PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI

ISLAMNYA Umar telah membawa kelemahan ke dalam  tubuh  Quraisy
karena  ia  masuk  agama ini dengan semangat yang sama seperti
ketika  ia  menentangnya  dahulu.   Ia   masuk   Islam   tidak
sembunyi-sembunyi,  malah  terang-terangan  diumumkan di depan
orang banyak dan untuk itu  ia  bersedia  melawan  mereka.  Ia
tidak  mau kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap
di celah-celah pegunungan Mekah,  mau  melakukan  ibadat  jauh
dari gangguan Quraisy. Bahkan ia terus melawan Quraisy, sampai
nanti dia beserta Muslimin itu dapat  melakukan  ibadat  dalam
Ka'bah. Disini pihak Quraisy menyadari, bahwa penderitaan yang
dialami  Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya,  takkan   mengubah
kehendak orang menerima agama Allah, untuk kemudian berlindung
kepada Umar dan Hamzah, atau ke  Abisinia  atau  kepada  siapa
saja yang mampu melindungi mereka.

Quraisy lalu membuat rencana lagi mengatur langkah berikutnya.
Setelah sepakat,  mereka  membuat  ketentuan  tertulis  dengan
persetujuan bersama mengadakan pemboikotan total terhadap Banu
Hasyim   dan   Banu   Abd'l-Muttalib:   untuk   tidak   saling
kawin-mengawinkan,  tidak  saling  berjual-beli apapun. Piagam
persetujuan ini kemudian digantungkan di dalam Ka'bah  sebagai
suatu pengukuhan dan registrasi bagi Ka'bah. Menurut perkiraan
mereka,  politik  yang  negatif,  politik   membiarkan   orang
kelaparan  dan melakukan pemboikotan begini akan memberi hasil
yang lebih efektif daripada politik kekerasan dan  penyiksaan,
sekalipun  kekerasan dan penyiksaan itu tidak mereka hentikan.
Blokade-blokade yang dilakukan Quraisy terhadap kaum  Muslimin
dan  terhadap  Banu  Hasyim  dan  Banu  Abd'l  Muttalib  sudah
berjalan selama dua atau tiga tahun, dengan harapan  sementara
itu  Muhammadpun akan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.
Dengan demikian dia dan ajarannya itu tidak lagi berbahaya.

Akan  tetapi  ternyata  Muhammad  sendiri  malah  makin  teguh
berpegang  pada  tuntunan  Allah, juga keluarganya, dan mereka
yang  sudah  berimanpun  makin  gigih  mempertahankannya   dan
mempertahankan  agama  Allah.  Menyebarkan seruan Islam sampai
keluar   perbatasan   Mekah   itu   pun   tak    dapat    pula
dihalang-halangi.  Maka tersiarlah dakwah itu ke tengah-tengah
masyarakat Arab dan kabilah-kabilah,  sehingga  membuat  agama
yang  baru  ini,  yang tadinya hanya terkurung ditengah-tengah
lingkaran gunung-gunung Mekah, kini  berkumandang  gemanya  ke
seluruh  jazirah.  Orang-orang  Quraisy makin tekun memikirkan
bagaimana caranya memerangi orang yang  sudah  melanggar  adat
kebiasaannya  dan  menista dewa-dewanya itu, bagaimana caranya
menghentikan   tersiarnya   ajarannya    itu    di    kalangan
kabilah-kabilah  Arab,  kabilah-kabilah  yang  tak dapat hidup
tanpa Mekah dan juga Mekah tak dapat hidup tanpa mereka  dalam
perdagangan,  dalam  kegiatan  impor  dan  ekspor  dari dan ke
Ibukota itu.

Quraisy mencurahkan semua kegiatannya  dalam  memerangi  orang
yang  dianggapnya  sudah melanggar kebiasaan mereka, melanggar
kepercayaan mereka dan kepercayaan leluhur mereka itu.  Dengan
tabah dan secara terus-menerus selama bertahun-tahun, apa yang
telah mereka lakukan  untuk  menghancurkan  ajaran  baru  ini,
sungguh  di  luar yang dapat kita bayangkan. Muhammad diancam,
keluarga dan ninik-mamaknya,  diancam.  Ia  diejek,  ajarannya
diejek.  Ia  diperolok,  dan  orang yang jadi pengikutnya juga
diperolok.   Penyair-penyair   mereka    didatangkan    supaya
mengejeknya,  supaya  memburuk-burukkannya.  Ia  diganggu, dan
orang yang  jadi  pengikutnya  dinista  dan  disiksa.  Ia  mau
disuap,   ditawari  kerajaan,  ditawari  segala  yang  menjadi
kedambaan orang. Kawan-kawan seperjuangannya diusir dari tanah
air,  perdagangan  dan  pintu  rejeki mereka dibekukan. Ia dan
sahabat-sahabatnya  diancam   dengan   perang   serta   segala
akibatnya yang mengerikan.

Akhirnya blokade, akan dibiarkan mati kelaparan jika mungkin.

Tetapi,  sungguhpun  begitu, Muhammad tetap tabah. Dengan cara
yang amat baik tetap ia  mengajak  orang  menerima  kebenaran,
yang  hanya  karena  itu  ia diutus Tuhan kepada umat manusia,
sebagai pembawa berita gembira, dan peringatan. Bukankah sudah
tiba  waktunya  Quraisy meletakkan senjatanya, dan mempercayai
Al-Amin, orang yang dikenalnya  sejak  masa  anak-anak,  sejak
masa   muda  belia,  sebagai  orang  yang  jujur,  tak  pernah
berdusta!? Ataukah  mereka  sudah  mencari  alat  lain  selain
senjata  perang  seperti  disebutkan,  dan lalu terbayang oleh
mereka, bahwa dengan demikian mereka akan menang perang,  lalu
kedudukan  berhala-berhala  mereka  akan  dapat  dipertahankan
sebagai pusat ketuhanan mereka seperti yang mereka  duga,  dan
Mekahpun    akan    dapat    dipertahankan    sebagai   museum
berhala-berhala   dan    tempat    yang    disucikan    karena
berhala-berhala itu akan tetap berada di Mekah?!

Tidak!  Belum  tiba  saatnya  bagi  Quraisy  akan  tunduk  dan
menyerah. Mereka sekarang sedang  dalam  puncak  kekuatirannya
bila  seruan  Muhammad  ini  nanti  akan  tersebar di kalangan
kabilah-kabilah Arab sesudah terlebih dulu tersebar di Mekah.

