HIJRAH

RENCANA Quraisy akan membunuh Muhammad pada malam hari, karena
dikuatirkan  ia  akan hijrah ke Medinah dan memperkuat diri di
sana serta segala  bencana  yang  mungkin  menimpa  Mekah  dan
menimpa  perdagangan  mereka  dengan  Syam  sebagai akibatnya,
beritanya sudah sampai kepada Muhammad. Memang tak  ada  orang
yang  menyangsikan, bahwa Muhammad akan menggunakan kesempatan
itu untuk hijrah. Akan tetapi, karena  begitu  kuat  ia  dapat
menyimpan   rahasia   itu,   sehingga  tiada  seorangpun  yang
mengetahui, juga Abu Bakr, orang yang  pernah  menyiapkan  dua
ekor  unta  kendaraan tatkala ia meminta ijin kepada Nabi akan
hijrah,  yang  lalu  ditangguhkan,  hanya  sedikit  mengetahui
soalnya. Muhammad sendiri memang masih tinggal di Mekah ketika
ia sudah  mengetahui  keadaan  Quraisy  itu  dan  ketika  kaum
Muslimin  sudah  tak  ada  lagi  yang tinggal kecuali sebagian
kecil. Dalam ia menantikan perintah Tuhan yang akan mewahyukan
kepadanya  supaya  hijrah, ketika itulah ia pergi ke rumah Abu
Bakr dan memberitahukan,  bahwa  Allah  telah  mengijinkan  ia
hijrah. Dimintanya Abu Bakr supaya menemaninya dalam hijrahnya
itu, yang lalu diterima baik oleh Abu Bakr.

Di sinilah dimulainya kisah yang paling  cemerlang  dan  indah
yang  pernah  dikenal  manusia  dalam  sejarah pengejaran yang
penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman. Sebelum  itu
Abu  Bakr  memang  sudah  menyiapkan  dua  ekor  untanya  yang
diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah b.  Uraiqiz  sampai
nanti  tiba waktunya diperlukan. Tatkala kedua orang itu sudah
siap-siap akan meninggalkan Mekah mereka sudah  yakin  sekali,
bahwa  Quraisy  pasti  akan membuntuti mereka. Oleh karena itu
Muhammad memutuskan akan menempuh jalan lain dari yang  biasa,
Juga akan berangkat bukan pada waktu yang biasa.

Pemuda-pemuda  yang  sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnya
malam itu sudah mengepung rumahnya, karena dikuatirkan ia akan
lari.  Pada  malam  akan  hijrah itu pula Muhammad membisikkan
kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai  mantelnya  yang  hijau
dari  Hadzramaut  dan  supaya  berbaring  di  tempat tidurnya.
Dimintanya supaya sepeninggalnya  nanti  ia  tinggal  dulu  di
Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan
kepadanya. Dalam pada itu pemuda-pemuda yang  sudah  disiapkan
Quraisy,  dari  sebuah  celah  mengintip ke tempat tidur Nabi.
Mereka melihat ada sesosok  tubuh  di  tempat  tidur  itu  dan
merekapun puas bahwa dia belum lari.

Tetapi,  menjelang  larut malam waktu itu, dengan tidak setahu
mereka Muhammad sudah keluar menuju ke rumah Abu  Bakr.  Kedua
orang  itu  kemudian  keluar  dari jendela pintu belakang, dan
terus bertolak ke arah selatan menuju gua Thaur. Bahwa  tujuan
kedua  orang  itu  melalui  jalan sebelah kanan adalah di luar
dugaan.

