IKRAR ‘AQABA

ORANG-ORANG Quraisy tidak  dapat  memahami  arti  isra',  juga
mereka  yang  sudah  Islam  banyak yang tidak memahami artinya
seperti sudah disebutkan tadi. Itu sebabnya, ada kelompok yang
lalu  meninggalkan  Muhammad  yang  tadinya  sudah sekian lama
menjadi pengikutnya. Permusuhan Quraisy terhadap Muhammad  dan
terhadap kaum Muslimin makin keras juga, sehingga mereka sudah
merasa sungguh kesal karenanya. Rasanya tak ada  lagi  harapan
bagi  Muhammad  akan mendapat dukungan kabilah-kabilah sesudah
ternyata Thaqif dari Ta'if menolaknya dengan cara  yang  tidak
baik. Demikian juga kemudian kabilah-kabilah Kinda, Kalb, Banu
'Amir dan Banu  Hanifa  semua  menolaknya,  ketika  ia  datang
mengenalkan diri kepada mereka pada musim ziarah.

Sesudah  itu  Muhammad  merasa,  bahwa  tiada  seorangpun dari
Quraisy itu nampaknya  yang  dapat  diharapkan  diajak  kepada
kebenaran. Kabilah-kabilah lain di luar Quraisy yang berada di
sekitar Mekah dan yang datang berziarah  ke  tempat  itu  dari
segenap   penjuru   daerah   Arab,   melihat  keadaannya  yang
dikucilkan itu dan melihat sikap permusuhan Quraisy  kepadanya
demikian  rupa,  membuat  setiap  orang yang mendukungnya jadi
memusuhi mereka. Sekarang  sikap  Quraisy  tambah  keras  pula
menentangnya.

Meskipun  Muhammad  sudah  merasa  berbesar hati karena adanya
Hamzah dan 'Umar, dan meskipun ia sudah yakin,  bahwa  Quraisy
tidak  akan  terlalu  membahayakan  melebihi  yang sudah-sudah
mengingat adanya pertahanan pihak keluarganya dari Banu Hasyim
dan  Banu  Abd'l-Muttalib,  tapi ia melihat -sampai pada waktu
itu- bahwa risalah Tuhan itu akan terhenti  hanya  pada  suatu
lingkaran   pengikutnya   saja.   Mereka   yang  terdiri  dari
orang-orang yang masih lemah  dan  sedikit  sekali  jumlahnya,
hampir-hampir  saja  punah  atau tergoda meninggalkan agamanya
kalau tidak segera datang kemenangan  dan  pertolongan  Tuhan.
Hal  ini  berjalan  cukup  lama.  Muhammad makin dikucilkan di
tengah-tengah keluarganya, kedengkian Quraisy  juga  bertambah
besar.

Adakah  pengasingan yang demikian ini telah melemahkan jiwanya
dan dapat mematahkan semangatnya?  Sekali-kali  tidak!  Bahkan
kepercayaannya akan kebenaran yang datang dari Tuhan itu lebih
luhur daripada  sekedar  pertimbangan-pertimbangan  yang  akan
dapat  melemahkan  jiwa  biasa.  Bagi  orang yang berjiwa luar
biasa hal ini justru akan lebih memperkuat kepercayaannya.

Dalam  keadaan  terasing  itu  -  dengan  sahabat-sahabat   di
sekelilingnya  -  Muhammad  yakin sekali Tuhan akan memberikan
pertolongan kepadanya dan  agamanyapun  akan  mengatasi  semua
agama.  Badai  kedengkian  tidak sampai menggoyangkan hatinya.
Bahkan tetap ia tinggal di Mekah selama beberapa tahun.  Tidak
peduli  ia  harta  Khadijah  dan  hartanya sendiri akan habis.
Keadaannya yang sangat miskin tidak sampai melemahkan hatinya.
Jiwanya   tak   pernah  gandrung  kepada  apapun  selain  dari
pertolongan Tuhan yang sudah pasti akan diberikan kepadanya.

Apabila musim ziarah  sudah  tiba,  orang-orang  dari  segenap
jazirah  Arab  sudah  berkumpul  lagi  di  Mekah,  iapun mulai
menemui  kabilah-kabilah  itu.   Diajaknya   mereka   memahami
kebenaran  agama  yang  dibawanya  itu. Tidak peduli ia apakah
kabilah-kabilah  tidak  mau  menerima  ajakannya,  atau   akan
mengusirnya  secara  kasar. Beberapa orang pandir dari Quraisy
berusaha menghasut  ketika  diketahui  ia  terus  menyampaikan
amanat  Tuhan  itu kepada orang ramai. Mereka memperlakukannya
dengan segala  kejahatan.  Tetapi  semua  itu  tidak  mengubah
ketenangan  jiwanya  dan ia yakin sekali akan hari esok. Allah
Maha Agung  telah  mengutusnya  demi  kebenaran.  Sudah  tentu
Dialah  Pembela  dan  Pendukung kebenaran itu. Tuhan juga Yang
telah mewahyukan kepadanya, supaya  dalam  berdebat  hendaknya
dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya.

"Sehingga  permusuhan  antara  engkau  dengan  dia  itu  sudah
seperti persahabatan yang erat sekali. (Qur'an,  41:  34)  Dan
supaya  bicara  dengan mereka dengan lemah-lembut, kalau-kalau
mereka mau sadar dan merasa  gentar.  Jadi,  tabahkanlah  hati
menghadapi  siksaan  mereka.  Tuhan  bersama mereka yang tabah
hati.

Tidak selang berapa tahun kemudian Muhammad menunggu tiba-tiba
tampak   tanda  permulaan  kemenangan  itu  datang  dari  arah
Yathrib. Bagi Muhammad Yathrib mempunyai arti  hubungan  bukan
hubungan  dagang,  tetapi suatu hubungan yang dekat sekali. Di
tempat itu ada  sebuah  kuburan,  dan  sebelum  wafat,  sekali
setahun    ibunya    berziarah    ke    tempat   itu.   Sedang
famili-familinya,  dari  pihak  Banu  Najjar,  ialah  keluarga
kakeknya  Abd'l-Muttalib  dari  pihak  ibu.  Kuburan itu ialah
makam ayahnya, Abdullah b.  Abd'l-Muttalib.  Ke  makam  inilah
Aminah    sebagai    isteri   yang   setia   berziarah.   Dulu
Abd'l-Muttalib juga sebagai ayah  yang  kehilangan  anak  yang
sedang  muda belia dan tegap, pernah berziarah. Ketika berusia
enam tahun, Muhammad juga pernah ke Yathrib  menemani  ibunya.
Jadi  bersama  ibunya  ia  juga  ziarah  ke makam ayahnya itu.
Kemudian mereka berdua kembali pulang. Aminah jatuh  sakit  di
tengah  perjalanan,  sampai  wafat. Lalu dikuburkan di Abwa' -
pertengahan jalan antara Yathrib dengan Mekah.