Tinggal satu senjata lagi  pada  mereka  sekarang  yang  sejak
semula  sudah  menjadi  pegangan  dan  kekuatan  mereka, yaitu
senjata  propaganda:  propaganda  dengan  segala  implikasinya
berupa   perdebatan,   argumentasi-argumentasi,   caci   maki,
penyebaran desas-desus serta sifat merendahkan  argumen  lawan
dengan  menganggap  alasan-alasannya  sendiri yang lebih baik.
Propaganda  melawan  akidah  dan   pembawa   akidah   disertai
tuduhan-tuduhan  yang  dialamatkan  kepadanya. Propaganda yang
tidak hanya terbatas pada Mekah saja - sebenarnya  buat  Mekah
ini  sudah  tidak  lagi  diperlukan dibandingkan dengan daerah
pedalaman lain serta kabilah-kabilahnya,  semenanjung  jazirah
serta  semua  penduduknya.  Dengan mengadakan ancaman bujukan,
teror dan penyiksaan, propaganda tidak  diperlukan  lagi  buat
Mekah.  Tapi buat ribuan orang yang datang ke Mekah tiap tahun
masih tetap diperlukan. Mereka datang dalam urusan perdagangan
dan  berziarah. Mereka berkumpul di pasar-pasar 'Ukaz, Majanna
dan Dhul-Majaz, yang  kemudian  berziarah  sambil  menyembelih
kurban, mengharapkan berkah dan ampunan.

Oleh  karena  itu, sejak memuncaknya permusuhan antara Quraisy
dengan Muhammad terpikir oleh mereka akan menyusun suatu  alat
propaganda  anti  Muhammad. Lebih gigih lagi mereka memikirkan
hal ini  sesudah  orang-orang  yang  berziarah  itu  diajaknya
supaya  beribadat  hanya  kepada  Allah  yang  Esa  dan  tidak
bersekutu. Hal ini sudah terpikir  olehnya  sejak  tahun-tahun
pertama  dari  kerasulannya  itu.  Pada  mulanya,  sejak  masa
kerasulannya, ia adalah seorang nabi, sampai  datangnya  wahyu
menyuruh  ia  memperingatkan  keluarga-keluarganya yang dekat.
Setelah ia memperingatkan keluarga-keluarga Quraisy dan ada di
antara mereka yang menerima Islam, di samping banyak juga yang
masih kepala  batu  dan  mau  berpikir-pikir  dulu,  ia  masih
berkewajiban  mengajak  bangsanya  sendiri, seluruh masyarakat
Arab, untuk  kemudian  meneruskan  kewajibannya  itu  mengajak
seluruh umat manusia.

Setelah  terpikir  akan  mengajak  orang yang datang berziarah
dari berbagai macam kabilah Arab itu beribadat  kepada  Allah,
beberapa  orang  dari  kalangan  Quraisy  datang berunding dan
mengadakan pertemuan di rumah Walid  bin'l-Mughira:  Maksudnya
supaya  dalam menghadapi persoalan Muhammad itu satu sama lain
mereka  tidak  bertentangan,  dan  tidak  saling   mendustakan
mengenai apa yang harus mereka katakan kepada orang-orang Arab
yang datang musim ziarah itu.  Ada  yang  mengusulkan,  supaya
dikatakan  saja,  bahwa  Muhammad  itu  dukun. Tetapi al-Walid
menolak pendapat ini, sebab apa yang dikatakan Muhammad  bukan
kumat-kamit  seorang  dukun. Yang lain mengusulkan lagi, bahwa
Muhammad itu orang gila. Walidpun menolak pendapat ini,  sebab
gejala  atas  tuduhan  demikian  tidak  tampak.  Ada lagi yang
menyarankan supaya Muhammad dikatakan  sebagai  tukang  sihir.
Juga  di  sini Walid menolak, sebab Muhammad tidak mengerjakan
rahasia  juru  tenung  atau  sesuatu  pekerjaan  tukang-tukang
sihir.

Sesudah  terjadi  diskusi  akhirnya  Walid  mengusulkan supaya
kepada peziarah-peziarah orang-orang Arab itu dikatakan  bahwa
dia  (Muhammad)  seorang juru penerang yang mempesonakan,1 apa
yang dikatakannya merupakan  pesona  yang  akan  memecah-belah
orang dengan orangtuanya, dengan saudaranya, dengan isteri dan
keluarganya. Dan apa yang dituduhkan itu pada orang-orang Arab
pendatang  itu  merupakan  bukti,  sebab  penduduk Mekah sudah
ditimpa  perpecahan  dan  permusuhan.  Padahal   sebelum   itu
penduduk  Mekah  merupakan suatu contoh solidaritas dan ikatan
yang paling kuat

Pihak  Quraisy  pada  musim  ziarah  itu  segera   menyongsong
orang-orang yang datang berziarah dengan memperingatkan mereka
jangan mendengarkan orang itu  dan  pesona  bahasanya.  Jangan
sampai  mereka  itu  mengalami  bencana  seperti  yang dialami
penduduk Mekah dan  menjadi  api  fitnah  yang  akan  membakar
seluruh jazirah Arab.

Akan  tetapi  propaganda  begini  tidak dapat berdiri sendiri,
juga tidak dapat melawan  penerangan  yang  mempesonakan  yang
sudah  dipercayai  orang  itu.  Kalau memanglah kebenaran yang
dibawa oleh penerangan yang  mempesonakan  itu,  apa  salahnya
orang mempercayainya? Adakah bila sewaktu-waktu orang mengakui
kelemahannya  dan  menyatakan  perlawanannya  merupakan  suatu
propaganda yang ampuh? Di samping propaganda itu Quraisy harus
punya propaganda lain lagi. Untuk propaganda itu Quraisy  akan
mendapatkannya  pada Nadzr b. Harith. Manusia Nadzr ini adalah
setannya  Quraisy,  orang  yang  pernah  pergi  ke  Hira   dan
mempelajari   cerita   raja-raja  Persia,  peraturan-peraturan
agamanya,  ajaran-ajarannya  tentang  kebaikan  dan  kejahatan
serta  tentang  asal-usul  alam  semesta.  Setiap  dalam suatu
pertemuan  Muhammad  mengajak  orang   kepada   Allah,   serta
memperingatkan mereka tentang akibat-akibat yang telah menimpa
bangsa-bangsa sebelumnya  yang  menentang  peribadatan  kepada
Allah,  ia  lalu  datang  menggantikan  tempat  Muhammad dalam
pertemuan itu. Maka berceritalah  ia  kepada  Quraisy  tentang
sejarah  dan  agamanya, lalu katanya: Dengan cara apa Muhammad
membawakan  ceritanya  lebih  baik  daripada   aku?   Bukankah
Muhammad  membacakan  cerita-cerita  orang dahulu seperti yang
kubacakan juga? Quraisypun lalu menyebarkan kisah-kisah  Nadzr
itu  dengan  jalan  bercerita  lagi  sebagai  propaganda  atas
peringatan dan ajakan Muhammad kepada mereka itu.