Tiada seorang  yang  mengetahui  tempat  persembunyian  mereka
dalam  gua  itu  selain  Abdullah b. Abu Bakr, dan kedua orang
puterinya Aisyah dan Asma,  serta  pembantu  mereka  'Amir  b.
Fuhaira.  Tugas  Abdullah  hari-hari  berada  di tengah-tengah
Quraisy   sambil   mendengar-dengarkan   permufakatan   mereka
terhadap   Muhammad,   yang   pada   malam   harinya  kemudian
disampaikannya kepada Nabi dan kepada  ayahnya.  Sedang  'Amir
tugasnya    menggembalakan    kambing    Abu   Bakr'   sorenya
diistirahatkan, kemudian mereka memerah  susu  dan  menyiapkan
daging.  Apabila  Abdullah  b.  Abi  Bakr  keluar kembali dari
tempat mereka, datang  'Amir  mengikutinya  dengan  kambingnya
guna menghapus jejaknya.

Kedua  orang itu tinggal dalam gua selama tiga hari. Sementara
itu pihak  Quraisy  berusaha  sungguh-sungguh  mencari  mereka
tanpa  mengenal  lelah.  Betapa  tidak.  Mereka melihat bahaya
sangat mengancam mereka kalau mereka tidak  berhasil  menyusul
Muhammad  dan  mencegahnya  berhubungan  dengan pihak Yathrib.
Selama kedua  orang  itu  berada  dalam  gua,  tiada  hentinya
Muhammad   menyebut   nama  Allah.  KepadaNya  ia  menyerahkan
nasibnya itu dan memang kepadaNya pula segala  persoalan  akan
kembali.  Dalam  pada  itu Abu Bakr memasang telinga. Ia ingin
mengetahui adakah  orang-orang  yang  sedang  mengikuti  jejak
mereka itu sudah berhasil juga.

Kemudian  pemuda-pemuda Quraisy - yang dari setiap kelompok di
ambil seorang itu - datang. Mereka membawa pedang dan  tongkat
sambil  mundar-mandir  mencari  ke segenap penjuru. Tidak jauh
dari gua Thaur itu mereka bertemu dengan seorang gembala, yang
lalu ditanya.

"Mungkin  saja  mereka  dalam gua itu, tapi saya tidak melihat
ada orang yang menuju ke sana."

Ketika mendengar jawaban  gembala  itu  Abu  Bakr  keringatan.
Kuatir  ia,  mereka  akan  menyerbu  ke dalam gua. Dia menahan
napas tidak bergerak, dan hanya  menyerahkan  nasibnya  kepada
Tuhan.  Lalu  orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu, tapi
kemudian ada yang turun lagi.

"Kenapa   kau   tidak   menjenguk   ke   dalam   gua?"   tanya
kawan-kawannya.

"Ada  sarang  laba-laba  di  tempat itu, yang memang sudah ada
sejak sebelum Muhammad lahir," jawabnya. "Saya melihat ada dua
ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi saya mengetahui
tak ada orang di sana."

Muhammad makin sungguh-sungguh berdoa dan Abu Bakr juga  makin
ketakutan. Ia merapatkan diri kepada kawannya itu dan Muhammad
berbisik di telinganya:

"Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita."

Dalam buku-buku hadis ada juga sumber yang menyebutkan,  bahwa
setelah  terasa  oleh  Abu  Bakr bahwa mereka yang mencari itu
sudah mendekat ia berkata dengan berbisik:

"Kalau mereka ada yang menengok ke bawah  pasti  akan  melihat
kita."

"Abu   Bakr,  kalau  kau  menduga  bahwa  kita  hanya  berdua,
ketiganya adalah Tuhan," kata Muhammad.

Orang-orang Quraisy makin yakin bahwa dalam gua  itu  tak  ada
manusia  tatkala  dilihatnya ada cabang pohon yang terkulai di
mulut gua. Tak ada jalan orang akan dapat  masuk  ke  dalamnya
tanpa  menghalau  dahan-dahan  itu.  Ketika itulah mereka lalu
surut kembali. Kedua orang bersembunyi  itu  mendengar  seruan
mereka  supaya  kembali ke tempat semula. Kepercayaan dan iman
Abu Bakr bertambah besar kepada Allah dan kepada Rasul.

"Alhamdulillah, Allahuakbar!" kata Muhammad kemudian.