Jadi  tidak  heranlah  apabila  tanda-tanda  kemenangan   bagi
Muhammad  itu  dimulai dari jurusan sebuah kota yang mempunyai
hubungan  sedemikian  rupa.  Ke  arah  ini  jugalah  dulu   ia
menghadap,  tatkala  dalam sembahyang itu al-Masjid'l-Aqsha di
Bait'l-Maqdis dijadikan kiblatnya, tempat sesepuhnya Musa  dan
Isa. Tidak heran apabila nasib baik itu akan jatuh di Yathrib.
Di tempat ini Muhammad akan beroleh kemenangan, di tempat  ini
Islam  akan  beroleh kemenangan, di tempat ini pula Islam akan
memperoleh sukses dan berkembang.

Nasib baik telah  jatuh  di  Yathrib,  suatu  hal  yang  tidak
terjadi  pada  kota  yang  lain. Waktu itu dua kabilah Aus dan
Khazraj adalah penyembah berhala  di  Yathrib.  Mereka  saling
bertetangga  dengan  orang-orang  Yahudi.  Sering  pula timbul
kebencian antara mereka itu  dan  dari  kebencian  ini  sampai
timbul pula peperangan.

Sejarah  memperlihatkan bahwa orang-orang Masehi di Syam, yang
berada di  bawah  pengaruh  Rumawi  Timur  (Bizantium)  sangat
membenci orang-orang Yahudi, sebab mereka percaya bahwa mereka
inilah yang telah menyiksa dan menyalib Isa  al-Masih.  Mereka
menyerbu  Yathrib  guna  memerangi  orang-orang  Yahudi.  Akan
tetapi karena tidak berhasil mereka lalu membujuk dan  meminta
bantuan  Aus  dan  Khazraj.  Tidak  sedikit jumlah orang-orang
Yahudi  itu  kemudian  yang  mereka  bunuh.  Dengan   demikian
kedudukan    orang-orang   Yahudi   sebagai   yang   dipertuan
dijatuhkan, dan orang-orang Arab kabilah Aus dan Khazraj  yang
tadinya  terbatas  hanya sebagai kuli telah dinaikkan. Sesudah
itu  orang-orang  Arab  itu  berusaha  lagi  akan   menghantam
orang-orang  Yahudi  supaya  kekuasaan  mereka  atas kota yang
makmur dan subur dengan pertanian  dan  air  itu  lebih  besar
lagi. Siasat mereka ini berhasil baik sekali.

Tetapi  pihak  Yahudi  sendiri kemudian menyadari akan bencana
yang menimpa diri mereka itu. Permusuhan dan  kebencian  pihak
Yahudi  Yathrib  terhadap  Aus dan Khazraj makin mendalam, Aus
dan Khazrajpun demikian juga terhadap Yahudi.

Sekarang pengikut-pengikut Musa ini melihat, bahwa pertempuran
yang  dilawan  dengan  pertempuran  berarti  akan menghabiskan
mereka sama sekali,  apalagi  kalau  Aus  dan  Khazraj  sampai
bersahabat  baik2 dengan orang-orang Arab, yang seagama dengan
Ahli Kitab. Maka dalam siasat mereka,  mereka  menempuh  suatu
cara  bukan  mencari  kemenangan  dalam pertempuran, melainkan
dengan  menggunakan  siasat  memecah-belah.  Mereka  melakukan
intrik  di  kalangan Aus dengan Khazraj, menyebarkan provokasi
permusuhan  dan   kebencian   di   kalangan   mereka,   supaya
masing-masing pihak selalu bersiap-siap akan saling bertempur.

Dengan  demikian  selamatlah  propaganda  mereka  itu.  Mereka
sekarang dapat memperbesar perdagangan  dan  kekayaan  mereka.
Kekuasaan mereka yang sudah hilang dapat mereka rebut kembali,
termasuk rumah-rumah dan harta tidak bergerak lainnya.

Di samping konflik karena  berebut  kedaulatan  dan  kekuasaan
dalam  hidup  bertetangga  Yahudi-Arab  Yathrib itu, masih ada
pengaruh lain yang lebih dalam  pada  pihak  Aus  dan  Khazraj
melebihi penduduk jazirah Arab yang manapun juga - yaitu dalam
arti pengaruh rohani.

Orang-orang  Yahudi   sebagai   Ahli   Kitab   dan   penganjur
monotheisma   sangat  mencela  tetangga-tetangga  mereka  yang
terdiri dari  kaum  pagan  dengan  penyembah  berhala  sebagai
pendekatan kepada Tuhan.

Mereka  diperingatkan  bahwa  kelak akan ada seorang nabi yang
akan  menghabiskan  mereka  dan   mendukung   Yahudi.   Tetapi
propaganda  ini  tidak sampai membuat orang-orang Arab itu mau
menganut agama  Yahudi.  Soalnya  karena  dua  sebab:  pertama
karena  selalu ada perang antara kaum Nasrani dan kaum Yahudi,
yang lalu membuat Yahudi Yathrib  hanya  hidup  cari  selamat,
yang  berarti  akan  menjamin  lancarnya  perdagangan  mereka.
Kedua, orang-orang Yahudi  beranggapan,  bahwa  mereka  adalah
bangsa  pilihan  Tuhan,  dan  mereka tidak mau ada bangsa lain
memegang kedudukan ini.  Disamping  itu  mereka  memang  tidak
pernah  mengajak  orang  lain  menganut agamanya dan merekapun
tidak pula keluar dari lingkungan Keluarga Israil. Atas  dasar
ke  dua  sebab tersebut, hubungan tetangga dan hubungan dagang
antara Yahudi dengan Arab -Aus dan  Khazraj  -  membuat  lebih
banyak mengetahui cerita-cerita kerohanian dan masalah-masalah
agama lainnya di banding dengan golongan Arab yang  lain.  Ini
menunjukkan  bahwa  tak  ada suatu golongan dari kalangan Arab
yang dapat  menerima  ajakan  Muhammad  dalam  arti  spiritual
seperti yang dilakukan oleh penduduk Yathrib itu.

