MEKAH KA’BAH DAN QURAISY

Letak Mekah – Ibrahim dan Ismail – Kisah penyembelihan

dan penebusan – Zamzam – Perkawinan Ismail dengan

Jurhum – Pembangunan Ka'bah – Mekah di bawah Jurhum –

Qushay dan anak-anaknya – Mekah di tangan Qushay –

Hasyim dan Abdul Muttalib – Tugas-tugas duniawi dan

agama di Mekah – Berhaji ke Mekah – Kisah Abraha dan

gajah – Abdullah bin Abdul Muttalib – Kisah

penebusannya.

DI TENGAH-TENGAH jalan kafilah yang berhadapan dengan Laut

Merah – antara Yaman dan Palestina – membentang bukit-bukit

barisan sejauh kira-kira delapanpuluh kilometer dari pantai.

Bukit-bukit ini mengelilingi sebuah lembah yang tidak begitu

luas, yang hampir-hampir terkepung samasekali oleh bukit-bukit

itu kalau tidak dibuka oleh tiga buah jalan: pertama jalan

menuju ke Yaman, yang kedua jalan dekat Laut Merah di

pelabuhan Jedah, yang ketiga jalan yang menuju ke Palestina.

Dalam lembah yang terkepung oleh bukit-bukit itulah terletak

Mekah. Untuk mengetahui sejarah dibangunnya kota ini sungguh

sukar sekali. Mungkin sekali ia bertolak ke masa ribuan tahun

yang lalu. Yang pasti, lembah itu digunakan sebagai tempat

perhentian kafilah sambil beristirahat, karena di tempat itu

terdapat sumber mata air. Dengan demikian rornbongan kafilah

itu membentangkan kemah-kemah mereka, baik yang datang dari

jurusan Yaman menuju Palestina atau yang datang dari Palestina

menuju Yaman. Mungkin sekali Ismail anak Ibrahim itu orang

pertama yang menjadikannya sebagai tempat tinggal, yang

sebelum itu hanya dijadikan tempat kafilah lalu saja dan

tempat perdagangan secara tukar-menukar antara yang datang

dari arah selatan jazirah dengan yang bertolak dari arah

utara.

Kalau Ismail adalah orang pertama yang menjadikan Mekah

sebagai tempat tinggal, maka sejarah tempat ini sebelum itu

gelap sekali. Mungkin dapat juga dikatakan, bahwa daerah ini

dipakai tempat ibadat juga sebelum Ismail datang dan menetap

di tempat itu. Kisah kedatangannya ketempat itupun memaksa

kita membawa kisah Ibrahim a.s. secara ringkas.

Ibrahim dilahirkan di Irak (Chaldea) dari ayah seorang tukang

kayu pembuat patung. Patung-patung itu kemudian dijual kepada

masyarakatnya sendiri, lalu disembah. Sesudah ia remaja betapa

ia melihat patung-patung yang dibuat oleh ayahnya itu kemudian

disembah oleh masyarakat dan betapa pula mereka memberikan

rasa hormat dan kudus kepada sekeping kayu yang pernah

dikerjakan ayahnya itu. Rasa syak mulai timbul dalam hatinya.

Kepada ayahnya ia pernah bertanya, bagaimana hasil kerajinan

tangannya itu sampai disembah orang?

Kemudian Ibrahim menceritakan hal itu kepada orang lain.

Ayahnyapun sangat memperhatikan tingkah-laku anaknya itu;

karena ia kuatir hal ini akan rnenghancurkan perdagangannya.

Ibrahim sendiri orang yang percaya kepada akal pikirannya. Ia

ingin membuktikan kebenaran pendapatnya itu dengan

alasan-alasan yang dapat diterima. Ia mengambil kesempatan

ketika orang sedang lengah. Ia pergi menghampiri sang dewa,

dan berhala itu dihancurkan, kecuali berhala yang paling

besar. Setelah diketahui orang, mereka berkata kepadanya:

“Engkaukah yang melakukan itu terhadap dewa-dewa kami, hai

Ibrahim?” Dia menjawab: “Tidak. Itu dilakukan oleh yang paling

besar diantara mereka. Tanyakanlah kepada mereka, kalau memang

mereka bisa bicara.” (Qur'an, 21: 62-63)

Ibrahim melakukan itu sesudah ia memikirkan betapa sesatnya

mereka menyembah berhala, sebaliknya siapa yang seharusnya

mereka sembah.

“Bila malam sudah gelap, dilihatnya sebuah bintang. Ia

berkata: Inilah Tuhanku. Tetapi bilamana bintang itu kemudian

terbenam, iapun berkata: 'Aku tidak menyukai segala yang

terbenam.' Dan setelah dilihatnya bulan terbit, iapun berkata:

'Inilah Tuhanku.' Tetapi bilamana bulan itu kemudian terbenam,

iapun berkata: 'Kalau Tuhan tidak memberi petunjuk kepadaku,

pastilah aku akan jadi sesat.' Dan setelah dilihatnya matahari

terbit, iapun berkata: 'Ini Tuhanku. Ini yang lebih besar.'

Tetapi bilamana matahari itu juga kemudian terbenam, iapun

berkata: 'Oh kaumku. Aku lepas tangan terhadap apa yang kamu

persekutukan itu. Aku mengarahkan wajahku hanya kepada yang

telah menciptakan semesta langit dan bumi ini. Aku tidak

termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan.” (Qur'an 6: 76-79)

Ibrahim tidak berhasil mengajak masyarakatnya itu. Malah

sebagai balasan ia dicampakkan ke dalam api. Tetapi Tuhan

masih menyelamatkannya. Ia lari ke Palestina bersama isterinya

Sarah. Dari Palestina mereka meneruskan perjalanan ke Mesir.

