu berakar di seluruh dunia, tak putus-putusnya sampai

saat ini, dan saya kira memang tidak akan pernah berakhir.

Kaum Muslimin dewasa inipun membiarkan paganisma itu dalam

agama mereka, agama yang datang hendak menghapus paganisma,

yang datang hendak menghilangkan segala penyembahan kepada

siapa saja selain kepada Allah Yang Maha Esa.

Cara-cara penyembahan berhala orang-orang Arab dahulu itu

banyak sekali macamnya. Bagi kita yang mengadakan penyelidikan

dewasa ini sukar sekali akan dapat mengetahui seluk-beluknya.

Nabi sendiri telah menghancurkan berhala-berhala itu dan

menganjurkan para sahabat menghancurkannya di mana saja

adanya. Kaum Muslimin sudah tidak lagi bicara tentang itu

sesudah semua yang berhubungan dengan pengaruh itu dalam

sejarah dan lektur dihilangkan. Tetapi apa yang disebutkan

dalam Quran dan yang dibawa oleh ahli-ahli sejarah dalam abad

kedua Hijrah – sesudah kaum Muslimin tidak lagi akan tergoda

karenanya – menunjukkan, bahwa sebelum Islam paganisma dalam

bentuknya yang pelbagai macam, mempunyai tempat yang tinggi.

Di samping itu menunjukkan pula bahwa kekudusan

berhala-berhala itu bertingkat-tingkat adanya. Setiap kabilah

atau suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat penyembahan.

Sesembahan-sesembahan zaman jahiliah inipun berbeda-beda pula

antara sebutan shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub.

Shanam ialah dalam bentuk manusia dibuat dari logam atau kayu,

Wathan demikian juga dibuat dari batu, sedang nushub adalah

batu karang tanpa suatu bentuk tertentu. Beberapa kabilah

melakukan cara-cara ibadahnya sendiri-sendiri. Mereka

beranggapan batu karang itu berasal dari langit meskipun

agaknya itu adalah batu kawah atau yang serupa itu. Di antara

berhala-berhala yang baik buatannya agaknya yang berasal dari

Yaman. Hal ini tidak mengherankan. Kemajuan peradaban mereka

tidak dikenal di Hijaz, Najd atau di Kinda. Sayang sekali,

buku-buku tentang berhala ini tidak melukiskan secara

terperinci bentuk-bentuk berhala itu, kecuali tentang Hubal

yang dibuat dari batu akik dalam bentuk manusia, dan bahwa

lengannya pernah rusak dan oleh orang-orang Quraisy diganti

dengan lengan dari emas. Hubal ini ialah dewa orang Arab yang

paling besar dan diletakkan dalam Ka'bah di Mekah. Orang-orang

dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu.

Tidak cukup dengan berhala-berhala besar itu saja buat

orang-orang Arab guna menyampaikan sembahyang dan memberikan

kurban-kurban, tetapi kebanyakan mereka itu mempunyai pula

patung-patung dan berhala-berhala dalam rumah masing-masing.

Mereka mengelilingi patungnya itu ketika akan keluar atau

sesudah kembali pulang, dan dibawanya pula dalam perjalanan

bila patung itu mengijinkan ia bepergian. Semua patung itu,

baik yang ada dalam Ka'bah atau yang ada disekelilingnya,

begitu juga yang ada di semua penjuru negeri Arab atau

kabilah-kabilah dianggap sebagai perantara antara penganutnya

dengan dewa besar. Mereka beranggapan penyembahannya kepada

dewa-dewa itu sebagai pendekatan kepada Tuhan dan menyembah

kepada Tuhan sudah mereka lupakan karena telah menyembah

berhala-berhala itu.