Sarang laba-laba, dua  ekor  burung  dara  dan  pohon.  Inilah
mujizat  yang  diceritakan  oleh  buku-buku sejarah hidup Nabi
mengenai masalah persembunyian dalam gua Thaur itu. Dan  pokok
mujizatnya  ialah  karena  segalanya  itu  tadinya  tidak ada.
Tetapi sesudah Nabi dan sahabatnya bersembunyi dalam gua, maka
cepat-cepatlah  laba-laba  menganyam  sarangnya  guna  menutup
orang yang dalam gua itu dari  penglihatan.  Dua  ekor  burung
dara  datang  pula  lalu  bertelur  di  jalan  masuk. Sebatang
pohonpun  tumbuh  di  tempat  yang  tadinya  belum  ditumbuhi.
Sehubungan dengan mujizat ini Dermenghem mengatakan:

"Tiga  peristiwa  itu  sajalah  mujizat  yang diceritakan oleh
sejarah Islam yang benar-benar: sarang  laba-laba,  hinggapnya
burung  dara dan tumbuhnya pohon-pohonan. Dan ketiga keajaiban
ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi."

Akan tetapi mujizat begini ini tidak  disebutkan  dalam  Sirat
Ibn  Hisyam  ketika  menyinggung cerita gua itu. Paling banyak
oleh ahli sejarah ini disebutkan sebagai berikut:

"Mereka berdua menuju ke sebuah gua  di  Gunung  Thaur  sebuah
gunung  di  bawah  Mekah  -  lalu  masuk ke dalamnya. Abu Bakr
meminta anaknya Abdullah supaya mendengar-dengarkan  apa  yang
dikatakan  orang  tentang  mereka itu siang hari, lalu sorenya
supaya kembali membawakan berita yang terjadi hari itu. Sedang
'Amir  b.  Fuhaira supaya menggembalakan kambingnya siang hari
dan diistirahatkan kembali bila sorenya ia  kembali  ke  dalam
gua.  Ketika itu, bila hari sudah sore Asma, datang membawakan
makanan yang cocok buat mereka ... Rasulullah  s.a.w.  tinggal
dalam  gua  selama  tiga hari tiga malam. Ketika ia menghilang
Quraisy menyediakan seratus ekor unta  bagi  barangsiapa  yang
dapat  mengembalikannya  kepada mereka. Sedang Abdullah b. Abi
Bakr siangnya berada  di  tengah-tengah  Quraisy  mendengarkan
permufakatan  mereka  dan  apa yang mereka percakapkan tentang
Rasulullah  s.aw.  dan  Abu  Bakr,  sorenya  ia  kembali   dan
menyampaikan berita itu kepada mereka.

'Amir   b.   Fuhaira   -   pembantu   Abu  Bakr  -  waktu  itu
menggembalakan ternaknya di tengah-tengah para gembala  Mekah,
sorenya  kambing  Abu  Bakr  itu  diistirahatkan,  lalu mereka
memerah susu dan menyiapkan daging. Kalau paginya Abdullah  b.
Abi  Bakr  bertolak dari tempat itu ke Mekah, 'Amir b. Fuhaira
mengikuti jejaknya dengan membawa  kambing  supaya  jejak  itu
terhapus. Sesudah berlalu tiga hari dan orangpun mulai tenang,
aman mereka, orang yang disewa datang membawa unta kedua orang
itu serta untanya sendiri... dan seterusnya."

Demikian  Ibn  Hisyam menerangkan mengenai cerita gua itu yang
kami nukilkan sampai pada waktu Muhammad dan sahabatnya keluar
dari sana.

