NABI MUHAMMAD SAW DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR BIN KHATTAB

Percakapan Khadijah dengan Waraqa b. Naufal – Wahyu

terhenti – Islamnya Abu Bakr – Muslimin yang mula-mula

– Ajakan Muhammad kepada keluarganya – Quraisy

menghasut penyair-penyairnya terhadap Muhammad –

Muhammad menista dewa-dewa Quraisy – Utusan Quraisy

kepada Abu Talib – Kedudukan Muhammad terhadap

pamannya – Quraisy menyiksa kaum Muslimin – Kaum

Muslimin hijrah ke Abisinia – Islamnya Umar.

MUHAMMAD sedang tidur. Khadijah menatapnya dengan hati penuh

kasih dan harapan, kasih dan harapan terhadap orang yang tadi

mengajaknya bicara itu.

Setelah dilihatnya ia tidur nyenyak, nyenyak dan tenang

sekali, ditinggalkannya orang itu perlahan-lahan. Ia keluar,

dengan pikiran masih pada orang itu, orang yang pernah

menggoncangkan hatinya. Pikirannya pada hari esok, pada hari

yang akan memberikan harapan baik kepadanya. Harapannya, suami

itu akan menjadi nabi atas umat, yang kini tengah hanyut dalam

kesesatan. Ia akan membimbing mereka dengan ajaran agama yang

benar serta akan membawa mereka ke jalan yang lurus. Tetapi,

sungguhpun begitu, menghadapi masa yang akan datang, ia merasa

kuatir sekali, kuatir akan nasib suami yang setia dan penuh

kasih-sayang itu. Dibayangkannya dalam hatinya apa yang telah

diceritakan kepadanya itu. Dibayangkannya itu malaikat yang

begitu indah, yang memperlihatkan diri di angkasa, setelah

menyampaikan wahyu Tuhan kepadanya dan yang kemudian memenuhi

seluruh ruangan itu. Selalu ia melihat malaikat itu kemana

saja ia mengalihkan muka. Khadijah masih mengulangi kata-kata

yang dibacakan dan sudah terpateri dalam dada Muhammad itu.

 

Semua itu dibentangkan kembali oleh Khadijah di depan mata

hatinya Kadang terkembang senyum di bibir, karena suatu

harapan; kadang kecut juga rasanya, karena takut akan nasib

yang mungkin akan menimpa diri al-Amin kelak.

 

Tidak tahan ia tinggal seorang diri lama-lama. Pikirannya

berpindah-pindah dari harapan yang manis sedap kepada

kesangsian dan harap-harap cemas. Terpikir olehnya akan

mencurahkan segala isi hatinya itu kepada orang yang sudah

dikenalnya bijaksana dan akan dapat memberikan nasehat.

 

Untuk itu, kemudian ia pergi menjumpai saudara sepupunya (anak

paman), Waraqa b. Naufal. Seperti sudah disebutkan, Waraqa

adalah seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal

Bible dan sudah pula menterjemahkannya sebagian ke dalam

bahasa Arab. Ia menceritakan apa yang pernah dilihat dan

didengar Muhammad dan menceritakan pula apa yang dikatakan

Muhammad kepadanya, dengan menyebutkan juga rasa kasih dan

harapan yang ada dalam dirinya. Waraqa menekur sebentar,

kemudian katanya: “Maha Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang

memegang hidup Waraqa. Khadijah, percayalah, dia telah

menerima Namus Besar1 seperti yang pernah diterima Musa. Dan

sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya

tetap tabah.”

 

Khadijah pulang. Dilihatnya Muhammad masih tidur. Dipandangnya

suaminya itu dengan rasa kasih dan penuh ikhlas, bercampur

harap dan cemas. Dalam tidur yang demikian itu, tiba-tiba ia

menggigil, napasnya terasa sesak dengan keringat yang sudah

membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya

malaikat datang membawakan wahyu kepadanya:

 

“O orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan peringatan.

Dan agungkan Tuhanmu. Pakaianmupun bersihkan. Dan hindarkan

perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima

lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu.” (Qur'an 74:

17)

 

Dipandangnya ia oleh Khadijah, dengan rasa kasih yang lebih

besar. Didekatinya ia perlahan-lahan seraya dimintanya, supaya

kembali ia tidur dan beristirahat.

 

“Waktu tidur dan istirahat sudah tak ada lagi, Khadijah,”

jawabnya. “Jibril membawa perintah supaya aku memberi

peringatan kepada umat manusia, mengajak mereka, dan supaya

mereka beribadat hanya kepada Allah. Tapi siapa yang akan

kuajak? Dan siapa pula yang akan mendengarkan?”