Dalam pada itu di Marwa  Muhammad  sering  duduk-duduk  dengan
seorang  budak  Nasrani  yang  konon bernama Jabr. Orang-orang
Quraisy menuduh, bahwa sebagian besar apa yang dibawa Muhammad
itu,  Jabr inilah yang mengajarnya. Apabila ada orang yang mau
meninggalkan kepercayaan nenek-moyangnya, maka  agama  Nasrani
inilah   yang   lebih  utama.  Jadi  tuduhan  inilah  yang  di
desas-desuskan oleh Quraisy. Untuk itulah datang Firman Tuhan:

"Kami  sungguh   mengetahui   bahwa   mereka   berkata;   yang
mengajarkan  itu  adalah  seorang  manusia.  Bahasa orang yang
mereka tuduhkan itu bahasa asing,  sedang  ini  adalah  bahasa
Arab yang jelas sekali." (Qur'an: 16: 103)

Dengan   propaganda   semacam   itu  dan  sebangsanya  Quraisy
memerangi  Muhammad  lagi  dengan  harapan  akan  lebih  ampuh
daripada  gangguan  yang  dialaminya  dan siksaan yang dialami
pengikut-pengikutnya.  Akan  tetapi  kuatnya  kebenaran  dalam
bentuk yang jelas dan sederhana yang dilukiskan melalui ucapan
Muhammad, lebih tinggi dari yang mereka katakan. Makin  sehari
makin  tersebar  juga itu di kalangan orang-orang Arab. Tufail
b. 'Amr ad-Dausi, seorang bangsawan dan  penyair  cendikiawan,
ketika  datang  di  Mekah segera dihubungi oleh Quraisy dengan
memperingatkannya  dari   Muhammad   dan   kata-katanya   yang
mempesonakan  itu,  yang  hendak  memecah-belah  orang  dengan
keluarganya, bahkan  dengan  dirinya  sendiri.  Mereka  kuatir
kalau  peristiwa  seperti  Mekah itu akan menimpa mereka juga.
Jadi sebaiknya jangan mengajak  dan  jangan  mendengarkan  dia
bicara.

Hari  itu  Tufail  pergi  ke  Ka'bah. Muhammad sedang di sana.
Ketika  ia  mendengarkan  kata-kata  Muhammad,  ternyata   itu
kata-kata  yang  baik  sekali.  "Biar  aku  mati,  aku seorang
cendekiawan, penyair," katanya dalam hati. "Aku dapat mengenal
mana  yang  baik  dan mana pula yang buruk. Apa salahnya kalau
aku mendengarkan sendiri apa yang akan  dikatakan  orang  itu!
Jika   ternyata   baik   akan   kuterima,   kalau  buruk  akan
kutinggalkan."

Diikutinya Muhammad sampai di  rumah.  Lalu  dikatakannya  apa
yang  terlintas  dalam  hatinya itu. Muhammad menawarkan Islam
kepadanya dan  dibacakannya  ayat-ayat  Quran.  Laki-laki  itu
segera  menerima  Islam dan dinyatakannya kebenaran itu dengan
mengucapkan kalimat Syahadat.

Bilamana kemudian ia kembali lagi kepada masyarakatnya sendiri
diajaknya mereka itu menerima Islam. Merekapun ada yang segera
menerima, tapi ada juga yang masih lambat-lambat.  Dalam  pada
itu,  beberapa  tahun  berikutnya  sebagian besar mereka sudah
pula menerima Islam.  Setelah  pembebasan  Mekah  dan  sesudah
susunan  politik  dengan  bentuk tertentu sudah mulai terarah,
merekapun menggabungkan diri kepada Nabi.

Peristiwa Tufail ad-Dausi ini tidak lebih adalah sebuah contoh
saja  dari sekian-banyak peristiwa. Yang telah menerima ajakan
Muhammad ini  bukan  terdiri  dari  hanya  penyembah-penyembah
berhala   saja.  Sewaktu  dia  di  Mekah  dulu  pernah  datang
kepadanya duapuluh orang  Nasrani,  setelah  mereka  mendengar
berita    itu.    Lalu    mereka   menanyainya,   mendengarkan
kata-katanya.   Merekapun    menerima,mereka    beriman    dan
mempercayainya.  Inilah pula yang membuat Quraisy makin geram,
sehingga mereka juga dimaki-maki.

"Kamu utusan yang gagal. Kamu sekalian disuruh oleh masyarakat
seagamamu mencari berita tentang orang itu. Sebelum kamu kenal
benar-benar siapa dia agama kamu  sudah  kamu  tinggalkan  dan
lalu percaya saja apa yang dikatakannya."

Tetapi  kata-kata  Quraisy itu tidak membuat utusan itu mundur
menjadi pengikut Muhammad, juga tidak lalu meninggalkan Islam.
Bahkan  imannya kepada Allah lebih kuat daripada ketika mereka
masih dalam  agama  Nasrani.  Mereka  sudah  menyerahkan  diri
kepada Tuhan sebelum mereka mendengarkan Muhammad.

Tetapi  apa  yang  terjadi  terhadap diri Muhammad lebih hebat
lagi dari itu. Orang Quraisy  yang  paling  keras  memusuhinya
sudah  mulai  bertanya-tanya  kepada diri sendiri: benarkah ia
mengajak  orang  kepada  agama  yang  benar?  Dan   apa   yang
dijanjikan  dan  diperingatkan  kepada  mereka,  itu pula yang
benar?