Suwaid  bin'sh-Shamit  adalah  seorang  bangsawan terkemuka di
Yathrib. Karena  ketabahannya,  pengetahuannya,  kebangsawanan
dan  keturunannya, masyarakatnya sendiri menamakannya al-Ramil
(yang sempurna). Pada waktu  membicarakan  ini  Suwaid  sedang
berada  di  Mekah  berziarah.  Muhammad  lalu  menemuinya  dan
diajaknya ia mengenal Tuhan dan menganut Islam.

"Barangkali yang ada padamu itu sama dengan yang ada  padaku,"
kata Suwaid.

"Apa yang ada padamu?" tanya Muhammad.

"Kata-kata mutiara oleh Luqman."

Lalu Muhammad minta supaya hal itu dikemukakan.

"Memang  itu  kata-kata yang baik," kata Muhammad setelah oleh
Suwaid  dikemukakan.  "Tapi  yang  ada  padaku   lebih   utama
tentunya, yaitu Qur'an sebagai bimbingan dan cahaya."

Lalu  dibacakannya  ayat-ayat  Qur'an  itu  kepadanya disertai
ajakan agar ia sudi  menerima  Islam.  Gembira  sekali  Suwaid
mendengar ini.

"Memang  baik  sekali  ini,"  katanya.  Lalu  ia  pergi hendak
memikirkan hal tersebut.  Ada  sementara  orang  yang  berkata
ketika ia dibunuh oleh Khazraj, bahwa ia mati sebagai Muslim.

Peristiwa  Suwaid b. Shamit ini bukan contoh satu-satunya yang
menunjukkan adanya pengaruh Yahudi dan Arab  di  Yathrib  yang
bertetangga itu, dari segi rohani.

Keadaan  Aus dan Khazraj yang begitu bermusuhan sebagai akibat
provokasi pihak Yahudi seperti yang sudah kita  ketahui,  satu
sama  lain  mencari  sekutu  di  kalangan kabilah-kabilah Arab
untuk memerangi  lawannya.  Dalam  hal  ini  kedatangan  Abu'l
Haisar  Ans b. Rafi' ke Mekah disertai pemuda-pemuda dari Banu
Abd'l-Asyhal - termasuk Iyas b. Mu'adh - adalah  dalam  rangka
mencari  persekutuan  dengan  pihak  Quraisy  dan  golongannya
sendiri dari  pihak  Khazraj.  Muhammad  mengetahui  hal  ini.
Ditemuinya  mereka  itu,  dan  diperkenalkannya  Islam  kepada
mereka. Lalu dibacanya ayat-ayat Qur'an kepada mereka.

Pada  waktu  itu,  Iyas   b.Mu'adh   sebagai   pemuda   remaja
mengatakan:  "Kawan-kawan,  ini adalah lebih baik daripada apa
yang ada pada kita semua."

Mereka kemudian kembali pulang ke Yathrib. Tak ada yang  masuk
Islam  diantara  mereka  itu, selain Iyas. Mereka semua sedang
sibuk mencari sekutu sebagai  suatu  persiapan  karena  adanya
insiden  Bu'ath yang telah melibatkan Aus dan Khazraj ke dalam
api perang saudara itu, tidak lama sesudah  Abu'l  Haisar  dan
rombongannya   kembali   dari  Mekah.  Akan  tetapi  kata-kata
Muhammad 'alaihissalam telah meninggalkan bekas yang dalam  ke
dalam  jiwa  mereka  setelah terjadinya insiden itu, yang lalu
membuat Aus dan  Khazraj  menantikan  Muhammad  sebagai  Nabi,
sebagai Rasul, sebagai wakil dan pemuka mereka.

Memang,  terjadinya  insiden  Bu'ath  itu  tidak  lama sesudah
Abu'l-Haisar kembali ke Yathrib. Pada waktu itulah pertempuran
sengit  antara  Aus  dan  Khazraj terjadi, yang membawa akibat
timbulnya  permusuhan  yang  berakar  dalam   sekali.   Setiap
golongan  lalu  bertanya-tanya  kalau-kalau  mereka  itu  yang
menang: akan tetapkah mereka dengan  kawan-kawan  mereka  itu,
ataukah  akan  dikikis habis. Abu Usaid Hudzair sebagai pemuka
Aus, sangat dendam sekali kepada Khazraj.

Tatkala pertempuran sudah dimulai, pihak Aus  mengalami  suatu
kekacauan.  Mereka  lari  tunggang-langgang ke arah Najd, yang
oleh pihak Khazraj  lalu  diejek.  Hudzair  yang  mendengarkan
ejekan  itu menetakkan ujung lembingnya ke pahanya; lalu turun
dengan mengatakan:

"Sungguh luarbiasa! Tidak akan tinggal diam sebelum  aku  mati
terbunuh.  Wahai  masyarakat  Aus,  kalau kamu mau menyerahkan
aku, lakukanlah!"

Pihak Aus sekarang mau bertempur lagi. Pengalaman  pahit  yang
telah   menimpa   mereka   menyebabkan  mereka  kini  berjuang
mati-matian. Khazraj dapat mereka hancurkan.  Rumah-rumah  dan
kebun  kurma Khazraj oleh Aus dibakar. Kemudian Sa'd b. Mu'adh
al-Asyhadi bertindak melindungi Khazraj. Sementara itu Hudzair
bermaksud   akan   mendatangi   rumah  demi  rumah,  membunuhi
satu-satu mereka sampai tak ada yang hidup lagi,  kalau  tidak
segera  Abu  Qais ibn'l-Aslat kemudian datang mencegahnya guna
menjaga solidaritas kepercayaan  mereka.  "Bertetangga  dengan
mereka lebih baik daripada bertetangga dengan rubah."