 

Khadijah berusaha menenteramkan hatinya. Cepat-cepat ia

menceritakan apa yang didengarnya dari Waraqa tadi. Dengan

penuh gairah dan bersemangat sekali kemudian ia menyatakan

dirinya beriman atas kenabiannya itu. Sudah sewajarnya apabila

Khadijah cepat-cepat percaya kepadanya. Ia sudah mengenalnya

benar. Selama hidupnya laki-laki itu selalu jujur, orang

berjiwa besar ia dan selalu berbuat kebaikan dengan penuh rasa

kasih-sayang. Selama dalam tahannuth, dilihatnya betapa besar

kecenderungannya kepada kebenaran, dan hanya kebenaran

semata-mata. Ia mencari kebenaran itu dengan persiapan jiwa,

kalbu dan pikiran yang sudah begitu tinggi, membubung

melampaui jangkauan yang akan dapat dibayangkan manusia,

manusia yang menyembah patung dan membawakan kurban-kurban ke

sana; mereka yang menganggap bahwa itu adalah tuhan yang dapat

mendatangkan bencana dan keuntungan. Mereka membayangkan,

bahwa itu patut disembah dan diagungkan. Wanita itu sudah

melihatnya betapa benar ia pada tahun-tahun masa tahannuth

itu. Juga ia melihatnya betapa benar keadaannya tatkala

pertama kali ia kembali dari gua Hira', sesudah kerasulannya.

Ia bingung sekali. Dimintanya oleh Khadijah, apabila malaikat

itu nanti datang supaya diberitahukan kepadanya.

 

Bilamana kemudian Muhammad melihat malaikat itu datang,

didudukannya ia oleh Khadijah di paha kirinya, kemudian di

paha kanan dan di pangkuannya. Malaikat itupun masih juga

dilihatnya. Khadijah menghalau dan mencampakkan tutup mukanya.

Waktu itu tiba-tiba Muhammad tidak lagi melihatnya. Khadijah

tidak ragu lagi bahwa itu adalah malaikat, bukan setan.

 

Sesudah peristiwa itu, pada suatu hari Muhammad pergi akan

mengelilingi Ka'bah. Di tempat itu Waraqa b. Naufal

menjumpainya. Sesudah Muhammad menceritakan keadaannya, Waraqa

berkata: “Demi Dia Yang memegang hidup Waraqa. Engkau adalah

Nabi atas umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar seperti

yang pernah disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan

didustakan orang, akan disiksa, akan diusir dan akan

diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti

aku akan membela yang di pihak Allah dengan pembelaan yang

sudah diketahuiNya pula.” Lalu Waraqa mendekatkan kepalanya

dan mencium ubun-ubun Muhammad. Muhammadpun segera merasakan

adanya kejujuran dalam kata-kata Waraqa itu, dan merasakan

pula betapa beratnya beban yang harus menjadi tanggungannya.

 

Sekarang ia jadi memikirkan, bagaimana akan mengajak Quraisy

supaya turut beriman; padahal ia tahu benar mereka sangat kuat

mempertahankan kebatilan itu. Mereka bersedia berperang dan

mati untuk itu. Ditambah lagi mereka masih sekeluarga dan

sanak famili yang dekat.

 

Sungguhpun begitu, tetapi mereka dalam kesesatan. Sedang apa

yang dianjurkannya kepada mereka, itulah yang benar. Ia

mengajak mereka, agar jiwa dan hati nurani mereka dapat lebih

tinggi sehingga dapat berhubungan dengan Allah Yang telah

menciptakan mereka dan menciptakan nenek-moyang mereka; agar

mereka beribadat hanya kepadaNya, dengan penuh ikhlas, dengan

jiwa yang bersih, untuk agama. Ia mengajak mereka supaya

mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan yang

baik, dengan memberikan kepada orang berdekatan, hak-hak

mereka, begitu juga kepada orang yang dalam perjalanan; agar

mereka menjauhkan diri dari menyembah batu-batu yang mereka

buat jadi berhala yang menurut dugaan mereka akan mengampuni

segala dosa mereka dari perbuatan angkara-murka yang mereka

lakukan, dari menjalankan riba dan memakan harta anak piatu.

Penyembahan mereka demikian itu membuat jiwa dan hati mereka

lebih keras dan lebih membatu dari patung-patung itu. Ia

memperingatkan mereka agar mereka mau melihat ciptaan Tuhan

yang ada di langit dan di bumi; supaya semua itu menjadi

tamsil dalam jiwa mereka serta kemudian menyadari betapa

dahsyat dan agungnya semua itu. Dengan kesadaran demikian

mereka akan memahami kebesaran undang-undang Ilahi yang

berlaku di langit dan di bumi. Selanjutnya, dengan ibadatnya

itu akan memahami pula kebesaran Al Khalik Pencipta alam

semesta ini, Yang Tunggal, tiada bersekutu. Dengan demikian

mereka akan lebih tinggi, akan lebih luhur Mereka akan diisi

oleh rasa kasih-sayang terhadap mereka yang belum mendapat

petunjuk Tuhan, dan akan berusaha ke arah itu. Mereka akan

berlaku baik terhadap semua anak piatu, terhadap semua orang

yang malang dan lemah. Ya! Ke arah itulah Tuhan

memerintahkannya, supaya ia mengajak mereka.