Abu Sufyan b. Harb, Abu Jahl b. Hisyam dan al-Akhnas b. Syariq
malam  itu  pergi  ingin  mendengarkan  Muhammad ketika sedang
membaca Qur'an di  rumahnya.  Mereka  masing-masing  mengambil
tempat  sendiri-sendiri  untuk  mendengarkan,  dan tempat satu
sama lain tidak saling diketahui. Muhammad yang  biasa  bangun
tengah  malam,  malam itu juga ia sedang membaca Qur'an dengan
tenang dan damai. Dengan suaranya  yang  sedap  itu  ayat-ayat
suci bergema ke dalam telinga dan kalbu.

Tetapi  sesudah  fajar  tiba,  mereka  yang  mendengarkan  itu
terpencar pulang ke  rumah  masing-masing.  Di  tengah  jalan,
ketika  mereka  bertemu, masing-masing mau saling menyalahkan:
Jangan terulang lagi. Kalau kita dilihat oleh orang-orang yang
masih  bodoh,  ini  akan  melemahkan kedudukan kita dan mereka
akan berpihak kepada Muhammad.

Tetapi pada malam kedua, masing-masing mereka membawa perasaan
yang  sama  seperti  pada  malam kemarin. Tanpa dapat menolak,
seolah kakinya membawanya kembali ke tempat yang  semalam  itu
juga,  untuk mendengarkan lagi Muhammad membaca Qur'an. Hampir
fajar, ketika mereka pulang, bertemu  lagi  mereka  satu  sama
lain dan saling menyalahkan pula. Tetapi sikap mereka demikian
itu tidak  mengalangi  mereka  untuk  pergi  lagi  pada  malam
ketiga.

Setelah  kemudian  mereka  menyadari,  bahwa  dalam menghadapi
dakwah Muhammad itu mereka merasa  lemah,  berjanjilah  mereka
untuk  tidak  saling mengulangi lagi perbuatan mereka demikian
itu. Apa yang sudah mereka dengar  dari  Muhammad  itu,  dalam
jiwa  mereka  tertanam  suatu kesan, sehingga mereka satu sama
lain saling menanyakan pendapat  mengenai  yang  sudah  mereka
dengar itu. Dalam hati mereka timbul rasa takut. Mereka kuatir
akan  jadi  lemah,  mengingat  masing-masing  adalah  pemimpin
masyarakat,  sehingga  dikuatirkan  masyarakatnyapun akan jadi
lemah pula dan menjadi pengikut Muhammad juga.

Gerangan  apa  keberatan  mereka   menjadi   pengikut-pengikut
Muhammad?  Padahal  ia  tidak  mengharapkan harta dari mereka,
tidak ingin menjadi pemimpin mereka, menjadi raja mereka  atau
penguasa  di  atas  mereka? Disamping itu dia adalah laki-laki
yang sungguh  rendah  hati,  sangat  mencintai  masyarakatnya,
setia kepada mereka dan ingin sekali membimbing mereka. Sangat
halus perasaannya, sehingga kalau akan merugikan orang  miskin
atau  yang  lemahpun  ia  merasa  takut.  Setiap  ia mengalami
penderitaan, hatinya baru merasa tenang bila ia  sudah  merasa
mendapat  pengampunan.  Bukankah  tatkala suatu hari ia sedang
dengan al-Walid bin'l-Mughira, salah seorang pemimpin  Quraisy
yang  diharapkan  keislamannya, tiba-tiba lewat Ibn Umm Maktum
yang  buta,  dan  minta  diajarkan  Qur'an  kepadanya.  Begitu
mendesak   ia,   sehingga  Muhammad  merasa  kesal  karenanya,
mengingat ia sedang sibuk  menghadapi  Walid.  Ditinggalkannya
orang buta itu dengan muka masam.

Tetapi   setelah   ia   kembali  seorang  diri  hati  kecilnya
memperhitungkan perbuatannya tadi  itu  sambil  bertanya-tanya
kepada  dirinya  sendiri: Salahkah aku? Tiba-tiba datang wahyu
dengan ayat-ayat berikut:

"Bermasam dan membuang muka ia. Tatkala si buta mendatanginya.
Dan  apa  yang  memberitahukan  kau,  barangkali ia orang yang
bersih? Atau ia dapat menerima teguran dan teguran itu berguna
baginya.  Tetapi  kepada  orang  yang  serba cukup itu. Engkau
menghadapkan diri. Padahal itu bukan urusanmu kalau dia  tidak
bersih  hati.  Tetapi  orang  yang  bersungguh-sungguh  datang
kepadamu. Dengan rasa penuh takut. Kau abaikan dia. Tidak. Itu
adalah  sebuah  peringatan.  Barangsiapa  yang  sudi,  biarlah
memperhatikan   peringatan   itu.   Dalam   kitab-kitab   yang
dimuliakan.  Dijunjung  tinggi  dan  disucikan.  Yang  ditulis
dengan  tangan.  Orang-orang   terhormat,   orang-orang   yang
bersih." (Qur'an: 80: 1-16)

Kalau  memang  itu  soalnya,  apalagi  yang mengalangi Quraisy
menjadi pengikutnya dan mendukung dakwahnya? Terutama  sesudah
hati  mereka  jadi  lembut, sesudah mereka melupakan masa masa
silam dengan bertahan pada warisan  lapuk  yang  membuat  jiwa
mereka  jadi  beku,  dan  sesudah  mereka melihat bahwa ajaran
Muhammad itu sempurna, dan penuh keagungan?