Sejak  itu orang-orang Yahudi dapat mengembalikan kedudukannya
di Yathrib. Baik yang menang maupun yang kalah  dari  kalangan
Aus  dan  Khazraj  sama-sama  berpendapat tentang akibat buruk
yang telah mereka lakukan itu. Hal ini yang sekarang  terpikir
oleh  mereka,  dan  mereka  sudah  mempertimbangkan  pula akan
mengangkat seorang raja atas mereka itu. Untuk itu mereka lalu
memilih  Abdullah  b.  Muhammad  dari pihak Khazraj yang sudah
kalah, mengingat kedudukan dan pandangannya  yang  baik.  Akan
tetapi   karena   perkembangan   situasi  yang  begitu  pesat,
keinginan mereka itu tidak sampai  terlaksana.  Soalnya  ialah
karena  ada  beberapa  orang  dari Khazraj pergi ke Mekah pada
musim ziarah.

Di tempat ini Muhammad menemui mereka dan  menanyakan  keadaan
mereka,   yang  kemudian  diketahuinya,  bahwa  mereka  adalah
kawan-kawan orang-orang Yahudi. Ketika itu orang-orang  Yahudi
di Yathrib mengatakan apabila mereka saling berselisih.

"Sekarang  akan ada seorang nabi utusan Tuhan yang sudah dekat
waktunya. Kami akan jadi pengikutnya dan kami dengan dia  akan
memerangi kamu seperti dalam perang 'Ad dan Iram."

Setelah   Nabi  bicara  dengan  mereka  dan  diajaknya  mereka
bertauhid  kepada  Allah,  satu  sama   lain   mereka   saling
berpandang-pandangan.

"Sungguh inilah Nabi yang pernah dijanjikan orang-orang Yahudi
kepada kita," kata mereka. "Jangan  sampai  mereka  mendahului
kita."

Seruan  Muhammad mereka sambut dengan baik dan menyatakan diri
mereka masuk Islam. Lalu kata mereka:

"Kami telah meninggalkan golongan kami - yakni Aus dan Khazraj
-  dan  tidak  ada  lagi  golongan  yang saling bermusuhan dan
saling mengancam.  Mudah-mudahan  Tuhan  mempersatukan  mereka
dengan  tuan.  Bila mereka itu sudah dapat dipertemukan dengan
tuan, maka tak adalah orang yang lebih mulia dari tuan."

Orang-orang itu lalu kembali ke Medinah.  Dua  orang  diantara
mereka  itu  dari  Banu'n-Najjar, keluarga Abd'l-Muttalib dari
pihak ibu - kakek Muhammad yang telah mengasuhnya sejak kecil.
Kepada  masyarakatnya  itu  mereka  menyatakan  sudah menganut
Islam. Ternyata merekapun menyambut pula  dengan  senang  hati
agama  ini,  yang berarti akan membuat mereka menjadi golongan
monotheis seperti orang-orang  Yahudi.  Bahkan  membuat  lebih
baik  dari  mereka.  Dengan  demikian tiada suatu keluargapun,
baik Aus atau  Khazraj,  yang  tidak  menyebut  nama  Muhammad
'alaihissalam.

Tiba giliran tahun berikutnya, bulan-bulan sucipun datang lagi
bersama datangnya musim ziarah ke Mekah,  dan  ke  tempat  itu
datang  pula  duabelas  orang  penduduk  Yathrib.  Mereka  ini
bertemu  dengan  Nabi  di  'Aqaba.  Di  tempat  inilah  mereka
menyatakan  ikrar  atau  berjanji  kepada  Nabi (yang kemudian
dikenal dengan nama) Ikrar  'Aqaba  pertama.  Mereka  berikrar
kepadanya untuk tidak menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak
berzina,  tidak  membunuh  anak-anak,  tidak   mengumpat   dan
memfitnah,  baik  di depannya atau di belakang. Jangan menolak
berbuat kebaikan. Barangsiapa mematuhi semua itu  ia  mendapat
pahala  surga,  dan  kalau  ada  yang  mengecoh,  maka soalnya
kembali kepada Tuhan. Tuhan berkuasa menyiksa,  juga  berkuasa
mengampuni segala dosa.

Dalam  hal  ini  Muhammad menugaskan kepada Mush'ab bin 'Umair
supaya membacakan  Qur'an  kepada  mereka,  mengajarkan  Islam
serta seluk-beluk hukum agama.

Setelah  adanya  ikrar  ini  Islam  makin tersebar di Yathrib.
Mush'ab  bertugas  memberikan  pelajaran  agama  di   kalangan
Muslimin  Aus  dan  Khazraj.  Gembira  sekali  ia melihat kaum
Anshar itu makin teguh kepercayaannya kepada Allah dan  kepada
kebenaran.  Menjelang  bulan-bulan  suci  akan tiba, ia datang
lagi ke  Mekah  dan  kepada  Muhammad  diceritakannya  keadaan
Muslimin  di  Yathrib  itu;  tentang  ketahanan  dan  kekuatan
mereka, dan bahwa pada musim haji tahun ini mereka akan datang
lagi ke Mekah dalam jumlah yang lebih besar dengan iman kepada
Tuhan yang sudah lebih kuat.

Berita-berita  yang  disampaikan  oleh  Mush'ab  ini   membuat
Muhammad  berpikir  lebih  lama  lagi. Pengikut-pengikutnya di
Yathrib kini makin sehari makin berkuasa  dan  bertambah  kuat
juga.  Dari  orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik mereka
tidak   mendapat   gangguan   seperti   yang   dialami    oleh
kawan-kawannya  di  Mekah  karena gangguan Quraisy. Di samping
itu Yathrib lebih makmur daripada Mekah - ada  pertanian,  ada
kebun  kurma,  ada  anggur. Bukankah lebih baik sekali apabila
Muslimin Mekah  itu  hijrah  saja  ke  tempat  saudara-saudara
mereka di sana, yang akan terasa lebih aman? Mereka akan bebas
dari Quraisy yang selalu memfitnah agama mereka.

Selama  Muhammad  berpikir-pikir  itu  teringat  olehnya  akan
orang-orang  dari  Yathrib,  mereka yang mula-mula masuk Islam
itu, dan yang menceritakan adanya permusuhan  antara  golongan
Aus  dan  Khazraj.  Apabila  dengan  perantaraannya mereka itu
sudah dapat dipersatukan Tuhan, maka tak ada orang yang  lebih
mulia  dari Muhammad. Sekarang mereka sudah dipertemukan Allah
bersama dia, bukankah lebih baik apabila dia juga  hijrah?  Ia
tidak  ingin membalas kejahatan Quraisy itu. Iapun sadar bahwa
ia lebih lemah  dari  mereka.  Kalaupun  Keluarga  Hasyim  dan
Keluarga  Muttalib  melindunginya  dari  penganiayaan,  mereka
tidak akan membelanya dalam melakukan penganiayaan. Dan mereka
yang  sudah  menjadi  pengikutnya juga takkan dapat melindungi
diri dari penganiayaan Quraisy dan segala macam kejahatannya.