 

Akan tetapi, itu jantung yang sudah begitu keras, jiwa yang

sudah begitu kaku, sudah jadi kering dalam menyembah berhala

seperti yang dilakukan oleh nenek-moyang mereka dahulu. Di

tempat itu mereka berdagang, dan membuat Mekah menjadi pusat

kunjungan penyembah berhala! Akan mereka tinggalkankah agama

nenek-moyang mereka dan mereka lepaskan kedudukan kota mereka

yang berarti suatu bahaya bilamana sudah tak ada lagi orang

yang akan menyembah berhala? Lalu bagaimana pula akan

membersihkan jiwa serupa itu dan melepaskan diri dari noda

hawa-nafsu, hawa-nafsu yang akan menjerumuskan mereka, sampai

kepada nafsu kebinatangannya, padahal dia sudah memperingatkan

manusia supaya mengatasi nafsunya, menempatkan diri di atas

berhala-berhala itu? Kalau mereka sudah tidak mau percaya

kepadanya, apalagi yang harus ia lakukan? Inilah yang menjadi

masalah besar itu.

Ia sedang menantikan bimbingan wahyu dalam menghadapi

masalahnya itu, menantikan adanya penyuluh yang akan menerangi

jalannya. Tetapi, wahyu itu sekarang terputus! Jibrilpun tidak

datang lagi kepadanya. Tempat di sekitarnya jadi sunyi, bisu.

Ia merasa terasing dari orang, dan dari dirinya. Kembali ia

merasa dalam ketakutan seperti sebelum turunnya wahyu. Konon

Khadijah pernah mengatakan kepadanya: “Mungkin Tuhan tidak

menyukai engkau.”

 

Ia masih dalam ketakutan. Perasaan ini juga yang mendorongnya

lagi akan pergi ke bukit-bukit dan menyendiri lagi dalam gua

Hira'. Ia ingin membubung tinggi dengan seluruh jiwanya,

menghadapkan diri kepada Tuhan, akan menanyakan: Kenapa ia

lalu ditinggalkan sesudah dipilihNya? Kecemasan Khadijahpun

tidak pula kurang rasanya.

 

Ia mengharap mati benar-benar kalau tidak karena merasakan

adanya perintah yang telah diberikan kepadanya. Kembali lagi

ia kepada dirinya, kemudian kepada Tuhannya. Konon katanya:

Pernah terpikir olehnya akan membuang diri dari atas Hira'

atau dari atas puncak gunung Abu Qubais. Apa gunanya lagi

hidup kalau harapannya yang besar ini jadi kering lalu

berakhir?

 

Sementara ia sedang dalam kekuatiran demikian itu – sesudah

sekian lama terhenti – tiba-tiba datang wahyu membawa firman

Tuhan:

 

“Demi pagi cerah yang gemilang. Dan demi malam bila senyap

kelam. Tuhanmu tidak meninggalkan kau, juga tidak merasa

benci. Dan sungguh, hari kemudian itu lebih baik buat kau

daripada yang sekarang. Dan akan segera ada pemberian dari

Tuhan kepadamu. Maka engkaupun akan bersenang hati. Bukankah

Ia mendapati kau seorang piatu, lalu diberiNya tempat

berlindung? Dan Ia mendapati kau tak tahu jalan, lalu

diberiNya kau petunjuk? Karena itu, terhadap anak piatu,

jangan kau bersikap bengis. Dan tentang orang yang meminta,

jangan kau tolak. Dan tentang kurnia Tuhanmu, hendaklah kau

sebarkan.”(Qur'an, 93: 1-11)

 

Maha Mulia Allah. Betapa damainya itu dalam jiwa. Betapa

gembira dalam hati! Rasa cemas dan takut dalam diri Muhammad

semuanya hilang sudah. Terbayang senyum di wajahnya.

Bibirnyapun mengucapkan kata-kata syukur, kata-kata kudus dan

penuh khidmat. Tidak lagi Khadijah merasa takut, bahwa Tuhan

sudah tidak menyukai Muhammad dan iapun tidak lagi merasa

takut dan gelisah. Bahkan Tuhan telah melindungi mereka berdua

dengan rahmatNya. Segala rasa takut dan keraguan-raguan hilang

sama sekali dari hatinya. Tak ada lagi bunuh diri.