Pada waktu itu Mesir di bawah kekuasaan raja-raja Amalekit

(Hyksos).

Sarah adalah seorang wanita cantik. Pada waktu itu raja-raja

Hyksos biasa mengambil wanita-wanita bersuami yang

cantik-cantik. Ibrahim memperlihatkan, seolah Sarah adalah

saudaranya. Ia takut dibunuh dan Sarah akan diperisterikan

raja. Dan raja memang bermaksud akan memperisterikannya.

Tetapi dalam tidurnya ia bermimpi bahwa Sarah bersuami.

Kemudian dikembalikan kepada Ibrahim sambil dimarahi. Ia

diberi beberapa hadiah di antaranya seorang gadis belian

bernama Hajar- Olelm karena Sarah sesudah bertahun-tahun

dengan Ibrahim belum juga beroleh keturunan, maka oleh Sarah

disuruhnya ia bergaul dengan Hajar, yang tidak lama kemudian

telah beroleh anak, yaitu Ismail. Sesudah Ismail besar

kemudian Sarahpun beroleh keturunan, yaitu Ishaq.

Beberapa ahli berselisih pendapat tentang penyembelihan Ismail

serta kurban yang telah dipersembahkan oleh Ibrahim. Adakah

sebelum kelahiran Ishaq atau sesudahnya? Adakah itu terjadi di

Palestina atau di Hijaz? Ahli-ahli sejarah Yahudi berpendapat,

bahwa yang disembelih itu adalah Ishaq, bukan Ismail. Disini

kita bukan akan menguji adanya perselisihan pendapat itu.

Dalam Qishash'l-Anbia' Syaikh Abd'l Wahhab an-Najjar

berpendapat, bahwa yang disembelih itu adalah Ismail.

Argumentasi ini diambilnya dari Taurat sendiri bahwa yang

disembelih itu dilukiskan sebagai anak Ibrahim satu-satunya.

Pada waktu itu Ismail adalah anak satu-satunya sebelum Ishaq

dilahirkan. Setelah Sarah melahirkan, maka anak Ibrahim tidak

lagi tunggal, melainkan sudah ada Ismail dan Ishaq. Dengan

mengambil cerita itu seharusnya kisah penyembelihan dan

penebusan itu terjadi di Palestina. Hal ini memang bisa

terjadi demikian kalau yang dimaksudkan itu terjadi terhadap

diri Ishaq. Selama itu Ishaq dengan ibunya hanya tinggal di

Palestina, tidak pernah pergi ke Hijaz. Akan tetapi cerita

yang mengatakan bahwa penyembelihan dan penebusan itu terjadi

diatas bukit Mina, maka ini tentu berlaku terhadap diri

Ismail. Oleh karena di dalam Qur'an tidak disebutkan nama

person korban itu, maka ahli-ahli sejarah kaum Muslimin

berlain-lainan pendapat.

Tentang pengorbanan dan penebusan itu kisahnya ialah bahwa

Ibrahim bermimpi, bahwasanya Tuhan memerintahkan kepadanya

supaya anaknya itu dipersembahkan sebagai kurban dengan

menyembelihnya. Pada suatu pagi berangkatlah ia dengan

anaknya. “Bila ia sudah mencapai usia cukup untuk berusaha, ia

(Ibrahim) berkata: 'O anakku, dalam tidur aku bermimpi, bahwa

aku menyembelihmu. Lihatlah, bagaimanakah pendapatmu?' Ia

menjawab: 'Wahai ayahku. Lakukanlah apa yang diperintahkan

kepadamu. Jika dikehendaki Tuhan, akan kaudapati aku dalam

kesabaran.' Setelah keduanya menyerahkan diri dan

dibaringkannya ke sebelah keningnya, ia Kami panggil: 'Hai

Ibrahim. Engkau telah melaksanakan mimpi itu.' Dengan begitu,

Kami memberikan balasan kepada mereka yang berbuat kebaikan.

Ini adalah suatu ujian yang nyata. Dan kami menebusnya dengan

sebuah kurban besar.” (Qur'an, 37: 103-107)

Beberapa cerita melukiskan kisah ini dalam bentuk puisi yang

indah sekali, sehingga disini perlu kita kemukakan, sekalipun

tidak membawa kisah tentang Mekah. Kisahnya, setelah Ibrahim

bermimpi dalam tidurnya bahwa ia harus menyembelih anaknya dan

memastikan bahwa itu adalah perintah Tuhan, ia berkata kepada

anaknya itu: 'Anakku, bawalah tali dan parang itu, mari kita

pergi ke bukit mencari kayu untuk keluarga kita.' Anak itupun

menurut perintah ayahnya. Ketika itu datang setan dalam bentuk

seorang laki-laki, mendatangi ibu anak itu seraya berkata:

'Tahukah engkau ke mana Ibrahim membawa anakmu?' 'Ia pergi

mencari kayu dari lereng bukit itu,' jawab ibunya. 'Tidak,'

kata setan lagi, 'ia pergi akan menyembelihnya.' Ibu itu

menjawab lagi: 'Tidak. Ia lebih sayang kepada anaknya.' 'Ia

mendakwakan bahwa Tuhan yang memerintahkan itu.'