Apabila iman itu merupakan landasan  yang  paling  kuat,  yang
akan  membuat  segalanya  di  hadapan  kita menjadi kecil, dan
untuk itu dengan segala senang hati orang  mengorbankan  harta
bendanya,  kesenangan, kebebasan dan seluruh hidupnya, apabila
penganiayaan itu dengan sendirinya akan membuat iman seseorang
bertambah   dalam,  maka  penganiayaan  dan  pengorbanan  yang
terus-menerus itu  bagi  seorang  mukmin  akan  membuatnya  ia
merenungkan  lebih  dalam  lagi,  akan memberinya ruangan yang
lebih luas serta pengertian tentang kebenaran yang lebih dalam
dan   kuat.   Dahulu   Muhammad   pernah  menganjurkan  kepada
pengikut-pengikutnya  supaya  mereka  mengungsi  ke   Abisinia
daerah Kristen, karena di situ ada kebenaran, ada seorang raja
yang adil. Maka akan lebih baiklah bila sekarang kaum Muslimin
itu  mengungsi ke Yathrib, dapat saling memperkuat diri dengan
sahabat-sahabat  kaum   Muslimin   di   sana,   dapat   saling
tolong-menolong  dalam  menahan  bahaya  yang  mungkin menimpa
mereka. Dengan begitu mereka  akan  mendapat  kebebasan  dalam
merenungkan  agama serta berterang-terang pula guna mengangkat
martabat mereka, sebagai jaminan suksesnya dakwah  agama  ini,
suatu  dakwah  yang tidak mengenal paksaan, melainkan dasarnya
adalah kasih-sayang, dapat  meyakinkan  dan  bertukar  pikiran
dengan cara yang baik.

Tahun ini - 622 M - jemaah haji dari Yathrib praktis jumlahnya
banyak sekali, terdiri dari tujuhpuluh lima orang,  tujuhpuluh
tiga  pria  dan  dua wanita. Mengetahui kedatangan mereka ini,
terpikir oleh Muhammad akan mengadakan suatu ikrar lagi, tidak
terbatas  hanya  pada  seruan kepada Islam seperti selama ini,
yang selama tigabelas tahun  ini  terus-menerus  dilakukannya,
dengan  lemah-lembut,  dengan  segala  kesabaran  menang  gung
pelbagai macam pengorbanan  dan  kesakitan  -  melainkan  kini
lebih  jauh  lagi  dari itu. Ikrar itu hendaknya menjadi suatu
pakta persekutuan, yang dengan demikian  kaum  Muslimin  dapat
mempertahankan  diri: pukulan dibalas dengan pukulan, serangan
dengan serangan. Muhammad lalu  mengadakan  pertemuan  rahasia
dengan pemimpin-pemimpin mereka.

Setelah ada kesediaan mereka, dijanjikannya pertemuan itu akan
diadakan di 'Aqaba pada tengah malam pada hari-hari  Tasyriq.3
Peristiwa  ini  oleh  Muslimin Yathrib tetap dirahasiakan dari
kaum musyrik yang datang bersama-sama mereka. Menunggu  sampai
lewat  sepertiga  malam  dari janji mereka dengan Nabi, mereka
keluar  meninggalkan  kemah,  pergi  mengendap-endap   seperti
burung  ayam-ayam, sembunyi-sembunyi jangan sampai rahasia itu
terbongkar.

Sesampai mereka  di  gunung  'Aqaba,  mereka  semua  memanjati
lereng-lereng gunung tersebut, demikian juga kedua wanita itu.
Mereka tinggal di tempat ini menunggu kedatangan Rasul.

Kemudian Muhammad  pun  datang,  bersama  pamannya  'Abbas  b.
Abd'l-Muttalib   -   yang   pada   waktu  itu  masih  menganut
kepercayaan golongannya sendiri. Akan tetapi sejak sebelum itu
ia  sudah  mengetahui  dari kemenakannya ini akan adanya suatu
pakta persekutuan; dan adakalanya hal ini dapat  mengakibatkan
perang. Disebutkan juga, bahwa dia sudah mengadakan perjanjian
dengan Keluarga Muttalib dan Keluarga Hasyim untuk  melindungi
Muhammad.  Maka  dimintanya  ketegasan  kemanakannya  itu  dan
ketegasan golongannya  sendiri,  supaya  jangan  kelak  timbul
bencana   yang  akan  menimpa  Keluarga  Hasyim  dan  Keluarga
Muttalib, dan dengan demikian berarti orang-orang Yathrib  itu
akan  kehilangan  pembela. Atas dasar itulah, maka 'Abbas yang
pertama kali bicara.

"Saudara-saudara dari Khazraj!" kata 'Abbas. "Posisi  Muhammad
di  tengah-tengah kami sudah sama-sama tuan-tuan ketahui. Kami
dan mereka yang sepaham dengan kami telah  melindunginya  dari
gangguan  masyarakat  kami  sendiri.  Dia  adalah  orang  yang
terhormat di kalangan masyarakatnya dan mempunyai kekuatan  di
negerinya sendiri. Tetapi dia ingin bergabung dengan tuan-tuan
juga. Jadi kalau memang tuan-tuan merasa dapat menepati  janji
seperti   yang  tuan-tuan  berikan  kepadanya  itu  dan  dapat
melindunginya dari mereka yang menentangnya,  maka  silakanlah
tuan-tuan   laksanakan.  Akan  tetapi,  kalau  tuan-tuan  akan
menyerahkan dia dan membiarkannya terlantar sesudah berada  di
tempat  tuan-tuan,  maka  dari  sekarang lebih baik tinggalkan
sajalah."

Setelah mendengar keterangan 'Abbas  pihak  Yathrib  menjawab:
"Sudah  kami  dengar  apa  yang tuan katakan. Sekarang silakan
Rasulullah bicara. Kemukakanlah  apa  yang  tuan  senangi  dan
disenangi Tuhan."