 

Yang ada sekarang ialah hidup dan ajakan kepada Allah, dan

hanya kepada Allah semata. Hanya kepada Allah Yang Maha Besar

menundukkan kepala. Segala yang ada di langit dan di bumi

bersujud belaka kepadaNya. Hanya Dialah Yang Hak, dan yang

selain itu batil adanya. Hanya kepadaNya hati manusia

dihadapkan, seluruh hidup kesana juga bergantung dan kepadaNya

pula ruh akan kembali. “Sungguh, hari kemudian itu lebih baik

buat kau daripada yang sekarang.”

 

Ya, hari kemudian tempat berkumpulnya jiwa dengan segala

bentuknya yang penuh, yang tidak lagi kenal ruang dan waktu,

dan semua cara hidup pertama yang rendah ini akan terlupakan

adanya. Hari kemudian yang akan disinari cahaya pagi,

berkilauan, dan malam yang gelap dan kelam. Bintang-bintang di

langit, bumi dan gunung-gunung, semua akan dihubungi oleh jiwa

yang pasrah menyerah. Kehidupan inilah yang akan menjadi

tujuan. Inilah kebenaran yang sesungguhnya. Di luar itu hanya

bayangan belaka, yang tiada berguna. Kebenaran inilah yang

cahayanya disinari oleh jiwa Muhammad, dan yang baru akan

dipantulkan kembali guna memikirkan bagaimana mengajak orang

ingat kepada Tuhan. Dan guna mengajak orang kepada Tuhan, ia

harus membersihkan pakaiannya serta menjauhi perbuatan

mungkar. Ia harus tabah menghadapi segala gangguan demi

menjaga dakwah kepada Kebenaran. Ia harus menuntun umat kepada

ilmu yang belum mereka ketahui; jangan menolak orang meminta,

jangan berlaku bengis terhadap anak piatu. Cukuplah Tuhan

telah memilihnya sebagai pengemban amanat. Maka katakanlah

itu. Cukup sudah, bahwa Tuhan telah menemukannya sebagai

seorang piatu, lalu dilindungiNya di bawah asuhan kakeknya

Abd'l-Muttalib, dan pamannya, Abu Talib. Ia yang hidup miskin,

telah diberi kekayaan dengan amanat Tuhan kepadanya.

Dipermudah pula dengan Khadijah sebagai kawan semasa mudanya,

kawan semasa dalam tahannuth, kawan semasa kerasulannya, kawan

yang penuh cinta kasih, yang memberi nasehat dengan rasa

kasih-sayangnya. Tuhan telah mendapatinya tak tahu jalan, lalu

diberiNya petunjuk berupa risalah. Cukuplah semua itu.

Hendaklah ia mengajak orang kepada Kebenaran, berusaha sedapat

mungkin.

 

Begitulah ketentuan Tuhan terhadap seorang nabi yang telah

dipilihNya. Ia tidak ditinggalkanNya, juga tidak dibenciNya.

 

Tuhan telah mengajarkan Nabi bersembahyang, maka iapun

bersembahyang, begitu juga Khadijah ikut pula sembahyang.

Selain puteri-puterinya, tinggal bersama keluarga itu Ali bin

Abi Talib sebagai anak muda yang belum balig. Pada waktu itu

suku Quraisy sedang mengalami suatu krisis yang luarbiasa. Abu

Talib adalah keluarga yang banyak anaknya. Muhammad sekali

berkata kepada Abbas, pamannya – yang pada masa itu adalah

yang paling mampu di antara Keluarga Hasyim: “Abu Talib

saudaramu anaknya banyak. Seperti kaulihat, banyak orang yang

mengalami krisis. Baiklah kita ringankan dia dari anak-anaknya

itu. Aku akan mengambilnya seorang kaupun seorang untuk

kemudian kita asuh.”

 

Karena itu Abbas lalu mengasuh Ja'far dan Muhammad mengasuh

Ali, yang tetap tinggal bersama sampai pada masa kerasulannya.

 

Tatkala Muhammad dan Khadijah sedang sembahyang, tiba-tiba Ali

menyeruak masuk. Dilihatnya kedua orang itu sedang ruku' dan

sujud serta membaca beberapa ayat Qur'an yang sampai pada

waktu itu sudah diwahyukan kepadanya. Anak ifu tertegun

berdiri: “Kepada siapa kalian sujud?” tanyanya setelah

sembahyang selesai.

 

“Kami sujud kepada Allah,” jawab Muhammad, “Yang mengutusku

menjadi nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia menyembah

Allah”

 

Lalu Muhammadpun mengajak sepupunya itu beribadat kepada Allah

semata tiada bersekutu serta menerima agama yang dibawa nabi

utusanNya dengan meninggalkan berhala-berhala semacam Lat dan

'Uzza. Muhammad lalu membacakan beberapa ayat Qur'an. Ali

sangat terpesona karena ayat-ayat itu luarbiasa indahnya.