Tentang pengejaran Quraisy terhadap Muhammad untuk dibunuh itu
serta tentang cerita gua ini datang firman Tuhan demikian:

"Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy)  itu  berkomplot
membuat  rencana  terhadap  kau,  hendak  menangkap  kau, atau
membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka  membuat  rencana  dan
Allah  membuat  rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik."
(Qur'an, 8: 30)

"Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang  telah
menolongnya   tatkala   dia   diusir  oleh  orang-orang  kafir
(Quraisy). Dia  salah  seorang  dari  dua  orang  itu,  ketika
keduanya  berada  dalam  gua.  Waktu  itu  ia  berkata  kepada
temannya itu: 'Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!' Maka
Tuhan  lalu  memberikan  ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya
dengan pasukan yang tidak kamu  lihat.  Dan  Allah  menjadikan
seruan  orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah
itulah yang tinggi.  Dan  Allah  Maha  Kuasa  dan  Bijaksana."
(Qur'an, 9: 40)

Pada  hari  ketiga, bila mereka berdua sudah mengetahui, bahwa
orang sudah tenang kembali mengenai diri  mereka,  orang  yang
disewa  tadi  datang  membawakan  unta  kedua  orang itu serta
untanya sendiri. Juga Asma, puteri Abu Bakr datang  membawakan
makanan.  Oleh  karena  ketika  mereka  akan berangkat tak ada
sesuatu yang dapat dipakai menggantungkan makanan dan  minuman
pada  pelana  barang,  Asma,  merobek  ikat  pinggangnya  lalu
sebelahnya dipakai menggantungkan  makanan  dan  yang  sebelah
lagi    diikatkan.    Karena   itu   ia   lalu   diberi   nama
"dhat'n-nitaqain" (yang bersabuk dua).

Mereka   berangkat.   Setiap   orang    mengendarai    untanya
sendiri-sendiri dengan membawa bekal makanan. Abu Bakr membawa
limaribu dirham dan itu  adalah  seluruh  hartanya  yang  ada.
Mereka  bersembunyi  dalam gua itu begitu ketat. Karena mereka
mengetahui pihak Quraisy sangat  gigih  dan  hati-hati  sekali
membuntuti,  maka  dalam  perjalanan  ke  Yathrib  itu  mereka
mengambil jalan yang tidak biasa ditempuh orang.  Abdullah  b.
'Uraiqit  -  dari Banu Du'il - sebagai penunjuk jalan, membawa
mereka hati-hati sekali ke  arah  selatan  di  bawahan  Mekah,
kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah. Oleh karena
mereka melalui jalan  yang  tidak  biasa  ditempuh  orang,  di
bawanya mereka ke sebelah utara di seberang pantai itu, dengan
agak menjauhinya, mengambil jalan yang paling sedikit  dilalui
orang.

Kedua  orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan
di waktu siang berada di atas  kendaraan.  Tidak  lagi  mereka
pedulikan  kesulitan,  tidak  lagi  mereka mengenal lelah. Ya,
kesulitan mana yang  lebih  mereka  takuti  daripada  tindakan
Quraisy  yang  akan  merintangi  mereka  mencapai  tujuan yang
hendak mereka  capai  demi  jalan  Allah  dan  kebenaran  itu!
Memang,  Muhammad  sendiri  tidak pernah mengalami kesangsian,
bahwa Tuhan akan menolongnya, tetapi "jangan kamu mencampakkan
diri  ke  dalam bencana." Allah menolong hambaNya selama hamba
menolong  dirinya  dan  menolong   sesamanya.   Mereka   telah
melangkah dengan selamat selama dalam gua.

Akan  tetapi  apa yang dilakukan Quraisy bagi barangsiapa yang
dapat  mengembalikan  mereka  berdua  atau  dapat  menunjukkan
tempat mereka, wajar sekali akan menarik hati orang yang hanya
tertarik pada hasil  materi  meskipun  akan  diperoleh  dengan
jalan  kejahatan.  Apalagi  jika  kita  ingat orang-orang Arab
Quraisy itu memang sudah  menganggap  Muhammad  musuh  mereka.
Dalam  jiwa  mereka  terdapat suatu watak tipu-muslihat, bahwa
membunuh orang yang tidak bersenjata dan menyerang pihak  yang
tak  dapat  mempertahankan  diri,  bukan  suatu hal yang hina.
Jadi, dua orang itu harus benar-benar waspada,  harus  membuka
mata, memasang telinga dan penuh kesadaran selalu.