Tetapi! Benarkah masa yang sudah  bertahun-tahun  itu  membuat
orang   lupa   akan   kebekuan  jiwanya,  akan  sikapnya  yang
konservatif terhadap masa lampau yang sudah lapuk?  Ini  dapat
terjadi  pada  orang-orang istimewa, yang dalam hatinya selalu
terdapat kerinduan pada yang  sempurna.  Dalam  hidup  mereka,
mereka  masih mau mempelajari adanya kebenaran yang sebelumnya
sudah mereka percayai untuk kemudian membuang segala kepalsuan
yang  masih  melekat,  betapapun  tingginya tingkat kebudayaan
orang itu. Hati dan pikiran mereka sudah seperti kuali  tempat
melebur  logam  yang selalu mendidih, menerima setiap pendapat
baru yang dilemparkan kedalamnya, lalu dilebur  dan  disaring.
Mana  yang  bernoda dibuang, dan tinggal yang baik, yang benar
dan yang indah. Mereka itu mencari kebenaran tentang apa saja,
di  mana  saja  dan  dari  siapa saja. Oleh karena pada setiap
bangsa, setiap zaman, mereka ini merupakan inti yang terpilih,
maka  jumlah  mereka  selalu  sedikit.  Mereka selalu mendapat
perlawanan, yang datangnya  terutama  dari  orang-orang  kaya,
orang  orang  berkedudukan  dan  orang-orang  berkuasa. Mereka
takut setiap corak pembaruan itu akan  menelan  harta  mereka,
akan  menghilangkan  kedudukan  dan  kekuasaan  mereka. Selain
dengan cara hidup mereka yang  demikian  itu,  kenyataan  lain
yang  sudah  begitu  jelas  tidak mereka kenal. Semua itu bagi
mereka adalah benar apabila ia dapat menambah kekuatan mereka,
dan  tidak  benar  apabila  ia  dapat  menimbulkan kesangsian,
sedikit sekalipun. Pemilik harta menganggap, bahwa  moral  itu
benar  adanya  bilamana  ia dapat memberikan tambahan ke dalam
hartanya, dan tidak benar  bilamana  ia  merintanginya.  Agama
adalah   benar,   bilamana  ia  dapat  membukakan  jalan  buat
hawa-nafsunya, dan tidak benar  kalau  ia  menjadi  penghalang
hawa-nafsu   itu.   Yang  memiliki  kedudukan,  yang  memiliki
kekuasaan dalam hal ini sama saja seperti pemilik harta itu.

Dalam  perlawanan  mereka  terhadap  segala  pembaharuan  yang
mereka  takuti itu, mereka menghasut orang awam yang rejekinya
tergantung   kepada   mereka,   supaya   memusuhi    penganjur
pembaharuan  itu.  Mereka minta bantuan awam supaya menyucikan
bangunan-bangunan kuno yang sudah dimakan kutu setelah minggat
ruh  yang  ada di dalamnya. Benteng-benteng itu mereka jadikan
kuil-kuil dari batu, untuk menimbulkan kesan kepada awam  yang
tak  bersalah  itu,  bahwa ruh suci yang mereka bungkus dengan
kain putih, masih dalam keagungannya dalam kurungan  kuil-kuil
itu. Pada umumnya awam itu membela mereka, sebab, yang penting
ia  melihat  pencariannya.  Baginya  tidak  mudah  akan  dapat
memahami,   bahwa  kebenaran  itu  tidak  akan  tahan  tinggal
terkurung  dalam  tembok-tembok  kuil  betapapun   indah   dan
agungnya tempat itu, dan bahwa sifat kebenaran itu akan selalu
bebas menyerbu dan mengisi jiwa orang. Baginya tidak beda jiwa
seorang  tuan  atau  jiwa  seorang  budak. Juga tak ada sebuah
peraturan betapapun kerasnya yang dapat merintangi hal itu.

Bagaimana orang dapat mengharapkan dari  mereka,  mereka  yang
pernah  datang sembunyi-sembunyi mendengarkan pembacaan Qur'an
itu, akan mau beriman kepadanya, karena ia menegur mereka yang
banyak    melakukan   pelanggaran   itu,   karena   ia   tidak
membeda-bedakan si buta  miskin  dengan  orang  yang  hartanya
berlimpah-limpah,  kecuali  dari  kebersihan  jiwanya.  Kepada
seluruh umat manusia diserukannya, bahwa:

"Yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah  ialah
yang paling dapat menjaga diri (yang paling takwa)." (Qur' an,
49: 13)

Kalaupun Abu Sufyan dan kawan-kawannya masih  bertahan  dengan
kepercayaan  leluhur mereka, bukanlah hal itu karena dilandasi
oleh iman atau kebenaran yang ada, tapi  karena  mereka  sudah
terlalu  mencintai  pada  cara  lama  yang  mereka adakan itu.
Kemudian nasib membantu mereka  pula.  Mereka  bertahan  hanya
karena  kedudukan  dan  harta yang sudah berlimpah-limpah, dan
untuk itu pula mereka bertempur mati-matian.

Di samping kecenderungan  ini  juga  karena  rasa  dengki  dan
persaingan  yang  keras  membuat  Quraisy  tidak  mau  menjadi
pengikut  Nabi.  Sebelum  kedatangan   Muhammad,   Umayya   b.
Abi'sh-Shalt  memang termasuk salah seorang yang pernah bicara
tentang  seorang  nabi  yang  akan  tampil  di   tengah-tengah
masyarakat  Arab  itu,  dan dia sendiri berhasrat sekali ingin
jadi  nabi.  Perasaan  dengki  itu  rasa  membakar  jantungnya
tatkala  ternyata  kemudian wahyu tidak datang kepadanya. Jadi
dia  tidak  mau  menjadi  pengikut  orang   yang   dianggapnya
saingannya.  Apalagi,  karena (sebagai penyair) sajak-sajaknya
penuh berisi pikiran, sehingga pernah suatu  hari  Nabi  .a.s.
menyatakan  ketika  sajaknya dibacakan di hadapannya: "Umayya,
sajaknya sudah beriman, tapi hatinya ingkar."

Atau seperti kata al-Walid bin'l-Mughira:  "Wahyu  didatangkan
kepada  Muhammad,  bukan  kepadaku,  padahal  aku  kepala  dan
pemimpin Quraisy. Juga tidak kepada Abu Mas'ud 'Amr b.  'Umair
ath-Thaqafi    sebagai    pemimpin    Thaqif.    Kami   adalah
pembesar-pembesar dua kota."

Untuk itulah firman Tuhan memberi isyarat:

"Dan mereka  berkata:  'Kenapa  Qur'an  ini  tidak  diturunkan
kepada   orang   besar  dari  dua  kota  itu?'  Adakah  mereka
membagi-bagikan  kurnia  Tuhanmu?  Kamilah   yang   membagikan
penghidupan  mereka  itu,  dalam hidup dunia ini." (Qur'an 43:
13-32)

Setelah Abu Sufyan, Abu Jahl  dan  Akhnas  selama  tiga  malam
berturut-turut  mendengarkan  pembacaan  Qur'an, seperti dalam
cerita  di  atas,  Akhnas  lalu  pergi  menemui  Abu  Jahl  di
rumahnya.  "Abu'l-Hakam,2  bagaimana  pendapatmu  tentang yang
kita dengar dari Muhammad?" tanyanya kepada Abu Jahl.