Kedua orang utusan itu ialah 'Amr bin'l-'Ash dan Abdullah bin

Abi Rabi'a. Kepada Najasyi dan kepada para pembesar istana

mereka mempersembahkan hadiah-hadiah dengan maksud supaya

mereka sudi mengembalikan orang-orang yang hijrah dari Mekah

itu kepada mereka.

 

“Paduka Raja,” kata mereka, “mereka datang ke negeri paduka

ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka

meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama

paduka; mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri,

yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus

kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat mereka, oleh

orang-orang tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri,

supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada

mereka. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu

mencemarkan dan memaki-maki.”

 

Sebenarnya kedua utusan itu telah mengadakan persetujuan

dengan pembesar-pembesar istana kerajaan, setelah mereka

menerima hadiah-hadiah dari penduduk Mekah, bahwa mereka akan

membantu usaha mengembalikan kaum Muslimin itu kepada pihak

Quraisy. Pembicaraan mereka ini tidak sampai diketahui raja.

Tetapi baginda menolak sebelum mendengar sendiri keterangan

dari pihak Muslimin. Lalu dimintanya mereka itu datang

menghadap

 

“Agama apa ini yang sampai membuat tuan-tuan meninggalkan

masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak juga tuan-tuan

menganut agamaku, atau agama lain?” tanya Najasyi setelah

mereka datang.

 

Yang diajak bicara ketika itu ialah Ja'far b. Abi b. Talib.

 

“Paduka Raja,” katanya, “ketika itu kami masyarakat yang

bodoh, kami menyembah berhala, bangkaipun kami makan, segala

kejahatan kami lakukan, memutuskan hubungan dengan kerabat,

dengan ketanggapun kami tidak baik; yang kuat menindas yang

lemah. Demikian keadaan kami, sampai Tuhan mengutus seorang

rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya,

dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia mengajak kami

menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan

batu-batu dan patung-patung yang selama itu kami dan

nenek-moyang kami menyembahnya. Ia menganjurkan kami untuk

tidak berdusta untuk berlaku jujur serta mengadakan hubungan

keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan

darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia melarang kami

melakukan segala kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta,

memakan harta anak piatu atau mencemarkan wanita-wanita yang

bersih. Ia minta kami menyembah Allah dan tidak

mempersekutukanNya. Selanjutnya disuruhnya kami melakukan

salat, zakat dan puasa. [Lalu disebutnya beberapa ketentuan

Islam]. Kami pun membenarkannya. Kami turut segala yang

diperintahkan Allah. Lalu yang kami sembah hanya Allah Yang

Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun

juga. Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan

kami lakukan. Karena itulah, masyarakat kami memusuhi kami,

menyiksa kami dan menghasut supaya kami meninggalkan agama

kami dan kembali menyembah berhala; supaya kami membenarkan

segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena

mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, mereka

menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kamipun keluar

pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi pilihan

kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan

di sini takkan ada penganiayaan.”

 

“Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan

bacakan kepada kami?” tanya Raja itu lagi.

 

“Ya,” jawab Ja'far; lalu ia membacakan Surah Mariam dari

pertama sampai pada firman Allah:

 

“Lalu ia memberi isyarat menunjuk kepadanya. Kata mereka:

Bagaimana kami akan bicara dengan anak yang masih muda belia?

Dia (Isa) berkata: 'Aku adalah hamba Allah, diberiNya aku

Kitab dan dijadikanNya aku seorang nabi. DijadikanNya aku

pembawa berkah dimana saja aku berada, dan dipesankanNya

kepadaku melakukan sembahyang dan zakat selama hidupku. Dan

berbaktilah aku kepada ibuku, bukan dijadikanNya aku orang

congkak yang celaka. Bahagialah aku tatkala aku dilahirkan,

tatkala aku mati dan tatkala aku hidup kembali!'” (Qur'an 19:

29-33)

 

Setelah mendengar bahwa keterangan itu membenarkan apa yang

tersebut dalam Injil, pemuka-pemuka istana itu terkejut:

“Kata-kata yang keluar dari sumber yang mengeluarkan kata-kata

Yesus Kristus'” kata mereka.

 

Najasyi lalu berkata: “Kata-kata ini dan yang dibawa oleh

Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama. Tuan-tuan (kepada

kedua orang utusan Quraisy) pergilah. Kami takkan menyerahkan

mereka kepada tuan-tuan!”