'Kalau itu memang perintah Tuhan biarkan dia menaati

perintahNya,' jawab ibu itu. Setan itu lalu pergi dengan

perasaan kecewa. Ia segera menyusul anak yang sedang mengikuti

ayahnya itu. Kepada anak itupun ia berkata seperti terhadap

ibunya tadi. Tapi jawabannyapun sama dengan jawaban ibunya

juga. Kemudian setan mendatangi Ibrahim dan mengatakan, bahwa

mimpinya itu hanya tipu-muslihat setan supaya ia menyembelih

anaknya dan akhirnya akan menyesal. Tetapi oleh Ibrahim ia

ditinggalkan dan dilaknatnya. Dengan rasa jengkel Iblis itu

mundur teratur, karena maksudnya tidak berhasil, baik dari

Ibrahim, dari isterinya atau dari anaknya.

Kemudian itu Ibrahim menyatakan kepada anaknya tentang

mimpinya itu dan minta pendapatnya. 'Ayah, lakukanlah apa yang

diperintahkan.' Lalu katanya lagi dalam ballada itu: 'Ayah,

kalau ayah akan menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya

darahku nanti tidak kena ayah dan akan mengurangi pahalaku.

Aku tidak menjamin bahwa aku takkan gelisah bila dilaksanakan.

Tajamkanlah parang itu supaya dapat sekaligus memotongku. Bila

ayah sudah merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku

dan jangan dimiringkan. Aku kuatir bila ayah kelak melihat

wajahku ayah akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud

ayah melaksanakan perintah Tuhan itu. Kalau ayah berpendapat

akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan

baginya, lakukanlah, ayah.'

'Anakku,' kata Ibrahim, 'ini adalah bantuan besar dalam

melaksanakan perintah Allah.'

Kemudian ia siap melaksanakan. Diikatnya kuat-kuat tangan anak

itu lalu dibaringkan keningnya untuk disembelih. Tetapi

kemudian ia dipanggil: 'Hai Ibrahim! Engkau telah melaksanakan

mimpi itu.' Anak itu kemudian ditebusnya dengan seekor domba

besar yang terdapat tidak jauh dari tempat itu. Lalu

disembelihnya dan dibakarnya.

Demikianlah kisah penyembelihan dan penebusan itu. Ini adalah

kisah penyerahan secara keseluruhan kepada kehendak Allah.

Ishaq telah menjadi besar disamping Ismail. Kasih-sayang ayah

sama terhadap keduanya. Akan tetapi Sarah menjadi gusar

melihat anaknya itu dipersamakan dengan anak Hajar dayangnya

itu. Ia bersumpah tidak akan tinggal bersama-sama dengan Hajar

dan anaknya tatkala dilihatnya Ismail memukul adiknya itu.

Ibrahim merasa bahwa hidupnya takkan bahagia kalau kedua

wanita itu tinggal dalam satu tempat. Oleh karena itu pergilah

ia dengan Hajar dan anak itu menuju ke arah selatan. Mereka

sampai ke suatu lembah, letak Mekah yang sekarang. Seperti

kita sebutkan di atas, lembah ini adalah tempat para kafilah

membentangkan kemahnya pada waktu mereka berpapasan dengan

kafilah dari Syam ke Yaman, atau dari Yaman ke Syam. Tetapi

pada waktu itu adalah saat yang paling sepi sepanjang tahun.

Ismail dan ibunya oleh Ibrahim ditinggalkan dan

ditinggalkannya pula segala keperluannya. Hajar membuat sebuah

gubuk tempat ia berteduh dengan anaknya. Dan Ibrahimpun

kembali ke tempat semula.

Sesudah kehabisan air dan perbekalan, Hajar melihat ke kanan

kiri. Ia tidak melihat sesuatu. Ia terus berlari dan turun ke

lembah mencari air. Dalam berlari-lari itu – menurut cerita

orang – antara Shafa dan Marwa, sampai lengkap tujuh kali, ia

kembali kepada anaknya dengan membawa perasaan putus asa.

Tetapi ketika itu dilihatnya anaknya sedang mengorek-ngorek

tanah dengan kaki, yang kemudian dari dalam tanah itu keluar

air. Dia dan Ismail dapat melepaskan dahaga. Disumbatnya mata

air itu supaya jangan mengalir terus dan menyerap ke dalam

pasir.

Anak yang bersama ibunya itu membantu orang-orang Arab yang

sedang dalam perjalanan, dan merekapun mendapat imbalan yang

akan cukup menjamin hidup mereka sampai pada musim kafilah

yang akan datang.

Mata air yang memancar dari sumur Zamzam itu menarik hati

beberapa kabilah akan tinggal di dekat tempat itu. Beberapa

keterangan mengatakan, bahwa kabilah Jurhum adalah yang

pertama sekali tinggal di tempat itu, sebelum datang Hajar dan

anaknya. Sementara yang lain berpendapat, bahwa mereka tinggal

di tempat itu setelah adanya sumber sumur Zamzam, sehingga

memungkinkan mereka hidup di lembah gersang itu.

Ismail sudah semakin besar, dan kemudian ia kawin dengan gadis

kabilah Jurhum. Ia dengan isterinya tinggal bersama-sama

keluarga Jurhum yang lain. Di tempat itu rumah suci sudah

dibangun, yang kemudian berdiri pula Mekah sekitar tempat itu.