Setelah  membacakan  ayat-ayat  Qur'an  dan  memberi  semangat
Islam, Muhammad menjawab:

"Saya minta ikrar tuan-tuan akan membela saya seperti  membela
isteri-isteri dan anak-anak tuan-tuan sendiri."

Ketika  itu  Al-Bara'  b.  Ma'rur  hadir. Dia seorang pemimpin
masyarakat dan yang  tertua  di  antara  mereka.  Sejak  ikrar
'Aqaba pertama ia sudah Islam, dan menjalankan semua kewajiban
agama, kecuali dalam sembahyang ia berkiblat ke Ka'bah, sedang
Muhammad  dan  seluruh kaum Muslimin waktu itu masih berkiblat
ke  al-Masjid'l-Aqsha.  Oleh  karena  ia  berselisih  pendapat
dengan  masyarakatnya  sendiri,  begitu mereka sampai di Mekah
segera  mereka  minta  pertimbangan  Nabi.  Muhammad  melarang
Al-Bara' berkiblat ke Ka'bah.

Setelah  tadi  Muhammad  minta  kepada Muslimin Yathrib supaya
membelanya seperti mereka membela isteri dan anak-anak  mereka
sendiri,   Al-Bara'   segera   mengulurkan  tangan  menyatakan
ikrarnya seraya berkata:  "Rasulullah,  kami  sudah  berikrar.
Kami  adalah  orang  peperangan  dan ahli bertempur yang sudah
kami warisi dari leluhur kami."

Tetapi  sebelum   Al-Bara'   selesai   bicara,   Abu'l-Haitham
ibn't-Tayyihan datang menyela:

"Rasulullah,  kami  dengan orang-orang itu - yakni orang-orang
Yahudi  -  terikat  oleh  perjanjian,  yang  sudah  akan  kami
putuskan. Tetapi apa jadinya kalau kami lakukan ini lalu kelak
Tuhan memberikan kemenangan kepada  tuan,  tuan  akan  kembali
kepada masyarakat tuan dan meninggalkan kami?"

Muhammad  tersenyum,  dan katanya: "Tidak, saya sehidup semati
dengan  tuan-tuan.  Tuan-tuan  adalah  saya  dan  saya  adalah
tuan-tuan.  Saya  akan  memerangi  siapa  saja  yang tuan-tuan
perangi,  dan  saya  akan  berdamai  dengan  siapa  saja  yang
tuan-tuan ajak berdamai."

Tatkala  mereka  siap  akan  mengadakan  ikrar  itu, 'Abbas b.
'Ubada datang menyela dengan mengatakan: "Saudara-saudara dari
Khazraj.  Untuk  apakah  kalian  memberikan ikrar kepada orang
ini? Kamu menyatakan ikrar dengan dia tidak  melakukan  perang
terhadap  yang hitam dan yang merah4 melawan orang-orang itu.5
Kalau tuan-tuan merasa, bahwa jika harta benda tuan-tuan habis
binasa  dan  pemuka-pemuka  tuan-tuan mati terbunuh, tuan-tuan
akan menyerahkan dia (kepada musuh), maka  (lebih  baik)  dari
sekarang tinggalkan saja dia. Kalaupun itu juga yang tuan-tuan
lakukan,  ini  adalah  suatu  perbuatan  hina  dunia  akhirat.
Sebaliknya, bila tuan-tuan memang dapat menepati janji seperti
yang tuan-tuan berikan kepadanya  itu,  sekalipun  harta-benda
tuan-tuan   akan   habis  dan  bangsawan-bangsawan  akan  mati
terbunuh, maka silakan saja tuan-tuan terima dia. Itulah suatu
perbuatan yang baik, dunia akhirat."

Orang ramai itu menjawab:

"Akan   kami   terima,   sekalipun   harta-benda  kami  habis,
bangsawan-bangsawan kami terbunuh. Tetapi,  Rasulullah,  kalau
dapat kami tepati semua ini, apa yang akan kami peroleh?"

"Surga," jawab Muhammad dengan tenang dan pasti.

Mereka  lalu  mengulurkan  tangan  dan  dia juga membentangkan
tangannya. Ketika itu mereka menyatakan ikrar kepadanya.

Selesai ikrar itu, Nabi berkata kepada mereka:

"Pilihkan dua belas orang  pemimpin  dari  kalangan  tuan-tuan
yang akan menjadi penanggung-jawab masyarakatnya."

Mereka lalu memilih sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang
dari Aus. Kemudian kepada pemimpin-pemimpin itu Nabi berkata:

"Tuan-tuan  adalah   penanggung-jawab   masyarakat   tuan-tuan
seperti  pertanggung-jawaban pengikut-pengikut Isa bin Mariam.
Terhadap masyarakat saya, sayalah yang bertanggungjawab."

Dalam ikrar kedua ini mereka berkata:

"Kami berikrar mendengar dan setia di waktu suka dan duka,  di
waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar
di mana saja kami berada, dan kami tidak takut kritik siapapun
atas jalan Allah ini."

Peristiwa  ini  selesai  pada  tengah  malam  di  celah gunung
'Aqaba, jauh dari masyarakat ramai,  atas  dasar  kepercayaan,
bahwa hanya Allah Yang mengetahui keadaan mereka. Akan tetapi,
begitu peristiwa itu selesai, tiba-tiba mereka  mendengar  ada
suara  berteriak  yang ditujukan kepada Quraisy: "Muhammad dan
orang-orang yang pindah kepercayaan itu sudah  berkumpul  akan
memerangi kamu!"

Suara itu datangnya dari seseorang yang keluar untuk urusannya
sendiri. Mengetahui keadaan mereka itu sedikit dengan  melalui
pendengarannya   yang   selintas,  ia  lalu  bermaksud  hendak
mengacaukan rencana itu dan mau menanamkan  kegelisahan  dalam
hati  mereka,  bahwa  rencana mereka malam itu diketahui. Akan
tetapi pihak Khazraj dan Aus tetap pada janji  mereka.  Bahkan
'Abbas  b.  'Ubada - setelah mendengar suara simata-mata itu -
berkata kepada Muhammad:

"Demi Allah Yang telah mengutus  tuan  atas  dasar  kebenaran,
kalau  sekiranya  tuan sudi, penduduk Mina itu besok akan kami
habiskan dengan pedang kami."