"Apa yang  kaudengar?"  kata  Abu  Jahl.  "Kami  sudah  saling
memperebutkan  kehormatan  itu  dengan  Keluarga  'Abd  Manaf.
Mereka memberi makan, kamipun memberi makan, mereka menanggung
kamipun begitu, mereka memberi kami juga memberi sehingga kami
dapat sejajar dan sama tangkas dalam perlumbaan itu. Tiba-tiba
kata  mereka: "Di kalangan kami ada seorang nabi yang menerima
"wahyu dari langit." Kapan kita akan  menjumpai  yang  semacam
itu? Tidak! Kami sama sekali tidak akan percaya dan tidak akan
membenarkannya."

Jadi yang dalam  sekali  berpengaruh  dalam  jiwa  orang-orang
badui  itu  ialah  rasa  dengki,  saling  bersaing  dan saling
bertentangan. Dalam hal ini salah sekali  bila  orang  mencoba
mau  menutup  mata atau tidak menilainya sebagaimana mestinya.
Cukup kalau kita sebutkan saja  adanya  kekuasaan  nafsu  yang
begitu  besar  dalam  jiwa  tiap  orang. Untuk dapat mengatasi
pengaruh  ini  memang  diperlukan  suatu  latihan  yang  cukup
panjang,  latihan  jiwa  dengan mengutamakan hukum akal diatas
dorongan nafsu, jiwa  dan  pikiran  kita  harus  cukup  tinggi
sehingga  dapat  ia  melihat  bahwa kebenaran yang datang dari
lawan bahkan dari musuh itu, itu jugalah kebenaran yang datang
dari  kawan  karibnya.  Ia harus yakin, bahwa dengan kebenaran
yang dimilikinya itu kekayaannya sudah lebih besar dari  harta
karun,  dari  kebesaran  Iskandar  (Agung)  dan  dari kerajaan
seorang kaisar. Tidak banyak orang yang dapat mencapai tingkat
ini  kalau  tidak  karena Tuhan sudah membukakan hatinya untuk
kebenaran itu.

Diluar itu,  untuk  mencapai  tingkat  pengertian  yang  lebih
tinggi,  orang  sudah dibutakan oleh harta benda duniawi, oleh
kenikmatan hidup sejenak yang dirasakannya. Untuk  kepentingan
duniawi  itu, untuk memburu saat sejenak itu, mereka berperang
dan bertempur. Tak ada  sesuatu  yang  akan  dapat  menghambat
mereka  menancapkan  kuku  dan  gigi  mereka  ke  batang leher
kebenaran, kebaikan dan  pengertian  moral  yang  tinggi  itu.
Lalu,  kesempurnaan  yang  paling suci artinya itu oleh mereka
akan diinjak-injak di bawah telapak kaki yang sudah kotor.

Bagaimana pendapat kita tentang orang-orang Arab  Quraisy  itu
yang  melihat  Muhammad makin sehari makin banyak pengikutnya?
Mereka kuatir, kebenaran yang sudah diproklamirkan  itu  suatu
ketika  akan menguasai mereka, akan menguasai orang-orang yang
sudah setia kepada mereka,  yang  lalu  akan  menjalar  sampai
kepada  orang-orang Arab di seluruh jazirah. Sebelum melakukan
itu mereka harus memotong leher  orang  itu  dulu  jika  dapat
mereka  lakukan. Lebih dulu mereka harus melakukan propaganda,
pemboikotan,  blokade,  penyiksaan  dan   kekerasan   terhadap
musuh-musuh besar mereka itu.

Sebab  ketiga keberatan mereka menjadi pengikut Muhammad ialah
mereka takut sekali pada hari kebangkitan serta  siksa  neraka
pada  Hari  Perhitungan  kelak.  Kita sudah melihat masyarakat
yang begitu hanyut dalam hidup  bersenang-senang  dengan  cara
yang  berlebih-lebihan. Mereka menganggap perdagangan dan riba
itu wajar. Bagi orang kaya di  kalangan  mereka  itu  tak  ada
sesuatu  yang  dipandang  hina,  yang harus dijauhi. Disamping
itu, dengan  membawakan  sesajen  segala  kejahatan  dan  dosa
mereka  itu  sudah  dapat  ditebus.  Seseorang  cukup  mengadu
nasibnya dengan qidh (anak panah) di depan Hubal,  sebelum  ia
melakukan  sesuatu  tindakan.  Tanda  yang diberikan oleh anak
panah,  itulah  perintah  yang  datang  dari   Hubal.   Supaya
kejahatan-kejahatan   dan   dosa-dosanya   itu  diampuni  oleh
berhala-berhala,   cukup   ia   menyembelih   binatang   untuk
berhala-berhala itu. Ia dapat dibenarkan melakukan pembunuhan,
perampokan, melakukan kejahatan, ia tidak dilarang menjalankan
pelacuran  selama  ia  mampu memberi suap kepada dewa-dewa itu
berupa kurban-kurban dan penyembelihan-penyembelihan.

Sekarang datang  Muhammad  membawakan  ayat-ayat  yang  begitu
menakutkan,   membuat  jantung  mereka  rasakan  pecah  karena
ngerinya, sebab  Tuhan  selalu  mengawasi  mereka.  Pada  Hari
Kemudian  mereka  akan  dibangkitkan  kembali sebagai kejadian
baru, dan bahwa yang akan  menjadi  penolong  mereka  hanyalah
perbuatan mereka sendiri.

"Apabila   datang   suara  dahsyat  yang  memekakkan.  Tatkala
seseorang lari meninggalkan saudaranya.  Ibunya  dan  bapanya.
Isterinya  dan  anak-anaknya.  Setiap  orang  hari  itu dengan
urusannya sendiri. Wajah-wajah pada hari itu ada yang berseri.
Tertawa  dan  bergembira. Dan ada pula wajah-wajah kelabu pada
hari itu. Tertutup kegelapan. Mereka itulah  orang-orang  yang
ingkar, orang-orang yang sudah rusak." (Qur'an, 80: 33-42)

Dan suara dahsyat itu datang.