Juga disebutkan bahwa pada suatu hari Ibrahim minta ijin

kepada Sarah akan mengunjungi Ismail dan ibunya. Permintaan

ini disetujui dan ia pergi. Setelah ia mencari dan menemui

rumah Ismail ia bertanya kepada isterinya: “Mana suamimu?”

“Ia sedang berburu untuk hidup kami,” jawabnya.

Kemudian ditanya lagi, dapatkah ia menjamu makanan atau

minuman, dijawab bahwa dia tidak mempunyai apa-apa untuk

dihidangkan.

Ibrahim pergi, setelah mengatakan: “Kalau suamimu datang

sampaikan salamku dan katakan kepadanya: “Ganti ambang

pintumu.”

Setelah pesan ayahnya itu kemudian disampaikan kepada Ismail,

ia segera menceraikan isterinya, dan kemudian kawin lagi

dengan wanita Jurhum lainnya, puteri Mudzadz bin 'Amr. Wanita

ini telah menyambut Ibrahim dengan baik setelah beberapa waktu

kemudian ia pernah datang. “Sekarang ambang pintu rumahmu

sudah kuat,” (kata Ibrahim).

Dari perkawinan ini Ismail mempunyai duabelas orang anak, dan

mereka inilah yang menjadi cikal-bakal Arab al-Musta'-riba,

yakni orang-orang Arab yang bertemu dari pihak ibu pada Jurhum

dengan Arab al-'Ariba keturunan Ya'rub ibn Qahtan. Sedang ayah

mereka, Ismail anak Ibrahim, dari pihak ibunya erat sekali

bertalian dengan Mesir, dan dari pihak bapa dengan Irak

(Mesopotamia) dan Palestina, atau kemana saja Ibrahim

menginjakkan kaki.

Orang-orang Arab masih selalu ingat kepada sumur Zamzam yang

telah dicetuskan oleh Mudzadz bin Amr beberapa abad yang lalu.

Menjadi harapan mereka selalu andaikata sumur itu masih tetap

ada. Dan sesuai dengan kedudukannya Abd'l-Muttalib pun tentu

lebih banyak lagi memikirkan dam mengharapkan hal itu.

Demikian kerasnya keinginan itu hingga terbawa dalam tidurnya

seolah ada suara gaib menyuruhnya menggali kembali sumur yang

pernah menyembur di kaki Ismail neneknya dulu itu. Demikian

mendesaknya suara itu dengan menunjukkan sekali letak sumur

itu. Dan diapun memang gigih sekali ingin mencari letak Zamzam

tersebut, sampai achirnya diketemukannya juga, yaitu terletak

antara dua patung: Isaf dan Na'ila.

Ia terus mengadakan penggalian, dibantu oleh anaknya, Harith.

Waktu itu tiba-tiba air membersit dan dua pangkal pelana emas

dan pedang Mudzadz mulai tampak. Sementara itu orang-orang

lalu mau mencampuri Abd'l-Muttalib dalam urusan sumur itu

serta apa yang terdapat di dalamnya. Akan tetapi

Abd'l-Muttalib berkata:

“Tidak! Tetapi marilah kita mengadakan pembagian, antara aku

dengan kamu sekalian. Kita mengadu nasib dengan permainan

qid-h (anak panah). Dua anak panah buat Ka'bah, dua buat aku

dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, ia mendapat

bagian, kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa.”

Usul ini disetujui. Lalu anak-anak panah itu diberikan kepada

juru qid-h yang biasa melakukan itu di tempat Hubal di

tengah-tengah Ka'bah. Anak panah Quraisy ternyata tidak

keluar. Sekarang pedang-pedang itu buat Abd'l-Muttalib dan dua

buah pangkal pelana emas buat Ka'bah. Pedang-pedang itu oleh

Abd'l-Muttalib dipasang di pintu Ka'bah, sedang kedua pelana

emas dijadikan perhiasan dalam Rumah Suci itu. Abd'l Muttalib

meneruskan tugasnya mengurus air untuk keperluan tamu, sesudah

sumur Zamzam dapat berjalan lancar.

Karena tidak banyak anak, Abd'l-Muttalib di tengah-tengah

masyarakatnya sendiri itu merasa kekurangan tenaga yang akan

dapat membantunya. Ia bernadar; kalau sampai beroleh sepuluh

anak laki-laki kemudian sesudah besar-besar tidak beroleh anak

lagi seperti ketika ia menggali sumur Zamzam dulu, salah

seorang di antaranya akan disembelih di Ka'bah sebagai kurban

untuk Tuhan. Tepat juga anaknya yang laki-laki akhirnya

mencapai sepuluh orang dan takdirpun menentukan pula sesudah

itu tidak beroleh anak lagi.

Dipanggilnya semua anak-anaknya dengan maksud supaya dapat

memenuhi nadarnya. Semua patuh. Sebagai konsekwensi

kepatuhannya itu setiap anak menuliskan namanya masing-masing

di atas qid-h (anak panah). Kemudian semua itu diambilnya oleh

Abd'l-Muttalib dan dibawanya kepada juru qid-h di tempat

berhala Hubal di tengah-tengah Ka'bah.

Apabila sedang menghadapi kebingungan yang luarbiasa,

orang-orang Arab masa itu lalu minta pertolongan juru qid-h

supaya memintakan kepada Maha Dewa Patung itu dengan jalan

(mengadu nasib) melalui qid-h. Abdullah bin Abd'l-Muttalib

adalah anaknya yang bungsu dan yang sangat dicintai.