 

Keesokan harinya 'Amr bin'l-'Ash kembali menghadap Raja dengan

mengatakan, bahwa kaum Muslimin mengeluarkan tuduhan yang

luarbiasa terhadap Isa anak Mariam. Panggillah mereka dan

tanyakan apa yang mereka katakan itu.

 

Setelah mereka datang, Ja'far berkata: Tentang dia pendapat

kami seperti yang dikafakan Nabi kami: 'Dia adalah hamba Allah

dan UtusanNya, RuhNya dan FirmanNya yang disampaikan kepada

Perawan Mariam.”

 

Najasyi lalu mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di

tanah. Dan dengan gembira sekali baginda berkata:

 

“Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih

dari garis ini.”

 

Setelah dari kedua belah pihak itu didengarnya, ternyatalah

oleh Najasyi, bahwa kaum Muslimin itu mengakui Isa, mengenal

adanya Kristen dan menyembah Allah.

 

Selama di Abisinia itu kaum Muslimin merasa aman dan tenteram.

Ketika kemudian disampaikan kepada mereka, bahwa permusuhan

pihak Quraisy sudah berangsur reda, mereka lalu kembali ke

Mekah untuk pertama kalinya – dan Muhammadpun masih di Mekah.

 

Akan tetapi, setelah kemudian ternyata, bahwa penduduk Mekah

masih juga mengganggunya dan mengganggu sahabat-sahabatnya,

merekapun kembali lagi ke Abisinia. Mereka terdiri dari

delapanpuluh orang tanpa wanita dan anak-anak. Adakah kedua

kali hijrah mereka itu hanya semata-mata melarikan diri dari

gangguan ataukah meskipun dalam perencanaan Muhammad sendiri –

mereka mempunyai tujuan politik? Sebaiknya ahli sejarah akan

dapat mengungkapkan hal ini.

 

Sudah pada tempatnya bagi penulis sejarah hidup Muhammad akan

bertanya: bagaimana Muhammad dapat tenang membiarkan

sahabat-sahabatnya pergi ke Abisinia, padahal agama penduduk

itu adalah agama Nasrani, agama ahli kitab, Nabi mereka Isa

yang diakui kerasulannya oleh Islam? Lalu ia tidak kuatir

mereka akan tergoda seperti yang dilakukan oleh Quraisy

walaupun dengan cara lain? Bagaimana pula ia akan merasa

tenang terhadap godaan itu, mengingat Abisinia adalah negeri

makmur; yang tidak sama dengan Mekah; dan lebih dapat

mempengaruhi daripada Quraisy? Kenyataannya, dari kalangan

Muslimin yang pergi ke Abisinia itu sudah ada seorang yang

masuk Kristen. Kenyataan ini menunjukkan, bahwa kekuatiran

akan adanya godaan ini seharusnya selalu ada pada Muhammad

mengingat keadaannya yang masih lemah dan mereka yang menjadi

pengikutnya masih menyangsikan kemampuannya melindungi diri

mereka sendiri atau akan dapat mengalahkan musuh mereka. Besar

sekali dugaan bahwa hal demikian memang sudah terlintas dalam

pikiran Muhammad, melihat tingkat kecerdasannya yang begitu

tinggi dengan ketajaman pikiran dan pandangannya yang jauh,

yang semuanya itu seimbang dengan jiwa besarnya, dengan

kemurnian rohaninya, budi pekerti yang luhur serta perasaannya

yang halus sekali itu.

 

Tetapi sungguhpun begitu, dari segi ini ia yakin dan tenang

sekali. Pada waktu itu – dan sampai pada waktu pembawa risalah

itu wafat – inti ajaran Islam masih bersih sekali,

kemurniannya masih belum ternodakan. Seperti ajaran Nasrani di

Najran, Hira dan Syam, begitu juga paham Nasrani di Abisinia

sudah dijangkiti oleh noda, perselisihan antara mereka yang

menuhankan Ibu Mariam dengan mereka yang menuhankan Isa.

Disamping ada lagi yang berlainan dengan kedua golongan itu,

mereka yang masih mengambil dari sumber ajaran yang murni,

yang tidak perlu dikuatirkan.

 

Sebenarnya, kebanyakan agama-agama itu sesudah beberapa

generasi saja berjalan, sudah dijangkiti oleh semacam

paganisma, meskipun bukan dari jenis rendahan, yang waktu itu

berkembang di negeri-negeri Arab; tetapi bagaimanapun

paganisma juga.