Dugaan  kedua  orang  itu  tidak meleset. Sudah ada orang yang
datang  kepada  Quraisy  membawa  kabar,  bahwa   ia   melihat
serombongan kendaraan unta terdiri dari tiga orang lewat.

Mereka   yakin   itu   adalah   Muhammad  dan  beberapa  orang
sahabatnya. Waktu itu Suraqa b. Malik b. Ju'syum hadir.

"Ah,  mereka  itu  Keluarga  sianu,"  katanya  dengan   maksud
mengelabui  orang  itu,  sebab  dia  sendiri  ingin memperoleh
hadiah seratus ekor unta. Sebentar ia  masih  tinggal  bersama
orang-orang itu. Tetapi kemudian ia segera pulang ke rumahnya.
Disiapkannya  senjatanya  dan  disuruhnya   orang   membawakan
kudanya  ke  tengah-tengah  wadi  supaya waktu ia keluar nanti
tidak dilihat orang.  Selanjutnya  dikendarainya  kudanya  dan
dipacunya ke arah yang disebutkan orang itu tadi.

Sementara  itu  Muhammad  dan  kedua temannya sudah mengaso di
bawah naungan sebuah  batu  besar,  sekadar  beristirahat  dan
menghilangkan  rasa  lelah  sambil  makan-makan dan minum, dan
sekadar mengembalikan tenaga dan kekuatan baru.

Matahari sudah mulai bergelincir, Muhammad dan  Abu  Bakr  pun
sudah  pula  mulai  memikirkan  akan menaiki untanya mengingat
bahwa jaraknya dengan Suraqa sudah makin  dekat.  Dan  sebelum
itu  kuda  Suraqa  sudah  dua kali tersungkur karena terlampau
dikerahkan. Tetapi setelah penunggang kuda itu  melihat  bahwa
ia  sudah  hampir berhasil dan menyusul kedua orang itu - lalu
akan membawa mereka kembali ke Mekah atau membunuh mereka bila
mencoba  membela  diri  -  ia lupa kudanya yang sudah dua kali
tersungkur  itu,  karena  saat  kemenangan  rasanya  sudah  di
tangan.  Akan  tetapi  kuda  itu tersungkur sekali lagi dengan
keras  sekali,  sehingga   penunggangnya   terpelanting   dari
punggung   binatang  itu  dan  jatuh  terhuyung-huyung  dengan
senjatanya. Lalu diramalkan oleh Suraqa bahwa itu suatu alamat
buruk  dan  dia  percaya  bahwa  sang  dewa  telah melarangnya
mengejar sasarannya itu dan bahwa dia akan berada dalam bahaya
besar  apabila  sampai keempat kalinya ia terus berusaha juga.
Sampai di situ ia berhenti dan hanya memanggil-manggil:

"Saya Suraqa bin Ju'syum! Tunggulah,  saya  mau  bicara.  Demi
Allah,  tuan-tuan  jangan  menyangsikan  saya. Saya tidak akan
melakukan sesuatu yang akan merugikan tuan-tuan."

Setelah kedua orang itu berhenti melihat kepadanya, dimintanya
kepada Muhammad supaya menulis sepucuk surat kepadanya sebagai
bukti bagi kedua belah pihak. Dengan permintaan Nabi, Abu Bakr
lalu  menulis surat itu di atas tulang atau tembikar yang lalu
dilemparkannya kepada Suraqa.

Setelah diambilnya oleh Suraqa surat itu  ia  kembali  pulang.
Sekarang,  bila  ada  orang  mau  mengejar  Muhajir  Besar itu
olehnya  dikaburkan,   sesudah   tadinya   ia   sendiri   yang
mengejarnya.