Setelah juru qid-h mengocok anak panah yang sudah dicantumi

nama-nama semua anak-anak yang akan menjadi pilihan dewa Hubal

untuk kemudian disembelih oleh sang ayah, maka yang keluar

adalah nama Abdullah. Dituntunnya anak muda itu oleh

Abd'l-Muttalib dan dibawanya untuk disembelih ditempat yang

biasa orang-orang Arab melakukan itu di dekat Zamzam yang

terletak antara berhala Isaf dengan Na'ila.

Tetapi saat itu juga orang-orang Quraisy serentak sepakat

melarangnya supaya jangan berbuat, dan atas pembatalan itu

supaya memohon ampun kepada Hubal. Sekalipun mereka begitu

mendesak, namun Abd'l-Muttalib masih ragu-ragu juga.

Ditanyakannya kepada mereka apa yang harus diperbuat supaya

sang berhala itu berkenan. Mughira bin Abdullah dari suku

Makhzum berkata: “Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan

harta kita, kita tebuslah.”

Setelah antara mereka diadakan perundingan, mereka sepakat

akan pergi menemui seorang dukun di Jathrib yang sudah biasa

memberikan pendapat dalam hal semacam ini. Dalam pertemuan

mereka dengan dukun wanita itu kepada mereka dimintanya supaya

menangguhkan sampai besok.

“Berapa tebusan yang ada pada kalian?” tanya sang dukun.

“Sepuluh ekor unta.”

“Kembalilah ke negeri kamu sekalian,” kata dukun itu.

“Sediakanlah tebusan sepuluh ekor unta. Kemudian keduanya itu

diundi dengan anak panah. Kalau yang keluar itu atas nama anak

kamu, ditambahlah jumlah unta itu sampai dewa berkenan.”

Merekapun menyetujui.

Setelah yang demikian ini dilakukan ternyata anak panah itu

keluar atas nama Abdullah juga. Ditambahnya jumlah unta itu

sampai mencapai jumlah seratus ekor. Ketika itulah anak panah

keluar atas nama unta itu. Sementara itu orang-orang Quraisy

berkata kepada Abd'l-Muttalib – yang sedang berdoa kepada

tuhannya: “Tuhan sudah berkenan.”

“Tidak,” kata Abd'l-Muttalib. “Harus kulakukan sampai tiga

kali.” Tetapi sampai tiga kali dikocok anak panah itupun tetap

keluar atas nama unta itu juga. Barulah Abd'l-Muttalib merasa

puas setelah ternyata sang dewa berkenan. Disembelihnya unta

itu dan dibiarkannya begitu tanpa dijamah manusia atau

binatang.

Dengan begitu itulah buku-buku biografi melukiskan.

Digambarkannya beberapa macam adat-istiadat orang Arab,

kepercayaan serta cara-cara mereka melakukan upacara

kepercayaan itu. Hal ini menunjukkan sekaligus betapa mulianya

kedudukan Mekah dengan Rumah Sucinya itu di tengah-tengah

tanah Arab. At-Tabari menceritakan – sehubungan dengan kisah

penebusan ini – bahwa pernah ada seorang wanita Islam bernadar

bahwa bila maksudnya terlaksana dalam melakukan sesuatu, ia

akan menyembelih anaknya. Ternyata kemudian maksudnya

terkabul. Ia pergi kepada Abdullah bin Umar. Orang ini tidak

memberikan pendapat. Kemudian ia pergi kepada Abdullah bin

Abbas yang ternyata memberikan fatwa supaya ia menyembelih

seratus ekor unta, seperti halnya dengan penebusan Abdullah

anak Abd'l-Muttalib. Tetapi Marwan – penguasa Medinah ketika

itu – merasa heran sekali setelah mengetahui hal itu. “Nadar

tidak berlaku dalam suatu perbuatan dosa,” katanya.

Kedudukan Mekah dengan status Rumah Sucinya itu menyebabkan

beberapa daerah lain yang jauh-jauh juga membuat rumah-rumah

ibadat sendiri-sendiri, dengan maksud mengalihkan perhatian

orang dari Mekah dan Rumah Sucinya. Di Hira pihak Ghassan

mendirikan rumah suci, Abraha al-Asyram membangun rumah suci

di Yaman. Tetapi bagi orang Arab itu tak dapat menggantikan

Rumah Suci yang di Mekah, juga tak dapat memalingkan mereka

dari Kota Suci itu. Bahkan sampai demikian rupa Abraha

menghiasi rumah sucinya yang di Yaman, dengan membawa

perlengkapan yang paling mewah yang kira-kira akan menarik

orang-orang Arab – bahkan orang-orang Mekah sendiri – ke

tempat itu.

Akan tetapi setelah ternyata bahwa tujuan orang-orang Arab itu

hanya Rumah Purba itu juga, dan orang-orang Yaman sendiripun

meninggalkan rumah yang dibangunnya itu serta menganggap

ziarah mereka tidak sah kalau tidak ke Mekah, maka sekarang

tak ada jalan lain bagi penguasa Negus itu kecuali ia harus

menghancurkan rumah Ibrahim dan Ismail itu. Dengan pasukan

yang besar didatangkan dari Abisinia dia sudah mempersiapkan

perang dan dia sendiri di depan sekali di atas seekor gajah

besar.

Tatkala pihak Arab mendengar hal itu, besar sekali

kekuatirannya akan akibat yang mungkin ditimbulkan karenanya.