 

Kedatangan Islam merupakan musuh berat buat paganisma dalam

segala bentuk dan coraknya. Ditambah lagi, bahwa agama Nasrani

waktu itu sudah mengakui adanya suatu golongan klas khusus di

kalangan pemuka-pemuka agama – yang oleh Islam samasekali

tidak dikenal – yang pada waktu itu merupakan golongan

tertinggi dan paling suci. Juga pada waktu itu – dan dasar ini

tetap berlaku – Islam merupakan agama yang menjunjung jiwa

manusia ke puncak tertinggi. Tak ada peluang yang akan dapat

menghubungkan manusia dengan Tuhannya selain daripada baktinya

dan perbuatan yang baik, dan orang harus mencintai sesamanya

seperti mencintai dirinya. Tidak ada berhala-berhala, tidak

ada pendeta-pendeta, tidak ada dukun-dukun dan tidak ada

apapun yang akan merintangi jiwa manusia itu untuk berhubungan

dengan seluruh wujud ini dengan perbuatan dan kelakuan yang

baik. Allah juga yang akan membalas segala perbuatan itu

dengan berlipat ganda.

 

Dan ruh! Soal ruh adalah urusan Tuhan. Ruh yang berhubungan

dengan kekekalan dan keabadian zaman. Segala perbuatan baik

bagi ruh ini tak ada tabir yang akan menutupinya dari Tuhan,

dan tak ada kekuasaan apapun selain Allah. Orang-orang yang

kaya, yang kuat atau yang jahat dapat saja menyiksa jasad ini,

dapat saja memisahkannya dari segala kesenangan dan hawa nafsu

dan dapat saja menghancurkan semua itu, tetapi ruh atau jiwa

itu takkan dapat mereka kuasai selama yang bersangkutan mau

menempatkannya lebih tinggi di atas segala kekuasaan materi

dan waktu, dan tetap berhubungan dengan seluruh alam ini.

 

Manusia itu akan mendapat balasan atas segala perbuatannya

bilamana kelak setiap jiwa menerima balasan menurut apa yang

telah dikerjakannya. Ketika itu seorang ayah takkan dapat

menolong anaknya, dan seorang anak takkan pula dapat menolong

ayahnya sedikitpun. Ketika itu harta si kaya. sudah tak

berguna lagi, tidak juga si kuat dengan kekuatannya, atau

ahli-ahli teologi itu dengan ilmu ketuhanannya. Tetapi yang

penting hanyalah perbuatan mereka, yang nanti akan menjadi

saksi. Ketika itulah seluruh alam wujud berpadu semua dalam

kekekalan dan keabadiannya. Tuhan tidak akan memperlakukan

tidak adil terhadap siapapun. “Dan balasan yang kamu terima

hanya menurut apa yang kamu perbuat.”

 

Bagaimana Muhammad akan merasa kuatir akan adanya godaan

terhadap mereka yang sudah diajarkan semua arti ini, sudah

ditanamkan ke dalam jiwa mereka dan sudah pula akidah dan iman

itu terpateri dalam lubuk hati mereka! Bagaimana pula ia akan

merasa kuatir akan adanya godaan, sedang teladan yang

diberikannya itu hidup dihadapan mereka, dengan pribadinya

yang begitu dicintai, sehingga kecintaan mereka kepadanya

melebihi cintanya kepada diri sendiri kepada anak keluarganya!

Pribadi, yang telah menempatkan akidah itu diatas semua raja

di muka bumi ini, di langit, dengan matahari dan bulan,

tatkala ia mengatakan kepada pamannya: “Demi Allah, kalaupun

mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan

bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan

tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah

yang akan membuktikan kemenangan itu di tanganku, atau aku

binasa karenanya.”

 

Pribadi inilah, pribadi yang telah disinari cahaya iman

kebijaksanaan dan keadilan, kebaikan, kebenaran serta

keindahan; di samping itu adalah pribadi yang penuh rasa

rendah hati, rasa kesetiaan serta keakraban dan kasih-sayang.

 

Karena itulah, sedikitpun tidak goyah hatinya melepaskan

sahabat-sahabatnya berangkat hijrah ke Abisinia. Keadaan

mereka yang sudah merasa aman di dekat Najasyi, merasa tenang

dengan agama mereka di tengah-tengah masyarakat yang tidak

punya hubungan famili atau pertalian batin itu, membuat pihak

Quraisy lebih menyadari, bahwa gangguan mereka terhadap kaum

Muslimin – sebagai masyarakat dari sesama mereka, dari

keluarga mereka dan seketurunan pula – adalah suatu

penganiayaan, suatu perbuatan kekerasan dan demoralisasi yang

tak berkesudahan. Itu semua adalah suatu tekanan dengan

pelbagai macam siksaan kepada mereka yang sudah begitu kuat

jiwanya untuk menerima siksaan demikian itu. Tetapi mereka

sekarang sudah tidak lagi mendapat sesuatu gangguan. Mereka

sudah menganggap, bahwa ketabahan menghadapi segala

penderitaan itu adalah suatu pendekatan kepada Tuhan, dan

suatu ampunan.