Muhammad   dan   kawannya  itu  kini  berangkat  lagi  melalui
pedalaman Tihama dalam panas terik  yang  dibakar  oleh  pasir
sahara.  Mereka  melintasi  batu-batu karang dan lembah-lembah
curam. Dan sering pula mereka tidak mendapatkan  sesuatu  yang
akan  menaungi  diri mereka dari letupan panas tengah hari tak
ada  tempat  berlindung  dari  kekerasan  alam  yang  ada   di
sekitarnya,  tak ada keamanan dari apa yang mereka takuti atau
dari  yang  akan  menyerbu  mereka  tiba-tiba,   selain   dari
ketabahan  hati  dan  iman  yang begitu mendalam kepada Tuhan.
Keyakinan  mereka  besar  sekali  akan  kebenaran  yang  telah
diberikan Tuhan kepada RasulNya itu.

Selama  tujuh  hari  terus-menerus mereka dalam keadaan serupa
itu. Mengaso di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan
lagi  sepanjang  malam  mengarungi  lautan padang pasir. Hanya
karena adanya ketenangan hati kepada Tuhan  dan  adanya  kedip
bintang-bintang yang berkilauan dalam gelap malam itu, membuat
hati dan perasaan mereka terasa lebih aman.

Bilamana kedua orang itu sudah memasuki  daerah  kabilah  Banu
Sahm  dan  datang  pula  Buraida  kepala kabilah itu menyambut
mereka, barulah perasaan kuatir dalam  hatinya  mulai  hilang.
Yakin sekali mereka pertolongan Tuhan itu ada.

Jarak mereka dengan Yathrib kini sudah dekat sekali.

Selama  mereka  dalam  perjalanan yang sungguh meletihkan itu,
berita-berita tentang hijrah Nabi  dan  sahabatnya  yang  akan
menyusul  kawan-kawan  yang  lain,  sudah  tersiar di Yathrib.
Penduduk kota ini sudah mengetahui,  betapa  kedua  orang  ini
mengalami    kekerasan   dari   Quraisy   yang   terus-menerus
membuntuti. Oleh karena itu semua kaum Muslimin tetap  tinggal
di  tempat  itu  menantikan  kedatangan Rasulullah dengan hati
penuh  rindu  ingin  melihatnya,  ingin   mendengarkan   tutur
katanya.  Banyak  di  antara  mereka  itu  yang  belum  pernah
melihatnya, meskipun sudah mendengar  tentang  keadaannya  dan
mengetahui  pesona  bahasanya  serta  keteguhan  pendiriannya.
Semua itu membuat mereka rindu  sekali  ingin  bertemu,  ingin
melihatnya. Orangpun sudah akan dapat mengira-ngirakan, betapa
dalamnya hati mereka itu terangsang tatkala mengetahui,  bahwa
orang-orang  terkemuka  Yathrib  yang sebelum itu belum pernah
melihat  Muhammad  sudah  menjadi  pengikutnya  hanya   karena
mendengar  dari  sahabat-sahabatnya  saja,  kaum Muslimin yang
gigih melakukan dakwah Islam dan sangat  mencintai  Rasulullah
itu.

Sa'id b. Zurara dan Mush'ab b. 'Umair sedang duduk-duduk dalam
salah sebuah kebun  Banu  Zafar.  Beberapa  orang  yang  sudah
menganut  Islam  juga  berkumpul  di sana. Berita ini kemudian
sampai kepada Sa'd b. Mu'adh dan 'Usaid b. Hudzair, yang  pada
waktu     itu    merupakan    pemimpin-pemimpin    golongannya
masing-masing.

"Temui dua orang itu," kata Said kepada 'Usaid,  "yang  datang
ke  daerah  kita  ini  dengan  maksud  supaya orang-orang yang
hina-dina di kalangan kita dapat  merendahkan  keluarga  kita.
Tegur  mereka  itu  dan  cegah.  Sebenarnya Said b. Zurara itu
masih  sepupuku  dari  pihak  ibu,  jadi  saya   tidak   dapat
mendatanginya."

'Usaidpun   pergi   menegur  kedua  orang  itu.  Tapi  Mush'ab
menjawab:

"Maukah kau duduk dulu dan mendengarkan?" katanya. "Kalau  hal
ini  kau setujui dapatlah kauterima, tapi kalau tidak kausukai
maukah kau lepas tangan?"