"Apabila   langit   sudah   bagaikan   hancuran   logam.   Dan
gunung-gunung bagaikan gumpalan bulu. Dan tak akan  ada  kawan
akrab  menanyakan  kawannya.  Padahal  mereka menampakkan diri
kepada mereka. Ingin sekali orang jahat itu akan dapat menebus
diri  dari  siksaan  hari  itu dengan memberikan anak-anaknya.
Isterinya, saudaranya. Dan keluarganya yang melindunginya. Dan
semua yang ada di bumi; kemudian ia hendak menyelamatkan diri.
Tidak sekali-kali. Itu adalah api menyala.  Lapisan  kepalapun
tercabut. Dipanggilnya orang yang telah pergi membelakangi dan
yang   berpaling.   Yang   telah   menyimpan   kekayaan    dan
menyembunyikannya." (Qur'an, 70: 8-18)

"Hari  itulah kamu dihadapkan akan diadili. Perbuatanmu takkan
ada yang  tersembunyi.  Barangsiapa  yang  suratnya  diberikan
kepadanya  dengan  tangan  kanan,  ia  akan  berkata  ini dia!
Bacakan suratku.  Sudah  percaya  benar  aku  bahwa  aku  akan
nmenemui  perhitungan.  Lalu ia berada dalam kenikmatan hidup.
Dalam  taman  yang  tinggi.  Buah-buahannyapun  dekat  sekali.
Makanlah,  dan minumlah sepuas hati, sesuai dengan amalmu yang
kamu sediakan masa lampau. Tetapi, barangsiapa  yang  suratnya
diberikan  dengan  tangan  kiri, ia akan berkata: Ah, coba aku
tidak diberi surat! Dan tidak lagi aku  mengetahui,  bagaimana
perhitunganku!  Ah,  sekiranya aku mati saja. Kekayaanku tidak
dapat menolong  aku.  Hancurlah  sudah  kekuasaanku.  Sekarang
bawalah dia dan belenggukan. Sesudah itu, campakkan ia kedalam
api neraka. Lalu masukkan ia ke dalam mata rantai,  panjangnya
tujuhpuluh  hasta.  Tadinya ia tiada beriman kepada Tuhan yang
Maha Agung. Dan tiada pula mendorong memberikan makanan kepada
orang  miskin.  Maka,  sekarang  disini  tak  ada  lagi  kawan
setianya. Tiada makanan baginya selain daripada kotoran.  Yang
hanya dimakan oleh mereka yang penuh dosa."(Qur'an, 69: 18-37)

Sudahkah  orang  membacanya?  Sudahkah  mendengarnya? Tidakkah
merasa ngeri, merasa takut? Ini hanya  sebahagian  kecil  dari
yang  pernah diperingatkan Muhammad kepada masyarakatnya. Kita
membacanya sekarang, dan sebelum itupun sudah pula membacanya,
mendengarnya,  berulang  kali.  Segala  gambaran  neraka  yang
terdapat dalam Qur'an hidup lagi dalam  pikiran  kita,  ketika
kita membacanya kembali.

"...  Setiap  kulit-kulit  mereka itu sudah matang, Kami ganti
dengan kulit lain lagi, supaya siksaan  itu  mereka  rasakan."
(Qur'an, 4: 56)

Dengan  merasakan  adanya  kengerian  itu,  orang  akan  mudah
memperkirakan betapa sebenarnya perasaan Quraisy dan  terutama
orang-orang  kayanya,  tatkala  mendengarkan kata-kata semacam
itu, sebab sebelum mereka mendapat peringatan  tentang  siksa,
mereka  sudah  merasa  dirinya  jauh  dan aman dari itu, dalam
lindungan dewa-dewa dan berhala-berhala mereka.

Juga sesudah itu orang akan mudah  pula  memperkirakan  betapa
meluapnya  semangat  mereka  mendustakan  Muhammad, mengadakan
tantangan dan penghinaan. Mereka memang tidak pernah  mengenal
arti  Hari  Kebangkitan, juga mereka tidak pernah mengakui apa
yang didengarnya itu.  Tidak  ada  diantara  mereka  itu  yang
membayangkan,  bahwa  setelah orang meninggalkan hidup ini, ia
akan mendapat balasan atas segala perbuatan  selama  hidupnya.
Tetapi  apa  yang mereka takutkan dalam hidup mereka pada hari
kemudian itu, ialah mereka takut  akan  penyakit,  takut  akan
mengalami  bencana  pada  harta benda, pada turunan, kedudukan
dan kekuasaannya. Hidup sekarang ini bagi mereka ialah seluruh
tujuan  hidupnya. Seluruh perhatian mereka hanya tertuju untuk
memupuk segala macam kesenangan dan menolak segala macam  yang
mereka  takuti.  Bagi  mereka hari kemudian ialah masalah gaib
yang masih tertutup. Dalam  hati  mereka  sudah  merasa  bahwa
apabila  perbuatan  mereka itu jahat dunia gaib itu boleh jadi
akan  mendatangkan  bencana   kepada   mereka.   Lalu   mereka
menantikan adanya alamat baik atau alamat buruk. Segera mereka
mengadukan nasib  itu  dengan  permainan  anak  panah,  dengan
mengocok   batu-batu   kerikil   dan   menolak  burung3  serta
menyembelih kurban. Semua  itu  merupakan  penangkal  terhadap
segala yang mereka takuti dalam hidup mereka di kemudian hari.

Sebaliknya,  segala yang mengenai adanya balasan sesudah mati,
mengenai hari kebangkitan tatkala sangkakala ditiup,  mengenai
surga  yang  disediakan  untuk mereka yang takwa, neraka untuk
mereka yang aniaya,  mengenai  semua  itu  memang  tak  pernah
terlintas dalam pikiran mereka.

Pada  dasarnya  mereka  sudah pernah mendengar semua itu dalam
agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi mereka belum pernah mendengar
dengan  gambaran  yang begitu kuat dan menakutkan seperti yang
mereka dengar melalui wahyu  kepada  Muhammad  itu,  dan  yang
memberi  peringatan  kepada  mereka  -  akan siksa abadi dalam
perut neraka, yang sangat menggamakkan hati karena rasa  takut
hanya  dengan  mendengar gambarannya saja - kalau mereka masih
juga  seperti  keadaan  itu,  bersukaria  dan   berlumba-lumba
memperbanyak  harta  dengan  melakukan  penindasan terhadap si
lemah, makan  harta  anak  piatu,  membiarkan  kemiskinan  dan
melakukan  riba  secara  berlebih-lebihan. Apalagi kalau orang
dapat  melihat  dengan  hati  nuraninya  jalan  yang  ditempuh
manusia  dengan  langkah  yang  begitu  sempit selama hidupnya
menuju mati, sesudah kebangkitan kembali kelak  dengan  segala
suka dan dukanya.