Waktu itu 'Umar ibn'l-Khattab adalah pemuda yang gagah

perkasa, berusia antara tigapuluh dan tigapuluh lima tahun.

Tubuhnya kuat dan tegap, penuh emosi dan cepat naik darah.

Kesenangannya foya-foya dan minum-minuman keras. Tetapi

terhadap keluarga ia bijaksana dan lemah-lembut. Dari kalangan

Quraisy dialah yang paling keras memusuhi kaum Muslimin.

 

Akan tetapi sesudah ia mengetahui, bahwa mereka sudah hijrah

ke Abisinia dan mengetahui pula rajanya memberikan

perlindungan kepada mereka, iapun merasa kesepian berpisah

dengan mereka itu. Ia merasakan betapa pedihnya hati, betapa

pilunya perasaan mereka berpisah dengan tanah air.

 

Tatkala itu Muhammad sedang berkumpul dengan

sahabat-sahabatnya yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah

di Shafa. Di antara mereka ada Hamzah pamannya, Ali bin Abi

Talib sepupunya, Abu Bakr b. Abi Quhafa dan Muslimin yang

lain. Pertemuan mereka ini diketahui 'Umar. Iapun pergi

ketempat mereka, ia mau membunuh Muhammad. Dengan demikian

bebaslah Quraisy dan kembali mereka bersatu, setelah mengalami

perpecahan, sesudah harapan dan berhala-berhala mereka hina.

 

Di tengah jalan ia bertemu dengan Nu'aim b. Abdullah. Setelah

mengetahui maksudnya, Nuiaim berkata:

 

“Umar, engkau menipu diri sendiri. Kaukira keluarga 'Abd

Manaf. akan membiarkan kau merajalela begini sesudah engkau

membunuh Muhammad? Tidak lebih baik kau pulang saja ke rumah

dan perbaiki keluargamu sendiri?!”

 

Pada waktu itu Fatimah, saudaranya, beserta Sa'id b. Zaid

suami Fatimah sudah masuk Islam. Tetapi setelah mengetahui hal

ini dari Nu'aim, Umar cepat-cepat pulang dan langsung menemui

mereka. Di tempat itu ia mendengar ada orang membaca Qur'an.

Setelah mereka merasa ada orang yang sedang mendekati, orang

yang membaca itu sembunyi dan Fatimah menyembunyikan kitabnya.

 

“Aku mendengar suara bisik-bisik apa itu?!” tanya Umar.

 

Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan suara

lantang: “Aku sudah mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad

dan menganut agamanya!” katanya sambil menghantam Sa'id

keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak melindungi

suaminya, juga mendapat pukulan keras. Kedua suami isteri itu

jadi panas hati.

 

“Ya, kami sudah Islam! Sekarang lakukan apa saja,” kata

meteka.

 

Tetapi Umar jadi gelisah sendiri setelah melihat darah di muka

saudaranya itu. Ketika itu juga lalu timbul rasa iba dalam

hatinya. Ia menyesal. Dimintanya kepada saudaranya supaya

kitab yang mereka baca itu diberikan kepadanya. Setelah

dibacanya, wajahnya tiba-tiba berubah. Ia merasa menyesal

sekali atas perbuatannya itu. Menggetar rasanya ia setelah

membaca isi kitab itu. Ada sesuatu yang luarbiasa dan agung

dirasakan, ada suatu seruan yang begitu luhur. Sikapnya jadi

lebih bijaksana.

 

Ia keluar membawa hati yang sudah lembut dengan jiwa yang

tenang sekali. Ia langsung menuju ke tempat Muhammad dan

sahabat-sahabatnya itu sedang berkumpul di Shafa. Ia minta

ijin akan masuk, lalu menyatakan dirinya masuk Islam. Dengan

adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka kaum Muslimin telah

mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat.

 

Dengan Islamnya Umar ini kedudukan Quraisy jadi lemah sekali.

Sekali lagi mereka mengadakan pertemuan guna menentukan

langkah lebih lanjut. Sebenarnya peristiwa ini telah

memperkuat kedudukan kaum Muslimin, telah memberikan unsur

baru berupa kekuatan yang luarbiasa yang menyebabkan kedudukan

Quraisy terhadap kaum Muslimin dan kedudukan mereka terhadap

Quraisy sudah tidak seperti dulu lagi. Keadaan kedua belah

pihak ini kemudian diteruskan oleh suatu perkembangan politik

baru, penuh dengan peristiwa-peristiwa, dengan

pengorbanan-pengorbanan dan kekerasan-kekerasan baru lagi,

yang sampai menyebabkan terjadinya hijrah dan munculnya

Muhammad sebagai politikus di samping Muhammad sebagai Rasul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s