"Adil kau,"  kata  'Usaid,  seraya  menancapkan  tombaknya  di
tanah.  Ia  duduk dengan mereka sambil mendengarkan keterangan
Mush'ab, yang  ternyata  sekarang  ia  sudah  menjadi  seorang
Muslim.  Bila ia kembali kepada Sa'd wajahnya sudah tidak lagi
seperti ketika berangkat. Hal ini membuat Sa'd jadi marah. Dia
sendiri  lalu pergi menemui dua orang itu. Tetapi kenyataannya
ia seperti temannya juga.

Karena  pengaruh  kejadian  itu  Sa'd   lalu   pergi   menemui
golongannya dan berkata kepada mereka:

"Hai  Banu 'Abd'l-Asyhal. Apa yang kamu ketahui tentang diriku
di tengah-tengah kamu sekalian?"

"Pemimpin  kami,  yang  paling  dekat  kepada   kami,   dengan
pandangan dan pengalaman yang terpuji," jawab mereka.

"Maka  kata-katamu, baik wanita maupun pria bagiku adalah suci
selama kamu beriman kepada Allah dan RasulNya."

Sejak itu seluruh suku 'Abd'l-Asyhal, pria  dan  wanita  masuk
Islam.

Tersebarnya  Islam  di Yathrib dan keberanian kaum Muslimin di
kota itu sebelum hijrah Nabi ke tempat tersebut sama sekali di
luar  dugaan  kaum  Muslimin  Mekah.  Beberapa pemuda Muslimin
dengan  tidak  ragu-ragu  mempermainkan  berhala-berhala  kaum
musyrik  di  sana.  Seseorang  yang  bernama  'Amr bin'l-Jamuh
mempunyai sebuah patung berhala  terbuat  daripada  kayu  yang
dinamainya  Manat,  diletakkan di daerah lingkungannya seperti
biasa dilakukan oleh kaum bangsawan. 'Amr ini  adalah  seorang
pemimpin  Banu Salima dan dari kalangan bangsawan mereka pula.
Sesudah pemuda-pemuda golongannya itu masuk Islam  malam-malam
mereka mendatangi berhala itu lalu di bawanya dan ditangkupkan
kepalanya ke dalam sebuah lubang yang  oleh  penduduk  Yathrib
biasa dipakai tempat buang air.

Bila  pagi-pagi  berhala  itu tidak ada 'Amr mencarinya sampai
diketemukan lagi,  kemudian  dicucinya  dan  dibersihkan  lalu
diletakkannya    kembali   di   tempat   semula,   sambil   ia
menuduh-nuduh  dan   mengancam.   Tetapi   pemuda-pemuda   itu
mengulangi lagi perbuatannya mempermainkan Manat 'Amr itu, dan
diapun setiap hari mencuci  dan  membersihkannya.  Setelah  ia
merasa    kesal    karenanya,    diambilnya    pedangnya   dan
digantungkannya pada berhala itu seraya ia berkata: "Kalau kau
memang berguna, bertahanlah, dan ini pedang bersama kau."

Tetapi  keesokan  harinya  ia  sudah kehilangan lagi, dan baru
diketemukannya kembali dalam  sebuah  sumur  tercampur  dengan
bangkai anjing. Pedangnya sudah tak ada lagi.

Sesudah   kemudian   ia  diajak  bicara  oleh  beberapa  orang
pemuka-pemuka masyarakatnya dan sesudah  melihat  dengan  mata
kepala   sendiri   betapa  sesatnya  hidup  dalam  syirik  dan
paganisma itu, yang hakekatnya akan mencampakkan jiwa  manusia
ke  dalam  jurang  yang  tak  patut lagi bagi seorang manusia,
iapun masuk Islam.

Melihat Islam yang sudah mencapai martabat  begitu  tinggi  di
Yathrib,  akan  mudah sekali orang menilai, betapa memuncaknya
kerinduan  penduduk  kota  itu  ingin   menyambut   kedatangan
Muhammad,  setelah  mereka  mengetahui  ia  sudah  hijrah dari
Mekah. Setiap hari selesai sembahyang Subuh  mereka  pergi  ke
luar  kota  menanti-nantikan  kedatangannya  sampai pada waktu
matahari terbenam dalam hari-hari musim panas bulan Juli.