Ketika itu Muhammad menjawab:

"Kami tidak  diperintahkan  untuk  itu.  Kembalilah  ke  kemah
tuan-tuan."

Merekapun  kembali  ke  tempat  mereka  bermalam,  lalu tidur.
Keesokan harinya pagi-pagi baru mereka bangun.

Akan tetapi pagi itu  juga  Quraisy  sudah  mengetahui  berita
adanya   ikrar   itu.   Mereka   terkejut   sekali.  Pagi  itu
pemuka-pemuka  Quraisy   mendatangi   Khazraj   di   tempatnya
masing-masing.  Mereka  menyesalkan  Khazraj  dan  mengatakan,
bahwa mereka tidak  ingin  berperang  dengan  Khazraj.  Tetapi
kenapa  mau bersekutu dengan Muhammad memerangi mereka. Ketika
itu   juga   orang-orang   musyrik   dari   kalangan   Khazraj
bersumpah-sumpah  bahwa hal semacam itu tidak ada sama sekali.
Sedang Muslimin malah diam  saja  setelah  dilihatnya  Quraisy
lagaknya  akan mempercayai keterangan orang-orang yang seagama
dengan mereka itu.

Sekarang Quraisy kembali tanpa dapat mengiakan atau meniadakan
berita  tersebut. Tetapi mereka terus menyelidiki, kalau-kalau
dapat mengungkapkan keadaan  yang  sebenarnya.  Sementara  itu
orang-orang  Yathrib  sudah  mengangkat  perbekalan mereka dan
kembali menuju negeri mereka sebelum pihak Quraisy  mengetahui
benar apa yang mereka lakukan itu.

Setelah  kemudian  Quraisy mengetahui, bahwa berita itu memang
benar,  mereka  berangkat  mencari  orang-orang  Yathrib  itu.
Tetapi sudah tak ada lagi yang akan dapat mereka jumpai selain
Sa'd b. 'Ubada, yang lalu diambil dan dibawanya ke  Mekah.  Ia
disiksa.   Tetapi  kemudian  Jubair  b.  Mut'im  b.  'Adi  dan
al-Harith b. Umayya datang menolongnya. Dulu orang ini  pernah
menolong  mereka ketika mereka dalam perjalanan perdagangan ke
Syam lewat Yathrib.

Kalau    begitu    kekuatiran    Quraisy     kiranya     tidak
berlebih-lebihan, begitu juga dalam mengejar jejak mereka yang
telah ikrar kepada Muhammad akan memerangi mereka itu.  Mereka
telah  mengenalnya selama tigabelas tahun terus-menerus, sejak
permulaan  kenabiannya.  Mereka  sudah  berusaha   mati-matian
melancarkan  perang  pasif  itu  kepadanya,  dan masing-masing
sudah pula menghadapinya. Mereka mengetahui itu adalah  karena
keyakinannya  kepada  Tuhan, karena teguhnya ia berpegang pada
ajaran yang benar. Ia sudah tak dapat dilunakkan dan tak dapat
pula  dibujuk.  Ia  tak  pernah  gentar  menghadapi  gangguan,
menghadapi siksaan,  menghadapi  pembunuhan.  Sesudah  ia  dan
pengikut-pengikutnya  disakiti dengan pelbagai macam gangguan,
sesudah ia dikepung di  celah-celah  bukit,  seluruh  penduduk
Mekah  diteror  dengan  bermacam-macam ketakutan supaya jangan
jadi pengikutnya, terbayang oleh Quraisy  bahwa  mereka  sudah
hampir  mengalahkannya,  kegiatannya hanya akan terbatas dalam
lingkaran sempit  pengikut-pengikutnya  yang  masih  berpegang
pada  agama  itu  saja.  Dia dan sahabat-sahabatnya tidak lama
lagi sudah akan  jemu  dalam  pengasingan,  dan  akan  kembali
tunduk menyerah di bawah kekuasaan mereka.

Tetapi  sekarang,  dengan  adanya  perjanjian persekutuan baru
ini, pintu harapan akan menang jadi terbuka  didepan  Muhammad
dan  pengikut-pengikutnya.  Setidak-tidaknya harapan kebebasan
menyebarkan  agama,  serta   menyerang   berhala-berhala   dan
penyembah-penyembahnya. Siapa tahu apa yang akan terjadi kelak
terhadap masyarakat  seluruh  jazirah  Arab  itu,  bila  sudah
mendapat  bantuan  Yathrib  berikut  Aus  dan  Khazrajnya, dan
sesudah mendapat perlindungan dari  serangan  musuh,  disertai
adanya  kebebasan melakukan upacara agama serta mengajak pihak
lain turut  bergabung.  Kalau  Quraisy  tidak  dapat  mengikis
gerakan  ini  di tanah tumpah darahnya sendiri maka kekuatiran
mereka pada  hari  kemudiannya  tetap  selalu  membayang,  dan
kemenangan Muhammad terhadap mereka masih tetap menggelisahkan
mereka.

Oleh karena itu sungguh-sungguh  mereka  memikirkan  apa  yang
harus  mereka  lakukan  guna  menggagalkan usaha Muhammad itu,
serta menghancurkan gerakan barunya. Demikian juga dia sendiri
tidak kurang dari Quraisy dalam memikirkan hal ini. Pintu yang
telah dibukakan Tuhan di hadapannya itu ialah pintu kehormatan
bagi  agama  Allah,  pintu  yang akan memberi tempat pada arti
kebenaran. Perjuangan  yang  sekarang  berkecamuk  antara  dia
dengan pihak Quraisy, adalah suatu peristiwa yang paling hebat
terjadi sejak masa kerasulannya, yakni suatu perjuangan  hidup
atau  mati bagi kedua belah pihak. Sudah tentu, kemenangan itu
ada pada pihak yang benar. Keputusannya sudah bulat.  Bolehlah
ia  minta  pertolong  an Tuhan. Biarlah, segala tipu-daya yang
sudah dilakukan  Quraisy  itu  akan  bersifat  lebih  menghina
mereka  sendiri melebihi yang sudah-sudah. Ia akan terus maju,
tapi dengan sikap bijaksana, tenang dan hati-hati.  Masalahnya
adalah   masalah  kecekatan  politik  dan  kecerdikan  seorang
pemimpin yang saksama.