Suatu hal yang luarbiasa bagi mereka, kedatangan seorang

laki-laki Abisinia akan menghancurkan rumah suci mereka dan

tempat berhala-berhala mereka. Seorang laki-laki bernama

Dhu-Nafar – salah seorang bangsawan dan terpandang di Yaman –

tampil ke depan mengerahkan masyarakatnya dan orang Arab

lainnya yang bersedia berjuang melawan Abraha serta maksudnya

yang hendak menghancurkan Baitullah. Tetapi dia tak dapat

menghalangi Abraha. Malah dia sendiri terpukul dan menjadi

tawanan. Nasib yang demikian itu juga yang menimpa Nufail bin

Habib al-Khath'ami ketika ia mengerahkan masyarakatnya dari

kabilah Syahran dan Nahis, malah dia sendiri yang tertawan,

yang kemudian menjadi anggota pasukannya dan menjadi penunjuk

jalan. Ketika Abraha sampai di Ta'if penduduk tempat itu

mengatakan, bahwa rumah suci mereka bukanlah rumah suci yang

dimaksudkan Abraha. Itu adalah rumah Lat. Kemudian ia diantar

oleh orang-orang yang bersedia menunjukkan jalan ke Mekah.

Bila Abraha sudah mendekati Mekah dikirimnya pasukan berkuda

sebagai kurir. Dari Tihama mereka dapat membawa harta benda

Quraisy dan yang lain-lain, di antaranya seratus ekor unta

kepunyaan Abd'l-Muttalib bin Hasyim. Pada mulanya orang-orang

Quraisy bermaksud mengadakan perlawanan. Tapi kemudian

berpendapat, bahwa mereka takkan mampu. Sementara itu Abraha

sudah mengirimkan salah seorang pengikutnya sebagai utusan

bernama Hunata dan Himyar untuk menemui pemimpin Mekah. Ia

diantar menghadap Abd'l-Muttalib bin Hasyim, dan kepadanya ia

menyampaikan pesan Abraha, bahwa kedatangannya bukan akan

berperang melainkan akan menghancurkan Baitullah. Kalau Mekah

tidak mengadakan perlawanan tidak perlu ada pertumpahan darah.

Begitu Abd'l-Muttalib mendengar, bahwa mereka tidak bermaksud

berperang, ia pergi ke markas pasukan Abraha bersama Hunata,

bersama anak-anaknya dan beberapa pemuka Mekah lainnya.

Kedatangan delegasi Abd'l-Muttalib ini disambut baik oleh

Abraha, dengan menjanjikan akan mengembalikan unta

Abd'l-Muttalib. Akan tetapi segala pembicaraan mengenai Ka'bah

serta supaya menarik kembali maksudnya yang hendak

menghancurkan tempat suci itu ditolaknya belaka. Juga tawaran

delegasi Mekah yang akan mengalah sampai sepertiga harta

Tihama baginya, ditolak. Abd'l-Muttalib dan rombongan kembali

ke Mekah. Dinasehatkannya supaya orang meninggalkan tempat itu

dan pergi ke lereng-lereng bukit, menghindari Abraha dan

pasukannya yang akan memasuki kota suci dan menghancurkan

Rumah Purba itu.

BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY (4/4)

Muhammad Husain Haekal

Malam gelap gelita tatkala mereka memikirkan akan meninggalkan

kota itu dan di mana pula akan tinggal. Malam itulah

Abd'l-Muttalib pergi dengan beberapa orang Quraisy, berkumpul

sekeliling pintu Ka'bah. Dia bermohon, mereka pun bermohon

minta bantuan berhala-berhala terhadap agresor yang akan

menghancurkan Baitullah itu.

Ketika mereka sudah pergi dan seluruh Mekah sunyi dan tiba

waktunya bagi Abraha mengerahkan pasukannya menghancurkan

Ka'bah dan sesudah itu akan kembali ke Yaman, ketika itu pula

wabah cacar datang berkecamuk menimpa pasukan Abraha dan

membinasakan mereka. Serangan ini hebat sekali, belum pernah

dialami sebelumnya. Barangkali kuman-kuman wabah itu yang

datang dibawa angin dari jurusan laut, dan. menular menimpa

Abraha sendiri. Ia merasa ketakutan sekali. Pasukannya

diperintahkan pulang kembali ke Yaman, dan mereka yang tadinya

menjadi penunjuk jalan sudah lari, dan ada pula yang mati.

Bencana wabah ini makin hari makin mengganas dan

anggota-anggota pasukan yang mati sudah tak terbilang lagi

banyaknya.

Sampai juga Abraha ke Shan'a' tapi badannya sudah dihinggapi

penyakit. Tidak berselang lama kemudian diapun mati seperti

anggota pasukannya yang lain. Dan dengan demikian orang Mekah

mencatatnya sebagai Tahun Gajah. Dan ini yang diabadikan dalam

Qur'an:

“Tidakkah kau perhatikan, bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap

pasukan orang-orang bergajah? Bukankah Dia gagalkan rencana

mereka? Dan dilepaskan di atas mereka pasukan-pasukan burung.