Dalam pada itu ia sudah di Quba' - dua  farsakh  jauhnya  dari
Medinah.  Empat  hari  ia tinggal di tempat itu, ditemani oleh
Abu Bakr. Selama masa empat hari itu mesjid Quba' dibangunnya.
Sementara  itu  datang  pula  Ali  b.  Abi-Talib ke tempat itu
setelah mengembalikan barang-barang amanat -  yang  dititipkan
kepada  Muhammad - kepada pemilik-pemiliknya di Mekah. Setelah
itu ia sendiri meninggalkan Mekah, menempuh  perjalanannya  ke
Yathrib dengan berjalan kaki. Malam hari ia berjalan, siangnya
bersembunyi.   Perjuangan   yang   sangat    meletihkan    itu
ditanggungnya  selama  dua  minggu penuh, yaitu untuk menyusul
saudara-saudaranya seagama.

Sementara  kaum  Muslimin  Yathrib  pada  suatu  hari   sedang
menanti-nantikan seperti biasa tiba-tiba datang seorang Yahudi
yang sudah mengetahui  apa  yang  sedang  mereka  lakukan  itu
berteriak kepada mereka.

"Hai, Banu Qaila1 ini dia kawan kamu datang!"

Hari itu adalah hari Jum'at dan Muhammad berjum'at di Medinah.
Di tempat itulah, ke dalam mesjid yang terletak di perut  Wadi
Ranuna  itulah  kaum  Muslimin  datang, masing-masing berusaha
ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan  hati
terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati
yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman akan risalahnya, dan
yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang.

Orang-orang  terkemuka  di  Medinah  menawarkan diri supaya ia
tinggal pada mereka dengan  segala  persediaan  dan  persiapan
yang  ada. Tetapi ia meminta maaf kepada mereka. Kembali ia ke
atas unta  betinanya,  dipasangnya  tali  keluannya,  lalu  ia
berangkat  melalui  jalan-jalan  di  Yathrib, di tengah-tengah
kaum Muslimin yang ramai  menyambutnya  dan  memberikan  jalan
sepanjang   jalan   yang  diliwatinya  itu.  Seluruh  penduduk
Yathrib, baik  Yahudi  maupun  orang-orang  pagan  menyaksikan
adanya  hidup  baru  yang  bersemarak  dalam  kota mereka itu,
menyaksikan kehadiran seorang pendatang baru, orang besar yang
telah  mempersatukan  Aus  dan Khazraj, yang selama itu saling
bermusuhan, saling berperang. Tidak  terlintas  dalam  pikiran
mereka  -  pada  saat  ini,  saat  transisi  sejarah yang akan
menentukan tujuannya yang baru itu - akan memberikan kemegahan
dan  kebesaran  bagi  kota  mereka,  dan yang akan tetap hidup
selama sejarah ini berkembang.

Dibiarkannya unta itu berjalan. Sesampainya ke  sebuah  tempat
penjemuran   kurma   kepunyaan   dua  orang  anak  yatim  dari
Banu'n-Najjar, unta itu  berlutut  (berhenti).  Ketika  itulah
Rasul turun dari untanya dan bertanya:

"Kepunyaan siapa tempat ini?" tanyanya.

"Kepunyaan  Sahl  dan Suhail b. 'Amr," jawab Ma'adh b. 'Afra'.
Dia adalah wali kedua anak yatim  itu.  Ia  akan  membicarakan
soal  tersebut  dengan  kedua  anak  itu  supaya  mereka puas.
Dimintanya kepada Muhammad  supaya  di  tempat  itu  didirikan
mesjid.

Muhammad  mengabulkan  permintaan tersebut dan dimintanya pula
supaya di tempat itu didirikan mesjid dan tempat-tinggalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s