Meskipun Yaman mempunyai peradaban yang paling tinggi di

antara seluruh jazirah Arab, yang disebabkan oleh kesuburan

negerinya serta pengaturan pengairannya yang baik, namun ia

tidak menjadi pusat perhatian negeri-negeri sahara yang

terbentang luas itu, juga tidak menjadi pusat keagamaan

mereka. Tetapi yang menjadi pusat adalah Mekah dengan Ka'bah

sebagai rumah Ismail. Ke tempat itu orang berkunjung dan ke

tempat itu pula orang melepaskan pandang. Bulan-bulan suci

sangat dipelihara melebihi tempat lain

Oleh karena itu, dan sebagai markas perdagangan jazirah Arab

yang istimewa, Mekah dianggap sebagai ibukota seluruh jazirah.

Kemudian takdirpun menghendaki pula ia menjadi tanah kelahiran

Nabi Muhammad, dan dengan demikian ia menjadi sasaran

pandangan dunia sepanjang zaman. Ka'bah tetap disucikan dan

suku Quraisy masih menempati kedudukan yang tinggi, sekalipun

mereka semua tetap sebagai orang-orang Badwi yang kasar sejak

berabad-abad lamanya.

Catatan kaki:

1 Dikutip oleh Sir Muir dalam The Life of Mohammad, p.xc.

2 Cerita demikian terdapat dalam beberapa buku sejarah.

Encylopedia Britannica juga menyebutnya, dan dikutip oleh

penulis-penulis buku Historian's History of the World dan juga

dijadikan pegangan oleh Emile Derminghem dalam la Vie de

Mahomet. Akan tetapi At-Tabari menceritakan melalui Hisyam ibn

Muhammad bahwa setelah orang Yaman itu pergi meminta bantuan

Najasyi atas perbuatan Dhu Nuwas serta menjelaskan apa yang

telah dilakukannya terhadap orang-orang Kristen oleh pembela

agama Yahudi itu dan memperlihatkan sebuah Injil yang sudah

sebagian dimakan api, Najasyi berkata: “Tenaga manusia di sini

banyak, tapi aku tidak punya kapal. Sekarang aku menulis surat

kepada Kaisar supaya mengirimkan kapal dan dengan itu akan

kukirimkan pasukanku.” Lalu ia menulis surat kepada Kaisar

dengan melampirkan Injil yang sudah terbakar. Dan menambahkan:

“Hisyam ibn Muhammad menduga, bahwa setelah kapal-kapal itu

sampai ke tempat Najasyi, pasukannyapun dinaikkan dan

berangkat ke pantai Mandab.” Lihat Tarikh't-Tabari cetakan

Al-Husainia, vol. 2, p. 106 dan 108.

3 Beberapa keterangan dalam buku-buku sejarah berbeda-beda

tentang sebab penyerbuan Abisinia (Habasya) ini ke Yaman.

Keterangan itu mengatakan, bahwa hubungan dagang antara Arab

Musta'riba di Hijaz dengan Yaman dan Abisinia terus

berlangsung. Pada waktu itu pantai-pantai Habasya membentang

sepanjang Laut Merah lengkap dengan armada perdagangannya.

Karena kekayaan dan kesuburannya, Kerajaan Rumawi ingin sekali

menguasai Yaman. Aelius Galius penguasa (prefek) Kaisar Rumawi

di Mesir mengadakan persiapan. akan menyerbu Yaman. Pasukannya

dikerahkan menyeberangi Laut Merah ke Yaman dan juga menyerang

Najran. Tetapi karena adanya penyakit yang menyerang mereka.

Orang-orang Yaman mudah sekali mengusir mereka itu dan

merekapun kembali ke Mesir. Sesudah itupun Rumawõ

berturut-turut menyerang jazirah Arab di Yaman dan di luar

Yaman, tapi kenyataannya tidak lebih menguntungkan dan yang

pernah dilakukan oleh Galius. Saat itu Najasyi di Abisinia

merasa perlu mengadakan pembalasan terhadap Yaman yang telah

memaksakan agama Yahudi terhadap orangorang Rumawi yang

beragama Kristen. Pasukan Aryat dikerahkan menyerbu Yaman dan

berkuasa di tempat itu sampai pada waktu Persia datang

mengusir mereka.

———————————————

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s