Dimintanya sahabat-sahabatnya supaya menyusul kaum  Anshar  ke
Yathrib.  Hanya saja dalam meninggalkan Mekah hendaknya mereka
terpencar-pencar, supaya jangan sampai  menimbulkan  kepanikan
pihak Quraisy terhadap mereka.

Mulailah kaum Muslimin melakukan hijrah secara sendiri-sendiri
atau kelompok-kelompok kecil.  Akan  tetapi  hal  itu  rupanya
sudah  diketahui  oleh pihak Quraisy. Mereka segera bertindak,
berusaha mengembalikan yang masih dapat  dikembalikan  itu  ke
Mekah untuk kemudian dibujuk supaya kembali kepada kepercayaan
mereka, kalau tidak akan disiksa dan  dianiaya.  Sampai-sampai
tindakan  itu  ialah dengan cara memisahkan suami dari isteri;
kalau si isteri dari pihak Quraisy ia tidak  dibolehkan  pergi
ikut  suami.  Yang  tidak  menurut, isterinya yang masih dapat
mereka kurung,  dikurung.

Akan tetapi mereka takkan dapat berbuat lebih dari itu. Mereka
kuatir  akan  pecah  perang  saudara antar-kabilah jika mereka
mencoba membunuh salah seorang dari kabilah itu.

Berturut-turut  kaum  Muslimin  hijrah  ke   Yathrib,   sedang
Muhammad   tetap   berada   di  posnya.  Tak  ada  orang  yang
mengetahui, dia akan tetap tinggal di tempatnya itu atau sudah
mengambil keputusan akan hijrah juga. Dahulu juga mereka tidak
mengetahui,  ketika  sahabat-sahabatnya  diijinkan  hijrah  ke
Abisinia,   sedang  dia  sendiri  tetap  di  Mekah  menyerukan
anggota-anggota keluarganya yang lain ke dalam  Islam.  Bahkan
Abu  Bakrpun,  ketika minta ijin akan turut hijrah ke Yathrib,
ia hanya  berkata:  "Jangan  tergesa-gesa;  kalau-kalau  Tuhan
menyertakan seorang kawan." Dan tidak lebih dari itu.

Sungguhpun  begitu  pihak  Quraisy  sendiri  sudah seribu kali
memperhitungkan  hijrah  Nabi  ke  Yahtrib  itu.  Jumlah  kaum
Muslimin  di  sana  sudah begitu banyak sehingga hampir-hampir
mereka itu menjadi pihak yang menentukan. Sekarang datang pula
mereka  yang  hijrah  dari  Mekah menggabungkan diri, sehingga
mereka jadi  bertambah  kuat  juga  adanya.  Dalam  pada  itu,
apabila  Muhammad - orang yang sudah mereka kenal berpendirian
teguh dengan pendapatnya yang tepat dan  berpandangan  jauh  -
sampai menyusul ke Yathrib, mereka kuatir penduduk Yathrib itu
kelak akan menyerbu Mekah, atau akan menutup jalur  perjalanan
perdagangan  mereka  ke  Syam  atau  akan  membuat mereka mati
kelaparan seperti yang pernah  mereka  lakukan  dulu  terhadap
Muhammad  dan sahabat-sahabatnya tatkala mereka membuat piagam
pemboikotan dan memaksa mereka tinggal di  celah-celah  gunung
selama tigapuluh bulan.

Apabila  Muhammad  masih  tinggal  di  Mekah dan berusaha akan
meninggalkan tempat itu, maka  mereka  masih  merasa  terancam
oleh  adanya  tindakan  pihak  Yathrib  dalam membela Nabi dan
Rasul. Jadi tak ada jalan keluar  bagi  mereka  selain  dengan
membunuhya.  Dengan  begitu  mereka lepas dari malapetaka yang
terus-menerus itu. Tetapi kalau juga mereka membunuhnya, tentu
Keluarga  Hasyim  dan  Keluarga  Muttalib akan menuntut balas.
Maka pecahlah perang saudara di Mekah, dan suatu bencana  yang
sangat mereka takuti juga akan datang dari pihak Yathrib.

Sekarang  mereka  mengadakan pertemuan di Dar'n-Nadwa membahas
semua  persoalan  itu  serta  cara-cara  pencegahannya.  Salah
seorang dari mereka mengusulkan:

"Masukkan   dia   dalam   kurungan  besi  dan  tutup  pintunya
rapat-rapat kemudian awasi biar dia  mengalami  nasib  seperti
penyair-penyair  semacamnya  sebelum  dia;  seperti Zuhair dan
Nabigha."

Tetapi pendapat ini tidak mendapat suara.

"Kita keluarkan dia dari  lingkungan  kita,  kita  buang  dari
negeri  kita.  Sesudah  itu  tidak  perlu  kita pedulikan lagi
urusannya," demikian terdengar suara yang lain. Tetapi  mereka
kuatir  ia  akan terus menyusul ke Medinah dan apa yang mereka
takuti justru akan menimpa mereka.

Akhirnya mereka memutuskan, dari setiap kabilah  akan  diambil
seorang   pemuda  yang  tegap,  dan  setiap  pemuda  itu  akan
dipersenjatai dengan sebilah pedang yang  tajam,  yang  secara
bersama-sama sekaligus mereka akan menghantamnya, dan darahnya
dapat dipencarkan antar-kabilah.  Dengan  demikian  Banu  'Abd
Manaf takkan dapat memerangi mereka semua. Mereka akan menebus
darah itu kemudian dengan harta. Maka terlepaslah Quraisy  dan
orang   yang   membuat   porak-poranda  dan  mencerai-beraikan
kabilah-kabilah mereka itu.

Mereka menyetujui pendapat ini dan merasa cukup  puas.  Mereka
mengadakan  seleksi  di  kalangan pemuda-pemuda mereka. Mereka
menganggap bahwa soal Muhammad akan  sudah  selesai.  Beberapa
hari  lagi  ia  akan  terkubur  habis  ke dalam tanah, bersama
ajarannya, dan  mereka  yang  sudah  hijrah  ke  Yathrib  akan
kembali  ke  tengah-tengah  masyarakat,  akan  kembali  kepada
kepercayaan dan kepada dewa-dewa mereka.  Quraisy  dan  negeri
Arab  yang  sudah dipecah-belah, kedudukannya yang sudah mulai
lemah, dengan demikian akan kembali bersatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s