Melempari mereka dengan batu yang keras membakar. Sehingga

mereka seperti daun-daun kering yang binasa berserakan. “(

Qur'an 105: 1-4)

Peristiwa yang luarbiasa ini lebih memperkuat kedudukan Mekah

dalam arti agama, di samping itu telah memperkuat pula

kedudukannya dalam arti perdagangan. Juga menyebabkan

penduduknya lebih banyak memperhatikan dan memelihara

kedudukan yang tinggi dan istimewa itu serta mempertahankannya

dari segala usaha yang akan mengurangi arti atau akan

menye,rang kota ini. Orang-orang Mekah lebih bersemangat lagi

mempertahankan kota mereka, mengingat kehidupan yang mereka

peroleh karenanya, hidup makmur dan mewah sejauh yang dapat

kita bayangkan kemewahan hidup mereka di daerah padang-pasir

ini, gersang dan tandus.

Kegemaran penduduk daerah ini yang luarbiasa ialah minum

nabidh (minuman keras). Dalam keadaan mabuk itu mereka

menemukan suatu kenikmatan yang tak ada taranya! Suatu

kenikmatan yang akan memudahkan mereka melampiaskan hawa

nafsu, akan menjadikan dayang-dayang dan budak-budak belian

yang diperjual-belikan sebagai barang dagangan itu lebih

memikat hati mereka. Yang demikian ini mendorong semangat

mereka mempertahankan kebebasan pribadi dan kebebasan kota

mereka serta kesadaran mempertahankan kemerdekaan dan

menangkis segala serangan yang mungkin datang dari musuh. Yang

paling enak bagi mereka bersenang-senang waktu malam sambil

minum-minum hanyalah di pusat kota sekeliling bangunan Ka'bah.

Di tempat itu – di samping tiga ratus buah berhala atau lebih,

masing-masing kabilah dengan berhalanya – pembesar-pembesar

Quraisy dan pemuka-pemuka Mekah duduk-duduk; masing-masing

menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan keadaan

pedalaman, dengan Yaman, orang-orang Mundhir di Hira dan

orang-orang Ghassan di Suria, tentang datangnya kafilah serta

lalu-lintas orang-orang pedalaman.

Kejadian demikian itu sampai kepada mereka dalam bentuk

cerita, dari suatu kabilah kepada kabilah yang lain. Setiap

kabilah mempunyai “pemancar” dan “pesawat radio” yang menerima

berita-berita kemudian disiarkan kembali. Masing-masing

membawa cerita yang ada hubungannya dengan berita-berita orang

pedalaman, kisah-kisah tetangga dan handai-tolan sambil

minum-minum nabidh. Dan sesudah mereka bermalam suntuk di

Ka'bah mereka menyiapkan diri untuk hal yang sama guna lebih

memuaskan kehendak hawa-nafsu. Dengan mata batu permata

berhala-berhala itu menjenguk melihat kepada mereka yang

sedang berdagang itu, dan mereka merasa mendapat perlindungan,

karena Ka'bah itu dijadikan Rumah Suci dan Mekah menjadi kota

aman sentosa. Demikian juga berhala-berhala mendapat jaminan

mereka, bahwa tak seorangpun Ahli Kitab akan memasuki Mekah

kecuali tenaga kerja yang takkan bicara tentang agama atau

kitabnya.

Itulah sebabnya di sana tak ada koloni-koloni Yahudi seperti

di Jathrib atau Nasrani seperti di Najran. Bahkan :Ka'bah yang

dijadikan tempat paganisma yang paling suci ketika itu mereka

lindungi dari semua yang akan menghinanya, dan merekapun

berlindung ke sana dari segala serangan. Begitulah seterusnya

Mekah itu bebas berdiri sendiri, seperti kabilah-kabilah Arab

yang bebas pula berdiri sendiri-sendiri. Mereka tidak mau

kalau kebebasannya itu diganti, dan mereka tidak pedulikan

cara hidup lain selain kebebasannya ini di bawah perlindungan

berhala-berhala. Masing-masing kabilah tidak pula terganggu,

dan tidak pula terpikir oleh mereka akan mengadakan suatu

kesatuan bangsa yang kuat, seperti yang dilakukan oleh Rumawi

dan Persia dalam meluaskan kekuasaan dan melakukan peperangan.

Oleh karena itu tetaplah kabilah-kabilah itu semua tidak

mempunyai sesuatu bentuk apapun selain cara-cara hidup

pedalaman, tempat mereka mencari padang rumput untuk ternak,

kemudian hidup di tengah-tengah itu dengan cara hidup yang

kasar, tertarik oleh segala kebebasan, kemerdekaan, kebanggaan

dan kepahlawanan.

Pada dasarnya tempat-tempat tinggal di Mekah mengelilingi

lingkungan Ka'bah. Jauh dekatnya rumah-rumah itu dari Ka'bah

tergantung dari penting dan tingginya kedudukan sesuatu

keluarga atau suku. Kaum Quraisy adalah yang terdekat letaknya

dan paling banyak berhubungan dengan Rumah Suci itu. Merekalah

yang memegang kuncinya dan kepengurusan air Zamzam, juga

segala gelar-gelar kebangsawanan menurut paganisma ada pada

mereka, yang sampai menimbulkan perang karenanya, menyebabkan

adanya persekutuan, atau perjanjian-perjanjian perdamaian

antar kabilah, yang tetap tersimpan di dalam Ka'bah, supaya

dapat disaksikan oleh sang berhala untuk kemudian menurunkan

murkanya bagi mereka yang melanggar.