Sebaliknya  surga  yang  dijanjikan Tuhan yang luasnya seperti
langit dan bumi, disitu takkan terdengar  cakap  kosong,  juga
tak  ada  perbuatan  dosa. Yang ada hanyalah ucapan "selamat."
Segala yang menyenangkan hati, menyedapkan  mata  itulah  yang
ada.  Tetapi Quraisy menyangsikan semua itu. Dan yang menambah
lagi kesangsian mereka karena mereka menginginkan segala  yang
segera.  Mereka  ingin  melihat  kenikmatan  itu  nyata  dalam
kehidupan dunia ini. Mereka tidak betah menunggu  sampai  hari
pembalasan,  sebab  mereka  memang  tidak  percaya  pada  hari
pembalasan itu.

Boleh  jadi  orang  akan  merasa   heran   bagaimana   jantung
orang-orang  Arab  itu  sampai begitu rapat tertutup tidak mau
menerima  persepsi  hidup  akhirat  serta  balasan  yang  ada.
Padahal  perjuangan  antara  yang  baik  dengan yang jahat itu
sudah  berkecamuk  dalam  sejarah  manusia  sejak  dunia   ini
berkembang,   tak   pernah   berhenti  dan  tak  pernah  diam.
Orang-orang Mesir purbakala, ribuan  tahun  sebelum  kerasulan
Muhammad  melengkapi  mayat  mereka  dengan  segala perbekalan
untuk keperluan akhirat, dalam kafannya diletakkan pula "Kitab
Orang    Mati"    lengkap    dengan    nyanyian-nyanyian   dan
peringatan-peringatan. Pada kuil-kuil mereka  dilukiskan  pula
gambar-gambar  timbangan,  perhitungan,  taubat  dan  siksaan.
Orang-orang  India  menggambarkan  jiwa  bahagia   itu   dalam
Nirwana.  Sedang  penitisan  ruh jahat dilukiskan dalam bentuk
makhluk-makhluk yang sejak ribuan dan  jutaan  tahun  tersiksa
sampai   ia  ditelan  oleh  kebenaran,  supaya  menjadi  suci.
Kemudian ia kembali  lagi  melakukan  kebaikan,  karena  ingin
mencapai Nirwana.

Juga orang-orang Majusi di Persia. Mereka tidak menolak adanya
perjuangan yang baik dan  yang  jahat,  Dewa  Gelap  dan  Dewa
Cahaya.  Juga  agama  yang  dibawa  Musa,  agama  yang  dibawa
Kristus, sama-sama melukiskan  adanya  kehidupan  yang  kekal,
adanya  kesukaan  Tuhan dan kemurkaanNya. Sekarang orang-orang
Arab. Tidakkah semua itu pernah sampai kepada  mereka?  Mereka
adalah  pedagang-pedagang  yang dalam perjalanan mereka pernah
mengadakan hubungan dengan agama-agama  itu  semua.  Bagaimana
mereka  tidak  mengenalnya?  Bagaimana  tidak mungkin itu akan
menimbulkan suatu persepsi khusus pada mereka?  Mereka  adalah
orang-orang  pedalaman  yang  banyak sekali berhubungan dengan
alam lepas tak terbatas. Lebih mudah  bagi  mereka  melukiskan
ruh-ruh  yang  terdapat  dalam  wujud ini, menjelma pada siang
hari yang terang  menyala  atau  pada  senja  menjelang  malam
gulita.  Ruh-ruh yang baik dan yang jahat, ruh-ruh yang mereka
anggap  bersemayam  dalam  diri  berhala-berhala   yang   akan
mendekatkan mereka kepada Tuhan itu.

Jadi  sudah  tentu  mereka  juga mempunyai konsep tentang alam
gaib yang ada di sekitar mereka. Akan tetapi,  mereka  sebagai
masyarakat  pedagang,  jiwa  mereka  lebih cenderung pada yang
nyata   saja.   Juga    karena    kegemaran    mereka    hidup
bersenang-senang,  minum  minuman  keras,  sama  sekali mereka
menolak adanya balasan hari kemudian. Apa yang diperoleh orang
dalam  hidupnya,  menurut  anggapan  mereka,  baik  atau buruk
adalah balasan atas perbuatannya. Dan  tak  ada  balasan  lagi
sesudah   hidup   ini.  Oleh  karena  itu  wahyu  yang  berisi
peringatan  dan  berita  gembira  pada  mula   kerasulan   itu
kebanyakannya  turun  di  Mekah; karena ia ingin menyelamatkan
ruh mereka, tempat Muhammad diutus itu. Sudah sepatutnya  pula
bila ia mengingatkan mereka atas dosa dan kesesatan yang telah
mereka lakukan  itu.  Sudah  sepatutnya  pula  bila  ia  ingin
mengangkat  mereka  dari  lembah  penyembahan  berhala  kepada
penyembahan Allah Yang Tunggal, Maka Kuasa.

Demi keselamatan rohani keluarga dan umat manusia  seluruhnya,
Muhammad  serta  orang-orang  yang beriman sudi memikul segala
macam siksaan dan pengorbanan, memikul penderitaan rohani  dan
jasmani,  dan  kemudian pergi meninggalkan tanah tumpah darah,
menjauhi permusuhan sanak-keluarga, yang  sepintas-lalu  sudah
kita  lihat  di  atas.  Dan  seolah cinta Muhammad makin dalam
kepada  mereka,  makin  besar  hasratnya  ingin  menyelamatkan
mereka, setiap ia mengalami penderitaan dan siksaan yang lebih
besar  lagi  dari  mereka  itu.  Hari  Kebangkitan  dan   Hari
Perhitungan  adalah  ayat-ayat yang harus diperingatkan kepada
mereka  guna  menolong  mereka  dari  penyakit  paganisma  dan
gelimang   dosa  yang.menimpa  mereka  itu.  Pada  tahun-tahun
permulaan itu tiada henti-hentinya  wahyu  memperingatkan  dan
membukakan mata mereka.

Sungguhpun begitu mereka tetap gigih tidak mau mengakui, tetap
menolak, sampai-sampai  mereka  terdorong  mengobarkan  perang
mati-matian.  Bahaya  dan  bencana  peperangan  itu baru padam
sesudah   Islam    mendapat    kemenangan,    sesudah    Allah
menempatkannya diatas segala agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s