Di belakang rumah-rumah Quraisy itu menyusul pula rumah0rumah

kabilah yang agak kurang penting kedudukannya, diikuti oleh

yang lebih rendah lagi, sampai kepada tempat-tempat tinggal

kaum budak dan sebangsa kaum gelandangan. Termasuk umat

Kristen dan Yahudi di Mekah, seperti kita sebutkan tadi –

adalah juga budak. Tempat-tempat tinggal mereka jauh dari

Ka'bah malah sudah berbatasan dengan sahara. Oleh karena itu

percakapan mereka tentang kisah-kisah agama, baik Kristen atau

Yahudi, tidak sampai mendekati telinga pemuka-pemuka Quraisy

dan penduduk Mekah umumnya. Letak mereka yang lebih jauh itu

benar-benar membuat mereka lebih rapat lagi menutup telinga.

Mereka tidak mau menyibukkan diri dengan itu. Dalam perjalanan

mereka melalui biara-biara dan tempat-tempat para rahib sudah

biasa mereka mendengar cerita serupa itu.

Hanya saja apa yang sudah mulai diperkatakan orang tentang

akan datangnya seorang nabi di tengah-tengah orang Arab waktu

itu, sudah cukup menimbulkan heboh. Abu Sufyan pernah marah

kepada Umayya bin Abi'sh-Shalt karena arang ini sering

mengulang-ulang cerita para rahib tentang hal serupa itu. Dan

barangkali sesuai dengan kedudukan Abu Sufyan juga ketika itu

ketika ia berkata kepada kawannya itu: Para rahib itu suka

membawa cerita semacam itu karena mereka tidak mengerti soal

agama mereka sendiri. Mereka memerlukan sekali adanya seorang

nabi yang akan memberi petunjuk kepada mereka. Tetapi kita

yang sudah punya berhala-berhala, yang akan mendekatkan kita

kepada Tuhan, tidak memerlukan lagi hal serupa itu. Kita harus

menentang semua pembicaraan semacam itu.

Dapat saja ia bicara begitu. Dia, yang begitu fanatik kepada

Mekah dan kehidupan paganismanya, tak pernah membayangkan

bahwa saatnya sudah di ambang pintu, bahwa kenabian Muhammad

a.s. sudah dekat dan bahwa dari tanah Arab pagan yang beraneka

ragam itu cahaya Tauhid dan sinar kebenaran akan memancar ke

seluruh dunia.

Abdullah bin Abd'l-Muttalib sebenarnya adalah pemuda yang

berwajah tampan dan menarik. Menarik perhatian gadis-gadis dan

wanita-wanita Mekah. Lebih-lebih lagi yang menarik perhatian

mereka ialah kisah penebusan, dan kisah seratus ekor unta yang

tidak mau diterima oleh Hubal kurang dari itu. Tetapi takdir

sudah menentukan Abdullah akan menjadi seorang ayah yang

paling mulia yang pernah dikenal sejarah. Demikian juga Aminah

bint Wahb akan menjadi ibu bagi anak Abdullah itu. Ia kawin

dengan wanita itu dan selang beberapa bulan kemudian iapun

meninggal. Tak ada lagi penebusan berupa apapun yang akan

melepaskan dia dari maut. Tinggal lagi Aminah kemudian akan

melahirkan Muhammad dan akan mati semasa yang dilahirkan itu

masih bayi.

Pada gambar berikut ini silsilah keturunan Nabi yang

menerangkan perkiraan tahun-tahun kelahiran mereka

masing-masing.

SILSILAH MUHAMMAD SAW

                            Qushayy
                          (lahir 400M)
                               |
        +----------------------+----------------------+
        |                      |                      |
  'Abd'l-'Uzza            'Abd Manaf             'Abd'd-Dar
        |                (lahir 430M)
        |                      |
        |           +----------+-----------+----------+
      Asad          |          |           |          |
        |       Muttalib    Hasyim       Naufal   'Abd Syams
        |                (lahir 464M)                 |
    Khuwailid                  |                    Umayya
        |               'Abd'l-Muttalib               |
   +----+----+            (lahir 497M)               Harb
   |         |                 |                      |
'Awwam   Khadijah              |                  Abu Sufyan
   |                           |                      |
 Zubair                        |                   Mu'awiya
                               |
   +--------+----------+-------+--+-----------+----------+
   |        |          |          |           |          |
Hamzah   'Abbas   'Abdullah   Abu Lahab   Abu Talib   Harith
                 (lahir 545M)                 |
                       |           +----------+----------+
                       |           |          |          |
                   MUHAMMAD     'Aqil       'Ali       Ja'far
                 (lahir 570M)      |          |
                                   |      +---+---+
                                   |      |       |
                                Muslim  Hasan  Husain

 

Catatan kaki:

1 Kaum Sabian yang dimaksudkan di sini bukan yang dimaksudkan

dalam Qur'an (2: 62), yaitu sekta Nasrani yang berpegang pada

Taurat dan Injil yang belum mengalami perubahan, melainkan

orang-orang Harran yang disebut oleh Ibn Taimia sebagai pusat

golongan ini dan sebagai tempat kelahiran Ibrahim atau tempat

ia pindah dan Irak (Mesopotamia). Di tempat ini terdapat

kuil-kuil tempat menyembah bintang-bintang. Kepercayaan mereka

ini sebelum datangnya agama Nasrani. Setelah datang Agama

Nasrani, kepercayaan mereka menjadi campur-baur dan dikenal

sebagai pseudo-Sabian. (Dikutip oleh al-Qasimi dalam

Mahasin't-Ta'wil, jilid 2 hal. 154-147). Juga mereka tidak

sama dengan kaum Sabaean yang berasal dari Saba di Arab

Selatan.

———————————————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s